Tag

, , , , ,

Yon Moeis
Wartawan Tempo

tribun-ilus-or.jpg Mata Bambang Nurdiansyah belum juga terpejam. Udara dingin yang jatuh malam itu tak mampu memaksanya untuk segera tidur. Alih-alih tertidur lelap, pikirannya justru menerawang ke Kota Malang, kota yang berjarak 15 kilometer dari Kota Batu, tempat ia biasa bermalam jika ada urusan sepak bola. “Akhirnya gue balik lagi ke Malang,” katanya.

Ya, Bambang telah kembali lagi ke Malang. Anak kolong ini kembali ke kota orang tuanya yang berudara sejuk itu. Ayahnya, Moch. Sidik, dahulu adalah tentara yang membesarkan Bambang (rumahnya di Jalan Kelud), dengan penuh aturan-aturan, keras, dan disiplin. Bambang sendiri lahir di Banjarmasin, 28 Desember 1959, ketika ayahnya bertugas di sana.

Untuk urusan sepak bola, kedatangan Bambang ke Malang bukan yang pertama kali. Tapi yang bertalian dengan Arema Malang ini kali yang kedua. Jauh sebelum Bambang dipercaya menukangi Singo Edan, julukan Arema, untuk musim kompetisi 2008 ini, dia pernah memperkuat klub kesayangan masyarakat Malang itu untuk setengah musim pada kompetisi Galatama 1988/1989. Waktu itu Acub Zaenal, Ketua Galatama yang juga pemilik Arema, meminjam Bambang dari Pelita Jaya, klub milik Nirwan D. Bakrie. “Gue dipinjam untuk mengangkat Arema,” kata Bambang. Waktu itu Manajer Arema adalah Lucky Acub Zaenal.

Sejak itu, Arema Malang tidak hanya diperhitungkan klub-klub lain, tapi juga pertandingannya mulai dibanjiri penonton. Pada musim kompetisi sepak bola semiprofesional itu, Arema kemudian menjadi juara pada 1992/1993. “Tugas yang menantang ketika gue diminta menjadi pelatih Arema,” kata Bambang. Kembalinya Bambang ke Malang dan menjadi pelatih di kota itu bukanlah sesuatu yang istimewa. Ini merupakan peristiwa biasa. Seperti seseorang diangkat menjadi pelatih dan kemudian ditendang jika dianggap tidak berhasil mengangkat tim.

Hanya, sebagai kawan, saya berharap Bambang semakin matang me-manage Arema, yang saya tahu dia punya kemampuan untuk itu. Juga semakin matang bagaimana menghadapi pers yang ikut menuntun kariernya. Bambang pasti tahu pers bisa mengangkat sekaligus menjatuhkannya ke jurang yang paling dalam sekalipun. Tidak usah pula dia seperti Fabio Capello, misalnya. Tapi Capello yang begitu cerdas menghadapi berondongan pertanyaan pers Inggris setelah Direktur Eksekutif Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA) Brian Barwick memperkenalkan dirinya, pada Desember tahun lalu, bisa menjadi contoh. Don Capello tak lantas ciut hati ketika Max Clifford, pakar kehumasan Inggris, mengingatkan bahwa dirinya sudah memasuki kawasan perang.

Bambang yang kini menjadi pelatih Arema juga sekaligus memasuki kawasan perang. Dia tak boleh mengatakan pers hanya pandai mengkritik. Kalimat-kalimatnya harus semakin teratur, cerdas, dan dewasa. Tak hanya itu, dia juga harus mampu memahami kritik dan caci maki pers, yang secara tidak langsung semakin membesarkan namanya.

Udara dingin masih menyelimuti Kota Batu. Bambang Nurdiansyah, pelatih Arema itu, sudah tertidur lelap.

(Koran Tempo, Minggu, 24 Februari 2008, Ilustrasi Gaus Surahman )