Tag

, , , , , , , ,

Yon Moeis
Surat dari Kuala Lumpur (3)

Wanita berkulit putih dan bermata sipit itu sesekali melepas pandangan ke depan. Sementara, teman duduknya, seorang lelaki bule nampak menghabiskan kopinya. Di sebuah kedai kopi di ruangan terbuka di Jalan Bukit Bintang, keduanya langsung berdiri setelah membayar apa yang sudah dinikmati.

Tak jauh dari tempat mereka duduk, terdapat Planet Hollywood yang menambah semarak kehidupan malam di kawasan Bukit Bintang. Keduanya pun menghilang ditelan malam.

Bukit Bintang adalah kawasan elite yang menghidupkan kehidupan malam Kuala Lumpur. Selain Bukit Bintang, pusat hiburan malam juga terdapat di sekitar Jalan Tun Razak, Bangsar, Jalan Sultan Ismail, belakang Pasar Budaya dan Brickfields. Selain itu, Taman Jurassic sudah dikenal lama di Jalan Raja Laut. Taman ini, sudah disinyalir sebagai tempat berkumpulnya para gay dan lesbian.

Kehidupan malam di KL tak akan pernah lengkap tanpa dadah atau narkoba. Ekstasi yang lebih dikenal dengan sebutan esay, sudah jauh lebih dahulu tiba di Malaysia. Anak-anak muda KL dan beberapa kota lain yang letaknya tak jauh dari Ibukota Malaysia itu, bertebaran di diskotek yang bila dicari seperti ada dan tiada. Malaysia, agaknya, malu-malu telah memberi izin hiburan malam itu. Kenyataan ini bisa terbukti dengan kerasnya pemerintah Malaysia terhadap dadah. Di tembok samping Penjara Pudu, misalnya, terdapat tulisan ‘Kamu akan mati di tiang gantung dan ini suatu kecelakaan bagi keluargamu dan bagi siapa saja yang mengedarkan dadah di Malaysia’. Ini bukti betapa kerasnya Malaysia terhadap peredaran narkoba di rumahnya.

Namun, barang haram tetap saja dinikmati. Jam (triping di Indonesia) adalah istilah anak-anak muda Malaysia jika ingin menikmati ekstasi. Jika ada larangan tak boleh di diskotek, mereka menggelar konser musik di luar kota. Di sanalah mereka menikmati obat-obat hayal itu, termasuk Black Sesame yang kini sudah beredar di Malaysia.

Black Sesame adalah nama baru obat yang mengundang halusinasi sejenis ekstasi. Di Cina, Black Sesame bernama Haak Ji Ma atau Fing Ba dan awal Januari lalu, obat itu sudah beredar di Hong Kong. Daya hayal obat yang berwarna hitam dan ukurannya tak lebih dari lada hitam itu, lebih panjang dibanding ekstasi. Black Sesame mampu membawa pemakainya ke alam hayal selama 12 jam.

Anak-anak muda Malaysia, terutama di Kuala Lumpur, sudah mengenal Black Sesame. Satu butir obat ini, harganya berkisar 60 sampai 80 ringgit atau hampir Rp 200 ribu. Dibanding obat-obat yang beredar di kawasan Kota, Black Sesame lebih mahal. Karena itu, obat ini hanya dinikmati anak-anak pejabat di KL.

Black Sesame-masuk tingkat IV jenis heroin yang mengandung LSD (Lysergic Acid Diethylamide) hanya beredar di diskotek yang bertebaran di KL terutama di Jalan Bukit Bintang. Kawasan ini, merupakan kawasan elite di Kuala Lumpur atau hiburan malam bagi anak-anak muda berkantong tebal. Tapi, bagi pendatang baru, jangan harap Anda bisa dengan mudah mendapatkan obat ini. “Penjualnya tak lepas barang itu jike tak kenal, jike kelompoknya, boleh lah,” kata Anwar, seorang rekan Indonesia yang telah menjadi warga Malaysia.

Bertalian dengan kehidupan malam di KL, Sabtu lalu, Timbalan Pengarah Jabatan Narkotik Bukit Aman telah menangkap tiga orang, satu diantaranya wanita, yang akan membawa pergi barang haram itu dari Kuala Lumpur International Airport (KLIA). Mereka yang berangkat dari Fiber Indah Apartemen di Taman Desa, dibekuk di bandara dengan barang bawaan senilai RM 3,1 juta. Barang yang akan di bawa ke Eropa itu, 5,5 Kg ketamina, 9.650 butir ekstasi, 70 gram shabu dan 8.500 butir Black Sesame.

Black Sesame tak jadi dibawa pergi keluar Malaysia. Lantas, dimana barang itu? Atau jangan-jangan sudah berdedar di Bukit Bintang.

(Koran Tempo, 14 September 2001)