Lucky Acub Zainal tak kuasa menahan emosi. Dia menengadah dan melempar pandangan ke atas. Lucky, yang mengalami kebutaan sejak 2005, seperti ingin melihat jenazah Acub Zainal, ayahnya, perlahan-lahan diturunkan ke liang lahat di Taman Makam Pahlawan Kalibata.
Acub Zainal telah pergi. Tokoh sepak bola itu pada Sabtu, 4 Oktober, dinihari pukul 02.20 meninggal di kediamannya di Jalan Berlian 1 Nomor 20, Cilandak. Acub Zainal dengan pangkat terakhir Brigadir Jenderal TNI (Purnawirawan) pergi dalam usia 81 tahun–lahir pada 19 September 1927–dan meninggalkan empat orang anak, yaitu Reinny, Iwan, Lucky, dan Happy.
Acub Zainal lebih dikenal sebagai tokoh sepak bola ketimbang kiprahnya di pemerintahan. Ketika menjadi Gubernur Irian Jaya (sekarang Papua) periode 1973-1978, nama almarhum menjadi harum ketika membawa Persipura menjadi juara Perserikatan 1976. Waktu itu, Acub Zainal menjadi orang yang paling dicintai masyarakat Irian Jaya.
Acub Zainal–kami, para wartawan, memanggilnya dengan sebutan Jenderal–adalah salah satu pendiri Galatama, kompetisi sepak bola semiprofesional yang diluncurkan pada 8 November 1978. Dia mendirikan klub Galatama Perkesa 78 dan Arema Malang yang dikelola Lucky.
Almarhum pernah menjadi salah satu Ketua PSSI pada era kepengurusan Kardono (1983-1987 dan 1987-1991). Bersama Andi Darussalam Tabusalla, Acub Zainal memimpin Galatama. Acub sebagai administrator dan Andi sebagai sekretaris.
“Dia guru, dia pemimpin berkarakter,” kata Andi.
Jenderal dikenal sebagai salah satu tokoh yang gigih memperjuangkan mutu kompetisi Galatama. Selama delapan tahun, tim nasional, yang bermateri pemain-pemain yang terjun dalam kompetisi Galatama, mencatat empat prestasi fenomenal: juara subgrup babak kualifikasi Piala Dunia 1986 Zona Asia, semifinalis Asian Games 1986, serta peraih medali emas SEA Games 1987 Jakarta dan SEA Games 1991 Manila.
Kemarin, sebelum upacara pemakaman, para pengantar masih bercerita seputar kiprah Jenderal ketika masih menjadi pengelola sepak bola nasional. Ketua Badan Tim Nasional Rahim Soekasah, mantan manajer tim nasional SEA Games Singapura 1993 Andrie Amin, pengurus PSSI Max Boboy, bersama beberapa rekan wartawan senior kembali mengenang Acub Zainal. “Dia orang yang keras,” kata Max Boboy.
Sikap keras Jenderal yang digambarkan Max Boboy adalah ketika Acub Zainal menjabat Ketua Tim Penyelidikan Penanggulangan Masalah Suap. Waktu itu, Jenderal menghadapi sekaligus memberangus hantu-hantu suap yang masuk ranah sepak bola.
Jenderal, selamat jalan…
(Koran Tempo, Minggu, 5 Oktober 2008)
Tag: acub zainal, andi darussalam tabusalla, andrie amin, arema malang, galatama, kardono, lucky acub zainal, max boboy, perkesa 78, rahim soekasah
Oktober 12, 2008 pukul 1:37 pm |
di jawa pos, minggu 5 Oktober 2008 saya menulis jenderal Acub Zaenal dengan judul dan isi yang hampir sama dengan tulisan sampeyan. tapi, sampeyan menulis lebih indah pak
Oktober 16, 2008 pukul 4:07 pm |
Tentang PSSI kemudian, kita hanya bisa mengelus dada
Kemunafikan merajalela, melumat di setiap lini
Kita butuh seorang Nekhlyudov dalam novel Kebangkitan karya novelis cerdas Rusia, Leo Tolstoi. Berkatalah Nekhlyudov: Akan kurobek-robek kebohongan yang menjerat diriku
Dan kepada semua orang akan kunyatakan kebenaran
Juni 23, 2009 pukul 6:55 am |
Dibutuhkan acub zainal baru guna membangun sepak bola Indonesia