Yon Moeis
Wartawan Tempo

ilustrasi.jpgSophan Sophiaan tertunduk. Wajah aktor itu mencerminkan suasana hatinya yang sedang berduka. Dia terdiam ketika sahabatnya, Soetjipto Suntoro, perlahan-lahan dikebumikan di pemakaman Tanah Kusir. “Dia sahabat yang menyenangkan,” katanya.

Soetjipto Suntoro, yang dikenal dengan sebutan Gareng, telah lama pergi. Dia pergi meninggalkan orang-orang-orang yang dia cintai, juga para sahabatnya, pada 12 November 1994.

 

 

 Meski air mata Sophan tak membasahi tanah pemakaman, terlihat sekali dia sedang kehilangan. Pada saat tak mampu mengucapkan satu kalimat, dia berhasil menempatkan sahabatnya itu di hatinya untuk kelak tetap dikenang. “Dia pernah meminjamkan saya sepatu bola. Dia sudah pergi,” kata Sophan.

Mas Tjipto, begitu saya memanggilnya, adalah orang yang tidak boleh dilupakan. Dia adalah pemain besar dengan berbagai julukan. Dia pernah disebut macan bola, superstar, dan seniman bola, yang kini sudah melegenda. Namanya terpatri di hati orang-orang yang mengenalnya. “Dia memang ngangenin,” kata Iswadi Idris. Iswadi, yang hingga Jumat lalu sedang menjalani perawatan di Rumah Sakit MMC Kuningan, adalah salah satu sahabat Gareng.

Soetjipto yang dirindukan itu adalah potret kesederhanaan pemain sepak bola. Dia adalah pemain bola jalanan di kawasan Kebayoran Baru yang ditemukan Djamiat Dahlar, yang kemudian dipoles Toni Pogacnik. E.A. Mangindaan dan drg Endang Witarsa adalah dua dari banyak pelatih yang menyukai Gareng. Soetjipto pula yang menjadi anak kesayangan T.D. Pardede, pemilik klub Pardedetex di Medan.

Soetjipto bermain untuk Persija Jakarta ketika berusia 16 tahun. Dia memperkuat tim nasional dalam lawatan ke berbagai negara di Eropa. Dia juga menjadi kapten tim nasional ke Asian Games Bangkok 1970 dan terpilih memperkuat Asian All Star di Singapura.

Sudah 13 tahun Soetjipto meninggalkan kita. Dia pergi tidak membawa apa-apa kecuali meninggalkan nama besarnya. Nama besar yang tak akan pernah hilang di hati orang-orang yang mencintainya. “Dia tak meninggalkan harta kecuali prinsip-prinsip hidup yang harus saya jalani,” kata Bisma Soetjipto, anak lelakinya.

Saya merasakan suara Mas Tjipto ketika mendengar kalimat-kalimat yang keluar dari mulut Bisma. Bisma ikut merasakan perjuangan orang yang dia cintai itu yang hampir empat tahun berjuang melawan kanker lever yang menggerogoti tubuhnya. “Semangat dan perjuangan untuk hidup dari Bapak itu pula yang saya tiru sekarang ini,” katanya.

Bisma bersama Tantri (Vice President Bank Danamon), dua anak Soetjipto, sangat merasakan apa yang ditinggalkan orang tuanya itu. Bisma masih menyimpan pesan bapaknya. “Kamu punya harta banyak tak ada artinya di mata saya jika tidak bisa menolong orang,” kata Soetjipto kepada Bisma ketika orang yang dicintainya itu menutup mata.

( Koran Tempo, 02 Maret 2008, Ilustrasi Gaus Surahman )