Yon Moeis
Wartawan Tempo

Es teh manis pesanan Donald Wailan Walalangi sudah diantarkan. Obrolan seputar sepak bola berlanjut dan Wailan tetap bersemangat. Meski berpindah-pindah topik, obrolan sepak bola (kami) itu tetap hangat. Apalagi Wailan sesekali menginterupsi obrolan dengan menggoda pramusaji yang mengantarkan minuman.

 Saya tidak satu tahun sekali bertemu dengan Wailan. Pertemuan di Peacock Hotel Sultan (dulu Hilton) menjelang sore pada Selasa pekan lalu itu sangat menyenangkan. Apalagi yang diobrolkan adalah sepak bola dan bukan mengomentari wanita-wanita cantik yang berlalu-lalang di coffee shop yang buka 24 jam itu.

Donald Wailan Walalangi, pada 14 April lalu genap berusia 48 tahun, adalah mantan petenis nasional. Ia pernah tampil di Olimpiade Seoul 1988. Di pesta olahraga dunia itu, ia bermain di nomor ganda putra berpasangan dengan Suharyadi.

Wailan, yang masih memikirkan pengembangan tenis di Indonesia dan suka ngomong soal sepak bola, adalah anggota tim tenis ketika Indonesia menyapu bersih tujuh emas cabang tenis SEA Games Jakarta 1987. Wailan juga, pada 1982, bersama Yustedjo Tarik, Atet Wiyono, Hadiman, Tintus Arianto Wibowo, membawa Indonesia masuk 16 besar dunia Piala Davis setelah melibas Jepang 5-0. Prestasi ini kembali berulang pada 1988 dengan materi pemain Wailan, Tintus, Abdul Kahar M.I.M., dan Suharyadi.

Saya tak ingin menggoda Wailan dengan catatan prestasi di atas. Saya juga tak ingin dia membicarakan tenis yang hanya membuat darahnya mendidih. Emosinya pasti cepat tumpah dan tak tertahankan. Bertemu dengan Wailan, lebih pas saya pancing dia dengan obrolan soal sepak bola. Apalagi, pada pertemuan yang tidak disengaja di resto yang juga menyediakan gado-gado, ketoprak, dan tumis daging itu, datang pula dua rekan lama, yang satu mengaku “agama”-nya sepak bola dan yang satu lagi selalu menyemprotkan minyak wangi sebelum menjadi komentator di stasiun televisi (HK, maaf).

Wailan, yang lebih banyak bicara dan menyelipkan kalimat-kalimat dalam bahasa Inggris, terlihat tidak nyaman ketika obrolan dimulai dari nasionalisme atlet yang semakin lama semakin terkikis. Wailan seketika menceritakan bagaimana dia menegur pemain nasional yang tampil asal-asalan di SEA Games Jakarta 1987. Dia juga merasa kesal melihat penjaga gawang tim nasional yang tidak cepat membelokkan bola ke luar, tapi malah ke dalam gawangnya sendiri.

Saya tahu Wailan ingin mengatakan bahwa atlet adalah orang yang dilahirkan, bukan dikarbit. Dia pasti ingat bagaimana Tony Pocacnik menemukan Subodro di pinggir jalanan di dekat Kota Pasuruan. Juga bagaimana drg Endang Witarsa menemukan Abdul Kadir di Bali. Wailan tidak membantah ketika saya mengatakan atlet-atlet, terutama pada zamannya, adalah atlet pilihan.

Topik lain yang kami obrolkan adalah Persija Jakarta. Entah sengaja atau tidak, kami sepakat Macan Kemayoran tidak akan menjadi juara pada musim kompetisi ini. Komposisi pemain kami nilai tidak terasa manis, sekalipun di sana ada Bambang Pamungkas, Ismed Sofyan, Hendro Kartiko, dan Ponaryo Astaman. Apalagi ketika kami mendengar BP–sapaan akrab Bambang–terlalu mendominasi, terutama soal pemilihan pemain.

Obrolan seputar Persija tidak banyak dan panjang. Kami takut terjebak membicarakan hal-hal yang tak penting, sebut saja soal kehadiran beberapa ofisial yang sepertinya datang dari langit. Kami juga takut membicarakan orang-orang yang menjadikan 2 x 2 adalah 8, bukan 4.

Kami bubar dan menghentikan obrolan sepak bola yang ngalor-ngidul itu. Wailan menenggak es teh manis pesanannya. Tenggorokannya terlihat basah.

( Koran Tempo, Minggu, 20 April 2008, Ilustrasi Gaus Surahman )