Yon Moeis
Wartawan Tempo

Wishnu Wardhana menyeringai kesakitan. Dia baru saja ditebas pemain belakang lawan. Ada yang memprotes dan mengatakan itu adalah pelanggaran. Tapi wasit tidak meniup peluit dan pertandingan terus berlangsung.

Wishnu yang kesakitan itu bukan pemain nasional. Dia juga bukan bagian dari sepak bola kita yang saat ini sedang terhenti (kompetisi baru dimulai Juli mendatang). Dia adalah pengusaha muda–lahir di Samarinda, 18 Oktober 1970–yang setiap Sabtu sore main bola bersama para wartawan sepak bola. Kadang dia berada di tim biru, kadang pula memperkuat tim merah.

Kehadiran Wishnu di lapangan sepak bola tim nasional di kawasan Gelora Bung Karno itu memang tidak terlalu penting. Salah satu pemegang saham kelompok usaha Mahaka ini hanya main bola, mencari keringat, dan segera pulang. Tak lebih dari itu. Atau seperti yang pernah dia katakan, “Sepak bola bisa menjauhkan seseorang dari stres.”

Wishnu memang tidak sedang menjauh dari stres yang menghantui orang-orang seperti dirinya. Dia juga tidak sedang membawa persoalan ke Senayan. Dia nyaman-nyaman saja berada di lingkungan para pekerja pers itu. Sekalipun ada wartawan yang membawa istri dan anak-anaknya.

Kehadiran Wishnu, sekali lagi, tidak lebih penting ketimbang banyak pelajaran yang dipetik para wartawan sepak bola yang belakangan semakin berani saja menulis. Wishnu, yang pernah menjadi manajer tim sepak bola PSSI Pers (juara Porwanas Samarinda 2007), secara tidak langsung mengajarkan wartawan bagaimana menyikapi peristiwa yang terjadi di lapangan.

Wishnu yang dihantam itu tenang-tenang saja. Dia tidak terlihat marah. Juga tidak mengajukan protes. Wishnu pasti tahu banyak yang mengatakan bahwa dia berada pada waktu yang tepat untuk dihentikan pemain belakang lawan. Peristiwa ini persis ketika dia diterjang wartawan Tempo, Hari Prasetyo, ketika tim sepak bola Koran Tempo bertemu dengan tim PSSI Pers pada turnamen ngabuburit mini soccer di Lapangan ABC, Senayan, tahun lalu. Wishnu terguling-guling. Tapi dia kembali bangun dan tersenyum.

Kasus diterjangnya Wishnu bisa menjadi contoh ketika rekan-rekan pers tidak lagi sekadar menulis apa yang dilihat dan didengar. Juga tidak sekadar menganalisis. Tapi tulisan yang disampaikan ke pembaca sudah semakin dalam, semakin tajam, dan semakin cerdas. Istilah “ayam sayur” dan “macan kertas” yang pernah dipakai para senior dulu sudah tidak laku lagi dijual.

Saya dan Suryopratomo (jauh sebelum menjadi Pemimpin Redaksi Kompas, Tommy–panggilan Suryopratomo–adalah wartawan sepak bola) pernah terkena imbas pemakaian istilah “ayam sayur” ketika meliput pertandingan Pelita Jaya dan PKT Bontang di Stadion Lebak Bulus pada kompetisi Galatama musim 1991/1992. Manajer PKT, waktu itu, terlihat marah besar pasukannya diibaratkan ayam yang tak berdaya. Saya dan Tommy langsung kabur. Kami mengurungkan niat mewawancarai manajer klub kesayangan masyarakat Bontang itu, yang saya tahu dia adalah tentara.

Saya melihat kedewasaan teman-teman ketika ikut menikmati sore bersama Wishnu Wardhana. Kedewasaan yang tecermin dalam setiap kalimat yang hendak mereka tulis. Di sana saya juga melihat teman-teman lama yang saya tahu memiliki integritas sebagai wartawan yang mencintai pekerjaannya, sebut saja Deddy Reva Utama (Manajer Sport ANTV), Hardimen Koto (General Manager Four Four Two), Kesit B. Handoyo (Wakil Pemimpin Redaksi Topskor), juga Tubagus Adhi (anggota Komite Media PSSI), yang belakangan ini selalu tampil beda. Saya juga melihat Eddy Syahputra, pemilik agen pemain Ligina Sportindo.

Sore bersama Wishnu adalah sore yang sangat menyenangkan.

( Koran Tempo, MInggu, 06 April 2008, Ilustrasi Gaus Surahman )