Yon Moeis ilus-roger-milla.jpgWartawan Tempo

Di manakah kini Roger Milla berada? Jika pertanyaan ini muncul 13 tahun lalu, sangat mudah menjawabnya. Lelaki berhati singa tersebut, saat itu, sedang bermain untuk Pelita Jaya. Albert Roger Miller, begitu nama Milla ketika dilahirkan di Yaounde, 25 Mei 1952, mengawali kedatangannya ke Indonesia tidak hanya mempertontonkan goyangan seperti yang dia perlihatkan di Piala Dunia Italia 1990 begitu tiba di Bandar Udara Soekarno-Hatta pada awal 1995. Namun, dia juga memperlihatkan cintanya untuk sepak bola kita.

Meski namanya saat itu sudah memudar, Milla harus diakui telah mewarnai sepak bola kita. Dia tak hanya memperkuat klub milik Nirwan D. Bakrie itu, tapi juga memperkuat Putra Samarinda sebelum namanya benar-benar tenggelam. Milla, yang kembali muncul ketika bersama Johan Cruyff menghadiri undian Piala Dunia 2006 di Jerman, benar-benar pemain asing yang berkelakuan baik. Kita boleh saja tak tahu di mana kini Milla berada. Tapi kita tak boleh lupa bahwa ia pernah menancapkan hati dan cintanya untuk sepak bola Indonesia, seperti banyak anak-anak muda dari Benua Hitam yang kini bertebaran di klub di Indonesia. Tapi benarkah mereka datang ke negeri ini dengan cinta seperti yang dibawa Roger Milla?

Pemain asing, suka atau tidak, kini sedang diperbincangkan jika tidak disebut sudah menjadi polemik yang berkepanjangan. Keributan yang meledak di lapangan pada musim kompetisi lalu kebanyakan disulut oleh pemain asing. Mereka, tanpa malu-malu lagi, melakukan aksi yang sangat tidak pantas. Aksi yang tanpa disadari yang membuat mereka hanya punya satu pilihan: pergi dari Indonesia.

Tanpa bermaksud membela, tidak semua pemain asing bermental buruk. Kita tentu masih melihat ada pemain asing yang bermental baik. Zah Rahan Krangar dan James Koko Lomel, dua pemain berkulit hitam, adalah contoh yang baik itu. Zah Rahan, gelandang Sriwijaya FC, yang terpilih menjadi pemain terbaik Liga 2007 itu benar-benar cerdik dan tahu ke mana dia membawa namanya. Koko Lomel memang bukan yang terbaik. Tapi saya melihat hati dan cintanya ketika Lomel menenggelamkan kepala ke rumput lapangan Stadion Jalak Harupat Soreang, Kabupaten Bandung, seusai final Liga antara Sriwijaya dan PSMS Medan, 10 Februari lalu. Dia begitu menyesal tak mampu membawa PSMS ke tangga juara. Dia meninggalkan lapangan dengan air mata yang meleleh.

Jika boleh menuduh, agen pemainlah yang bertanggung jawab jika ada aksi-aksi brutal dari pemain asing. Mereka, para agen itu, hendaknya tak hanya menjual pemain, tapi juga menanamkan rasa cinta kepada pemain yang dijualnya. Seperti yang terlihat hubungan cinta yang terjalin antara Tom Cruise dan Cuba Gooding Jr. dalam film Jerry Maguire, seperti itu pula cinta yang dibawa Roger Milla ketika hendak bermain di Indonesia, padahal di hatinya berdiam seekor singa.

(Koran Tempo, Minggu, 17 Februari 2008, Ilustrasi Gaus Surahman)