Tag

, , , , , , , , , , ,

Yon Moeis
Wartawan Tempo

Boy Bolang membiarkan matanya berkaca-kaca. Dia tidak beranjak dari kursinya dan membiarkan tubuhnya seperti membeku. Tampaknya Boy tak mampu menahan emosi. Dadanya terasa sesak. Sementara itu, sekitar 12 ribu penonton memekik sejadi-jadinya. Istora Senayan bergetar seakan hendak runtuh ketika Ellyas Pical dinobatkan sebagai juara dunia kelas bantam junior IBF pada Jumat malam, 3 Mei 1985. Petinju asal Saparua itu merebut sabuk gelar juara milik Judo Chun setelah menganvaskan petinju Korea Selatan itu di ronde kedelapan.

Peristiwa yang terjadi 23 tahun itu pasti tak akan terlupakan. Boy menangis bukan lantaran dia mengeluarkan Rp 100 juta dan sebuah cincin berlian untuk Ellyas Pical. Ia menangis karena telah mencetak sejarah tinju Indonesia dengan tinta emas. Boy yang kemudian disebut promotor flamboyan (julukan ini diberikan wartawan Valens Goa Doy) tak hanya melahirkan Ellyas Pical sebagai juara dunia pertama di Indonesia, tapi juga membuka peluang anak-anak muda pada saat itu ingin menjadi petinju. Seperti tak satu pun mampu membendung air matanya, seperti itu pula dunia tinju Indonesia kebanjiran peminat.

Saya tak akan pernah melihat Boy ketika Chris John menghentikan Roinet Caballero pada Sabtu malam, 26 Januari lalu. Dengan bayaran Rp 2 miliar (Ellyas Pical hanya Rp 100 juta) Chris John menyudahi perlawanan petinju Panama itu dalam pertarungan wajib kelas bulu WBA. Penonton bersorak, memekik, sekalipun tak sedahsyat ketika Ellyas Pical menjadi juara dunia. Saya seperti merasakan Boy ada di sana. Padahal dia telah pergi meninggalkan kita pada Jumat, 16 April 2004, dalam kesendirian.

Boy dan Chris John adalah totalitas tinju profesional Indonesia. Juga ketika Zaenal Tayeb, promotor yang memanggungkan Chris John dalam perhelatan tinju yang berbeda. Pengusaha Bali itu telah memberikan apresiasi penuh terhadap tinju profesional. Tinju bayaran yang dikenal sebagai tontonan pasar malam (dengan bayaran Rp 100 atau Rp 200 ribu bagi sang petinju), saya berharap kelak berada di kelas yang berbeda.

Denada Tambunan. Ah, si centil itu saya lihat berada di sana. Di ring tinju di Istora Senayan itu dia tentu saja paling cantik. Sebagai ring announcer, Denada sanggup memecah kebekuan dan ketegangan penonton sebelum benar-benar menyaksikan Chris John. Denada tampil pada saat yang tepat. Di dunia tinju dia bukan orang jauh. Rio Tambunan, ayahnya, adalah pemilik Sasana Garuda Jaya. Simson Tambunan, pamannya, adalah pelatih yang menangani Ellyas Pical ketika merebut sabuk gelar juara dari Judo Chun. Bang Simson, begitu saya memanggilnya, pernah juga menangani Nico Thomas ketika meraih gelar kelas terbang mini IBF dari tangan Samuth Sithnaruepol, petinju Thailand, 17 Mei 1989. Kedua tokoh ini juga telah pergi. Bang Simson wafat pada 17 Mei 2005 akibat stroke yang tak mampu dia lawan.

Soal totalitas saya tak boleh melupakan Daniel Bahari. Kami pernah ngobrol hingga larut malam di Sasana Cakti Bali di Jalan Astasura, Peguyangan, Denpasar, Bali. Sambil menyantap bebek bakar masakan Daniel, obrolan seputar tinju profesional itu kembali kami lanjutkan di Restoran Si Pino di kawasan Sanur. Daniel tak hanya bangga melahirkan Pino Bahari sebagai juara Asian Games Beijing 1990, tapi juga anak-anaknya yang lain ke dunia tinju. Fransisco Lisboa, Alexander Wassa, dan Adi Swandana adalah sedikit nama dari petinju-petinju yang dilahirkan Daniel.

Totalitas juga saya lihat pada diri Jhonny Riberu, mantan pelatih Ellyas Pical, dan juga Finon Manullang, orang yang tak henti-hentinya menulis tentang tinju (telah menulis lebih dari 500 judul di berbagai media daerah dan nasional serta sejumlah buku). Dua teman ini, saya tahu, sangat mencintai tinju dan selalu mengikuti perkembangan tinju profesional Indonesia. Dari dua teman ini pula saya memahami apa yang disebut totalitas itu. Boy, Ellyas Pical, Chris John, Simson, dan Daniel adalah sedikit nama yang telah menghiasi ring tinju profesional Indonesia. Tapi kita juga tak boleh melupakan sekian banyak petinju yang tewas. Agus Souissa, Wahab Bahari, Bongguk Kendy, Akbar Maulana, dan Jack Ryan. Mereka adalah beberapa nama yang pergi ketika sedang mencari nafkah di atas ring untuk keluarga.

Yang masih terbayang adalah ketika Rahman Kili Kili memilih jalan kematiannya. Petinju kelahiran Bitung, Sulawesi Utara, 15 Oktober 1974, itu tewas tergantung di rumah pamannya di Lorong Haji Anam Talangbetutu, Palembang, Kamis 23 Februari 2007. Rahman Kili Kili pergi karena ring tinju bayaran tak lagi mampu menghidupinya.

(Koran Tempo, Minggu, 3 Februari 2008)