Tag

, , , ,

Yon Moeis
Surat dari Nakhon Ratchasima, Thailand (4)

Nakhon Ratchasima akan segera menjadi kenangan. Besok saya berangkat menuju Bangkok meninggalkan kota berudara sejuk itu. Tapi, jika sudah berada di Bangkok, kota yang tak pernah tidur pada malam hari itu, bukan berarti urusan bahasa terselesaikan. Di Nakhon, juga di Bangkok, pasti yang pertama kali terdengar adalah sawasdee krub, sebagai ungkapan selamat datang atau sekadar berhalo-halo.

Urusan bahasa dengan orang Thai selalu bikin ribet. Jika tak sabar-sabar atau tidak menyertakan jari-jari tangan, urusan bukan semakin mudah, tapi malah kian ruwet dan bikin sakit kepala. Kalau sudah begini, mau nggak mau saya tanya-tanya.

Kamis lalu, saya terpaksa memaksa sopir tuk-tuk bertanya ke sa-tanee tum-ruad yang artinya kantor polisi ketika saya dibawa nyasar hingga ke Sungnoen Municipality, tempat pertandingan pencak silat yang jauh dari Nakhon, padahal saya ingin ke arena balap sepeda.

Menghadapi sopir tuk-tuk kudu sabar. Kita harus berani sedikit membuang waktu. “Yaak ja pai?,” yang berarti “saya mau pergi” sambil membuka map Kota Nakhon dan menunjuk tempat tujuan.
Urusan ongkos, cukup dengan jari-jari. Jika mentok, sang sopir mengambil selembar, dua lembar ratusan, atau dengan beberapa lembar uang dua puluhan.

Separuh persoalan selesai. Sopir tuk-tuk pun tancap gas sekencang-kencangnya. Jantung saya hampir copot ketika sopir itu melarikan kendaraan superberisik tersebut di tengah-tengah Kota Korat. Dengan seenaknya ia berpindah-pindah jalur. Melintas ke mana-mana. Saya pun segera mengucap cha-cha, memintanya ia mengendurkan pijakan gasnya. Atau minta ia segera berhenti dengan mengatakan yuut tee nee.

Yang paling menyenangkan tentu saja setiap kali sarapan pagi di hotel. Cukup mengatakan nam cha dan ga-fae untuk segelas air teh dan secangkir kopi. Saya buru-buru menyebut mai sai nam taan kepada pelayan hotel untuk tidak banyak-banyak memberikan gula. Sudah menjadi kebiasaan setiap kali makan di Rumah Makan Sederhana di Gandaria, saya selalu meminta teh pahit.

Urusan makan di Nakhon juga sering jadi masalah. Setiap mau makan, kepada pelayan saya memulai dengan ucapan neua, yang berarti sapi dan terlalu sering mengucap no moo untuk pork. Alamak, untuk urusan makan saja mesti seribet ini.

Nakhon Ratchasima akan segera saya tinggalkan. Senin pagi, pagi-pagi sekali, saya sudah harus berada di sanam bin atau Bandar Udara Suvarnabhumi untuk terbang ke Jakarta dan terpaksa mengucapkan la gon Nakhon Ratchasima atau “selamat tinggal Nakhon Ratchasima”.

Terus terang, saya ingin mengatakan, “Laew phop gan mai (saya akan kembali lagi).” Tapi entah kapan?.

(Koran Tempo, Sabtu, 15 Desember 2007)