Yon Moeis
Surat dari Nakhon Ratchasima, Thailand (2)

Sopir taksi adalah orang yang tepat untuk bertanya. Apalagi ketika malam mulai menjemput dan dingin sudah menusuk-nusuk tulang. Rhuang Dech Raksakaew, sopir taksi yang narik tanpa argo, tersenyum lebar ketika diberondong berbagai pertanyaan bagaimana melewatkan malam di Khorat, kota kecil yang merupakan jantung Kota Nakhon Ratchasima. “Thai massage…, you want?” katanya. Lek, nama panggilan Rhuang Dech Raksakaew, kali ini tak tersenyum. Ia tertawa selebar-lebarnya.

Jomsurangyart Rd seperti tertawa lebar menyambut para tamu yang ingin melewatkan malam di kota berpenduduk kurang dari tiga juta jiwa itu. Lampu-lampu berbagai warna berkedap-kedip. Huruf-huruf cacing menghiasi etalase-etalase di selasar sepanjang jalan. Huruf-huruf itu tak banyak menolong kecuali tulisan kecil “welcome, Thai massage, oil massage, foot massage”.

Di sudut jalan, terlihat tiga wanita Thai mengelilingi seorang pria bule. Di sisi lain, dua lelaki bule sedang digiring masuk ke sebuah tempat. Mereka sepertinya tak ingin malam berlalu begitu saja. Jika masih terlihat orang-orang bule di sana, bisa jadi karena Khorat merupakan home base tentara Amerika sebelum masuk ke Vietnam pada Perang Vietnam 41 tahun lalu.

Di sudut jalan di sisi yang lain, terlihat Texas Cafe, yang menawarkan suasana Barat. Kafe terbuka itu melengkapi suasana malam di Jomsurangyat Rd. Para pengunjung yang datang dengan kelompok-kelompok asyik di meja mereka masing-masing. Blue Hawaiian, Kamikaze, Mai Thai, hingga minuman bagi pecandu alkohol, sebut saja, Cruiser, Bacardi Breezer, Spy, tersedia di sini. Tapi sayang, meski berirama keras, lagu-lagu yang dibawakan sang penyanyi terus saja berbahasa Thai. Min Kai Thrung, pramusaji Texas Cafe, berlalu lalang di antara para pengunjung. Sesekali ia berhenti menuangkan minuman ke gelas yang sudah kosong.

Malam semakin larut di Khorat. Satu per satu lampu-lampu dimatikan. Etalase-etalase yang dihiasi berbagai tulisan cacing itu sudah tak terlihat. Tuk-tuk, angkutan sejenis bajaj, masih banyak yang ngetem. Tapi Texas Cafe masih tetap buka. Pesanan pizza dan tom yam kun baru saja datang.

Saya merasakan pedas dan hangatnya masakan khas Thailand ini, yang pernah saya cicipi di Hotel Citra Land di kawasan Grogol. Pedas, hangat, tapi malam semakin larut di Khorat.

(Koran Tempo, Senin, 10 Desember 2007)