Yon Moeis
Wartawan Tempo

Sisa potongan kue itu masih tergeletak di atas meja. Lagu Selamat Ulang Tahun selesai dinyanyikan. Acara yang berlangsung singkat itu dilanjutkan dengan pertandingan sepak bola. Ronny Pattinasarany, yang memprakarsai acara itu, tersenyum meski sedikit tertahan.

Saya semula tidak ngeh siapa yang berulang tahun pada 19 April lalu itu. Juga ketika Ronny mengutarakan akan ada acara potong kue. Pertandingan sepak bola mantan pemain nasional dan mantan pemain klub Warna Agung melawan tim wartawan sepak bola senior di lapangan tim nasional di kawasan Senayan itu adalah pertandingan mengenang Stevanus Sirey, yang meninggal pada 12 April lalu.

Stevanus Sirey, yang dikenang Ronny, adalah mantan pemain nasional yang lama bermain di klub Warna Agung. Tapi, di sela-sela acara mengenang sahabat itu, Ronny menyelipkan satu bagian acara lagi, “Kita rayakan ulang tahun PSSI di sini. Kita tak peduli kemelut yang terjadi di sana.”
Saya tidak hendak mereka-reka arti angka 78–PSSI lahir di Yogyakarta, 19 April 1930–yang diraih induk tertinggi organisasi sepak bola Indonesia itu. Yang saya lihat pada sore yang diguyur hujan itu justru totalitas Ronny sebagai pelaku sepak bola.

Darah sepak bola legenda sepak bola tersebut terlihat mengalir lagi, ke mana-mana, di sekujur tubuhnya. Dia sejenak melupakan Modern Hospital, rumah sakit di Guangzhou, Cina, tempat dia menjalani berbagai perawatan pengobatan kanker ganas yang menggerogoti pankreas dan levernya.
Kerinduan Ronny untuk bermain sepak bola bersama sesama mantan pemain nasional untuk sementara masih harus disimpan. Yang bisa dia lakukan adalah mengikuti gerakan-gerakan kaki Zulkarnain Lubis, Warta Kusuma, Marzuki Nyak Mad, Ronny Pasla, penjaga gawang legendaris itu, juga adiknya, Donny Pattinasarany.

Sebelum berangkat untuk kedua kalinya ke Guangzhou pada 22 Februari lalu, Ronny masih sempat menegaskan bahwa dirinya adalah orang bola yang lahir dan dibesarkan di lapangan sepak bola. Karena itu pula, dia ingin mengakhiri perjalanan hidupnya di dunia yang telah membesarkan namanya itu. Dia tak ingin ada orang yang menghadangnya tetap berada di lapangan sepak bola, seperti Sabtu sore itu ketika dia ingin mengenang sahabatnya, Stevanus Sirey, dan merayakan ulang tahun PSSI.

Kue tart berukuran sedang itu sudah terpotong-potong. Lagu Selamat Ulang Tahun selesai dinyanyikan. Senyum Ronny yang saya lihat itu jauh berbeda dengan senyum Nurdin Halid saat memimpin perayaan ulang tahun PSSI ke-76 di Rumah Tahanan Salemba pada 19 April 2006.

Setelah Nurdin memotong kue yang diserahkan kepada salah seorang karyawan PSSI, kami bernyanyi bersama. Tak jauh dari tempat saya berdiri, terlihat mantan anggota Komisi Pemilihan Umum, Mulyana W. Kusumah, dan mantan Menteri Agama Said Agil al-Munawar, yang kemudian memimpin doa.

Sungguh jauh berbeda suasana dua perayaan ulang tahun PSSI itu. Sayang, Ronny, yang merupakan orang Makassar, tak menyediakan coto Makassar, soto yang saya santap setiap kali berada di Tanah Anging Mamiri, seperti yang saya cicipi di Rumah Tahanan Salemba dua tahun lalu.

( Koran Tempo, Minggu, 27 April 2008, Ilustrasi Gaus Surahman )