Yon Moeis
Wartawan Tempo

Matahari hampir tenggelam di lapangan sepak bola Petak Sinkian. Hujan yang turun membasahi lapangan di daerah pecinan di kawasan Kota itu sudah berhenti. Tapi lelaki itu belum juga beranjak. Harum rumput lapangan tua itu seolah menahannya untuk tidak segera pergi.

Fam Tek Fong, nama lain dari Hadi Mulyadi, lelaki berusia 65 tahun itu, memang belum pergi dari sana. Lapangan yang dulu adalah kebun singkong ini–Petak Sinkian sudah ada sejak 1913–tidak hanya menjadikan Tek Fong sebagai pemain nasional. Tapi, di sana, dia juga mengenal pelatih bertangan dingin bernama Drg Endang Witarsa (dulu dikenal dengan panggilan Liem Soen Joe).

Dokter Endang, yang disebut Tek Fong sebagai guru besar itu, telah pergi. Legenda yang telah banyak mencetak pemain nasional itu pada Rabu, 2 April lalu, meninggal dunia dalam usia 92 tahun.

Saya tak hendak mengganggu Tek Fong ketika kembali mampir ke Petak Sinkian pada Kamis sore lalu itu. Saya mendengar suara hati Tek Fong yang mengatakan Dokter Endang masih di sana. Dua meter dari tempat kami duduk di tribun lapangan yang bangkunya sudah banyak yang tanggal dan keropos itu, terdapat meja dan kursi di mana Dokter Endang biasa duduk setiap kali berada di Petak Sinkian. Dia melatih anak-anak Union Makes Strength (UMS) sambil duduk karena memang Dokter–panggilan lain Drg Endang–tak sanggup lagi berdiri.

Sangat beralasan jika Tek Fong tak bisa melupakan Dokter Endang. Dia adalah satu dari sekian banyak murid terbaik sang dokter. Dan Tek Fong pula orang yang pantas mengatakan Dokter Endang adalah guru besar. Dokter Endang tak hanya menjadikan Tek Fong sebagai libero andal di masanya, tapi juga mengajarkan bagaimana menjalani hidup di luar lapangan. “Dia orang baik. Dia suka membantu orang yang sedang mengalami kesulitan,” kata Tek Fong. “Dia juga pemaaf.”

Tek Fong mengenal Dokter ketika dia berusia 10 tahun. Waktu itu, pada 1953, Tek Fong kecil hampir setiap hari datang ke Petak Sinkian untuk menyaksikan klub UMS berlatih di bawah pimpinan Dokter Endang. Di sana sudah ada Thio Him Tjiang, Djamiaat Dhalhar, Kwee Kiat Sek, Chris Ong, dan Van der Vin (kiper tim nasional Indonesia pada Olimpiade 1956 di Melbourne, Australia).

Tujuh tahun kemudian, pada 1960, Tek Fong diterima masuk UMS setelah Dokter Endang melihat ada “kelebihan” di kakinya. Berbarengan dengan Tek Fong, masuk pula Surya Lesmana, Reni Salaki, Kwee Tik Liong, dan Yudo Hadianto. Tiga tahun kemudian, Dokter Endang dipercaya melatih Persija Jakarta dan Tek Fong ikut serta. Di tim kebanggaan masyarakat Jakarta itu, sudah ada Soetjipto Suntoro, Taher Yusuf, dan Domingus Wawayae (pemain Irian kesayangan Dokter yang kini tinggal di Belanda).

Dokter Endang tak hanya membawa Tek Fong ke Persija, tapi juga ke tim nasional. Berbagai gelar juara dibawa Dokter Endang bersama Tek Fong ke Indonesia, yaitu Aga Khan Bangladesh (1967), King’s Cup Bangkok (1968), Merdeka Games Kuala Lumpur (1969), Anniversary Cup Jakarta (1970), dan Pesta Sukan Singapura (1972).

Tek Fong masih teringat ajaran-ajaran yang diberikan Dokter. Dokter Endang selalu mengingatkan agar Tek Fong bersikap jujur, tidak berbohong, dan memelihara pertemanan dengan baik. Tek Fong baru menyadari pertemanan yang dimaksud ketika Dokter “memindahkan” dia dari Persija ke Pardedetex Medan pada 1969. Dokter sudah berteman dengan T.D. Pardede ketika pengusaha Medan itu mendirikan klub Pardedetex.

Tek Fong tak jauh dari Dokter Endang ketika sang legenda menjalani perawatan hingga akhirnya mengembuskan napas terakhir. Dia menangis ketika ikut merasakan apa yang dirasakan Dokter. Dia tahu persis Dokter Endang, gurunya, sedang menahan kesakitan. Tapi sang Dokter masih sempat-sempatnya menanyakan kondisi lapangan Petak Sinkian.

Dokter Endang Witarsa telah pergi. Tapi Fam Tek Fong, murid terbaiknya, belum juga beranjak. Dia masih ingin berada di Petak Sinkian.

( Koran Tempo, MInggu, 13 April 2008, Ilustrasi Yuyun Nurrachman )