Yon Moeis
Wartawan Tempo

Nugraha Besoes keluar dari ruang kerjanya. Wajahnya terlihat kusut. Saya melihat seperti ada batu besar memberati kepalanya. Dia berusaha menyembunyikan beban yang menghimpit yang saya tahu Kang Nug, begitu saya memanggilnya, tidak sanggup menahannya. “Berhenti atau terus,” katanya seperti ingin menyerah.Memang tak ada pilihan bagi Nugraha yang sudah menduduki jabatan Sekretaris Jenderal PSSI sejak 1983 (dahulu Sekretaris Umum). Dia harus memilih. Berhenti atau terus. Jika berhenti, tidurnya pasti nyenyak. Jika memilih terus, dia tak boleh lari dari kenyataan semakin carut marutnya sepak bola Indonesia. Seperti saya melihat pada raut wajahnya, seperti itu pula saya melihat kondisi sepak bola kita: kusut dan tak berdaya

Pemindahan partai final Liga Djarum Indonesia 2007 dari Stadion Gelora Bung Karno ke Stadion Jalak Harupat Soreang, Kabupaten Bandung, bukti dari kekusutan dan ketidakberdayaan PSSI sebagai pemegang otoritas sepak bola nasional. Keputusan memindahkan partai puncak Liga itu adalah keputusan yang tidak gentle. Mereka hanya memindahkan persoalan dari Jakarta ke Bandung. Tidak lebih dari itu

Saya setuju jika ada desakan pembenahan dari orang-orang pintar di Senayan sana. Saya pasti menyambut baik jika Adhyaksa Dault, Menteri Negara Pemuda dan Olahraga, bereaksi keras menyikapi berbagai persoalan yang ada di sepak bola kita. Tapi, jika ada keputusan akhir, keputusan itu harus berdasarkan perdebatan panjang. Keputusan apa pun, apalagi yang terasa pahit, pasti mengundang ketidakpuasan. Tapi keputusan itu hendaknya bisa diarahkan untuk tidak merugikan banyak orang

Semula saya sangat berharap kepada Komite Eksekutif PSSI ketika akhir-akhir ini sepak bola kita semakin bermasalah. Mereka hendaknya menjemput bola ketika Pak Menteri mengancam menghentikan kompetisi di Tanah Air setelah mendengar suporter Persija tewas pada Rabu malam 6 Februari lalu. Mereka harus memberi pengertian, kepada siapa pun, juga kepada Adhyaksa Dault, bahwa sepak bola tidak bisa dilihat sepotong-sepotong. Tapi, apa yang terjadi, mereka seolah membiarkan reaksi itu menjadi polemik yang berkepanjangan.

Saya tidak tahu lagi yang ada dalam otak para eksekutif itu. Jangan-jangan pada musim hujan ini hanya membuat mereka menarik selimut dalam-dalam. Mereka hanya berani menghadapi persoalan kecil, sebut saja, persoalan hukuman pemain asing.

Jika mereka lari menghadapi persoalan besar, bisa jadi sebagian dari Komite Eksekutif ini bekerja berdasar kepentingan saja. Mereka yang selama ini mampu membuat tekanan-tekanan kepada Nurdin Halid, kenapa tidak menahan sang ketua yang masih berada di penjara ini membuat keputusan final. Nurdin hendaknya tidak bisa semena-mena membuat keputusan sendiri. Penentuan format kompetisi tidak bisa diputuskan dalam segejap dengan penuh emosinal. Dia harus sadar dinginnya tembok penjara tidak lantas mendinginkan otaknya. Di sinilah tugas para eksekutif itu.

Saya masih melihat seperti ada batu besar di kepala Nugraha Besoes ketika melangkah ke mobilnya. Dia terlihat lelah. “Peristiwa 6 Februari lalu membuahkan hasil yang tidak menyenangkan bagi sepak bola Indonesia,” katanya.

(Koran Tempo, Minggu, 10 Februari 2008)