Yon Moeis
Wartawan Tempo

Tidak ada tawa, tak juga canda. Christian Hadinata memisahkan diri dan segera meninggalkan Istora Gelora Bung Karno. Langkah tim Piala Thomas Indonesia yang dihentikan Korea Selatan di semifinal pada Jumat malam lalu telah membuat hatinya remuk. Kegagalan Taufik Hidayat dan kawan-kawan menembus final dan kesempatan merebut kembali Piala Thomas di rumah sendiri membuat Christian–sebagai penanggung jawab pemusatan latihan nasional–kembali harus menyimpan kekecewaan.

Mas Chris, begitu saya biasa memanggil legenda bulu tangkis ini, tidak ingin berkomentar banyak dari kekalahan adik-adiknya itu. Dia juga tak ingin larut dalam kesedihan. Langkahnya terlihat lebih cepat daripada biasanya. Dia agaknya tak ingin menengok lagi ke belakang dan memilih menatap ke depan. “Saya selalu merindukan saat-saat Piala Thomas diperebutkan,” katanya.

Christian memang selalu merindukan Piala Thomas, piala yang sudah 13 kali kita miliki sejak diperebutkan pada 1949. Lelaki kelahiran Purwokerto, Jawa Tengah, 11 Desember 1949, itu sudah terlibat dalam perebutan Piala Thomas 1973 di Jakarta dan, di final, Indonesia menggasak Denmark 8-1. Setelah itu, Christian terus memperkuat Indonesia di lima Piala Thomas berikutnya.

Christian gantung raket setelah Indonesia “menyerahkan” kembali Piala Thomas kepada Cina di Jakarta pada 1986. Sebelumnya, di Kuala Lumpur 1984, Indonesia, yang diperkuat, antara lain, Christian, Icuk Sugiarto, Liem Swie King, merampas kembali piala beregu putra itu dari Cina. “Di Kuala Lumpur, untuk yang terakhir kalinya, saya memegang dan mencium Piala Thomas sebagai pemain,” kata Christian.

Perjalanan hidup Christian juga merupakan bagian dari sejarah bulu tangkis Indonesia. Dia sudah menjadi penghuni pemusatan latihan nasional sejak 1972. Bersama Ade Chandra, Christian tidak kurang dari sembilan kali menjadi juara ganda tingkat dunia, termasuk All England. Ketika Ade Chandra mundur, Christian berpasangan dengan Tjuntjun. Pasangan ini dikatakan sebagai ganda terbesar dasawarsa ini dalam sebuah diskusi bulu tangkis antarnegara di Malmoe, Swedia, 1977.

Sebagai spesialis ganda, Christian ternyata mampu berpasangan dengan pemain mana saja. Dia pernah tampil bersama Iie Sumirat. Juga bersama Imelda Wiguna di nomor ganda campuran dengan perolehan gelar juara All England 1979 dan Asian Games 1982. Bersama Bobby Ertanto, ia tampil di kejuaraan dunia 1983 di Kopenhagen, Denmark. Bersama Liem Swie King, dia menjadi penentu perebutan Piala Thomas 1984, saat terakhir kali ia memegang piala itu sebagai pemain.

Kemampuan menyesuaikan diri dengan siapa pun yang menjadi pasangannya membuktikan bahwa Christian bisa “mengalah” untuk sebuah kebaikan yang disebut pencapaian prestasi bersama. Penghargaan Hall of Fame yang dia terima dari Federasi Bulu Tangkis Internasional (kini BWF) sebagai penghargaan tertinggi di dunia bulu tangkis pada perebutan Piala Thomas 2002 di Guangzhou, Cina, juga membuktikan kecintaan Christian terhadap bulu tangkis, dunia yang sudah dia kenal sejak masih berusia 16 tahun.

Christian, yang dilukiskan rekan-rekannya di Klub Mutiara Bandung sebagai seorang pendeta, adalah orang baik. Dia lebih suka diam untuk mengoreksi diri ketimbang berdebat tanpa ujung. Dia memilih meneteskan cinta ketimbang menaruh duri di hatinya.

Kekuatan cinta itu pula yang terlihat pada diri Sony Dwi Kuncoro, Markis Kido, Hendra Setiawan, Taufik Hidayat, Candra Wijaya, Nova Widianto, Joko Riyadi, Hendra Aprida Gunawan, Tommy Sugiarto, dan Simon Santoso ketika banyak orang menumpukan harapan kepada mereka.

Kegagalan menembus final tidak bisa dipersalahkan kepada setiap pemain. Mereka sudah tiba di semifinal dan tidak ada yang salah. Tapi menjadi masalah ketika langkah mereka terhenti yang tidak bisa ditebus dengan kata maaf. Saya sangat percaya Christian tidak akan membuat pembelaan-pembelaan dan tidak menyalahkan siapa pun.

Kekalahan tim Piala Thomas Indonesia adalah kekalahan Christian Hadinata ketika dia tak mampu merobohkan tradisi kepentingan klub dalam setiap kali pembentukan tim. Kekalahan Indonesia adalah kekalahan Christian yang tak pandai berpolitik dalam dunia bulu tangkis dan hanya memendam polemik di hatinya.

Christian Hadinata, sang pendeta itu, sangat merindukan saat-saat Piala Thomas diperebutkan.

(Koran Tempo, Minggu, 18 Mei 2008, Ilustrasi Gaus Surahman)