Yon Moeis
Wartawan Tempo

Ujung telunjuk Risdianto tepat berada di satu titik bertulisan Pasuruan. Kemudian dia tersenyum setelah menarik tangannya. Tampaknya Ris–begitu mantan pemain nasional itu biasa dipanggil–seperti tersadarkan betapa kecil kota kelahirannya itu dibanding luas Pulau Jawa, sekalipun hanya dalam sebuah peta. “Kecil, ya, tapi bisa berkelas,” kata Ris.

Gayeng–begitu pula sahabat-sahabatnya memanggil Ris–tidak akan pernah bisa melupakan Pasuruan (dia lahir di sana pada 3 Januari 1950). Dia juga tidak akan membantah jika ada yang mengatakan Kota Pasuruan hanya sebuah titik. Tapi cepat-cepat pula Ris mengatakan bahwa Pasuruan adalah kota yang tidak bisa terlupakan dan tidak bisa terpisahkan dalam perkembangan sepak bola nasional.

Pasuruan, yang ada di mata dan di hati Risdianto, adalah Pasuruan yang memiliki Persekap Kota Pasuruan dan Persekabpas Kabupaten Pasuruan. Persekap, yang pernah berada di Divisi Utama, kini seperti tinggal puingnya saja dan sedang mengadu nasib di Divisi III. Sedangkan Persekabpas, yang begitu fenomenal bersama Subangkit di Divisi Utama (2004-2006), terlempar dari Liga Super 2008 yang sudah digulirkan pada Juli mendatang. Subangkit adalah pelatih berdarah Pasuruan yang membawa Persekabpas dari Divisi II ke Divisi I dan kemudian menjadikan The Lassak–julukan Persekabpas–sebagai tim yang menakutkan di Divisi Utama Liga dan Copa.

Saya tidak ingin memancing emosi Risdianto dengan kondisi Persekap dan Persekabpas saat ini. Dia sangat bangga sebagai orang Pasuruan. Jika saja Laskar Untung Suropati–julukan Persekap–dan Laskar Sakera–nama lain Persekabpas–kini berada dalam kondisi yang tidak menguntungkan, itu bukan karena dia tidak peduli. Dia ingin sepak bola Pasuruan kembali bangkit dan tak hanya melahirkan Subangkit, Sutjipto, Kasiadi, juga dirinya, tapi juga banyak pemain yang kelak tampil di tim nasional. “Suatu saat saya akan kembali ke Pasuruan. Saat ini belum ada,” kata Ris.

Saya baru sekali berkunjung ke Pasuruan, yakni 22 tahun silam, ketika menulis ski lot di Desa Pesisir di Lekok. Lomba meluncur di atas lot (bahasa Madura, bermakna lumpur) ini digelar setiap Hari Raya Ketupat atau tujuh hari setelah Idul Fitri. Beberapa tahun kemudian, saya kembali diingatkan akan Pasuruan ketika Inul pulang kampung dengan air mata meleleh ketika “diusir” Oma Irama. Selebihnya saya hanya tahu Pasuruan dari sosok Mas Ris–begitu saya menyapa Risdianto.

Risdianto pada usia 14 tahun sudah memperkuat Persekap dan ikut membela tim sepak bola Pekan Olahraga Nasional Jawa Timur pada 1969. Setahun lewat, dia dipanggil masuk skuad tim nasional hingga 1981. Selama satu dekade, Ris malang melintang mewakili Indonesia ke sejumlah turnamen dan kejuaraan, termasuk SEA Games 1981, yang menghasilkan medali perunggu bersama, antara lain, Iswadi Idris, Abdul Kadir, dan Hartono. Klub profesionalnya ia awali di UMS Jakarta, yang dilatih Dokter Endang Witarsa. Dari sana dia ke Persija. Karier klubnya ia habiskan di Warna Agung selama 1978-1983.

Ris adalah pemain Indonesia pertama yang dikontrak selama satu musim oleh Mackinnons FC, salah satu tim Divisi Utama Hong Kong (1974-1975). Ia pemain sepak bola Indonesia kedua yang dipinang klub luar negeri, setelah Iswadi Idris. Dia meninggalkan Hong Kong untuk bergabung dengan tim nasional Pra-Olimpiade 1976, yang saat itu langkah tim nasional dihentikan Korea Utara lewat drama adu penalti.

Ronny Pattinasarany, sahabat dan kawan seiringnya di lapangan bola, menyimpan ingatan khusus tentang Risdianto. “Ris bermain dengan mata dan hati,” Ronny menamsilkan etos cerdik sobatnya di lapangan hijau ini.

( Koran Tempo, Minggu, 04 Mei 2008, ilustrasi Gaus Surahman )