Yon Moeis
Surat dari Nakhon Ratchasima, Thailand (3)

Bukan lantaran sudah melambungkan tom yam kung sebagai masakan andalan, tapi orang Thai dikenal jago makan. Ini bisa terlihat pada malam hari di beberapa ruas jalan di Nakhon Ratchasima. Warung-warung terbuka menawarkan berbagai jajanan yang memang enak dinikmati malam hari.

 
Menyusuri Chang Phuak Road pada Selasa malam lalu serasa di Pasar Mayestik, Kebayoran Lama. Lantaran perut sudah harus diisi, yang pertama saya nikmati adalah roti cane. Pedagang yang berbaju muslim ini, tentu saja dengan “bahasa Tarzan”, menanyakan jumlah pesanan, yang saya jawab dengan mengacungkan satu telunjuk.

Tak begitu lama, roti cane yang dipesan sudah tersedia. Sambil merasakan lalu-lalang berbagai jenis kendaraan, juga tuk-tuk, yang melintas di Chang Phuak Road, roti cane saya santap. Seketika terlintas ingatan ketika saya memesan martabak telur di rumah makan Kubang di jalan raya Kali Malang.

Berjalan ke arah selatan, saya menemui banyak tawaran. Ada berbagai sate dari bagian-bagian tubuh ayam, mulai ceker, leher, sampai kepala. Semua dibikin sate. Nasi putih ayam juga tersedia. Apalagi buah-buahan, sebut saja jambu, pepaya, pisang, dan nangka. Semua ada dan berjejer di jalan ini. Di sini pula saya menemukan singkong rebus dengan harga 10 baht untuk beberapa potong saja. “Orang Thai menyebutnya mansapala ciam,” kata Phopo Thriang, sopir mobil sewaan di Nakhon Ratchasima. Di sini, saya juga menemukan kue-kue basah yang rasanya sangat legit.

Nakhon Ratchasima tidak hanya menawarkan tom yam kung. Di beberapa jalan, terdapat puluhan kios para pedagang yang hanya digelar malam hari. Namun, pada siang hari, saya menemukan berbagai makanan yang tidak asing di lidah. Di sisi Ratchadamnoen Road, misalnya, ada pisang bakar. Sajian pisang bakar itu mirip sajian yang ada di Pantai Losari, Makassar. Bedanya, pisang bakar di Thailand dibiarkan bulat-bulat. Untuk menikmatinya, pisang bakar disiram gula kental.

Di Mitraphap Road, di depan The Mall, pusat pertokoan terbesar di Nakhon, saya berhenti untuk membeli ubi goreng. Ubi goreng berharga hanya 10 baht itu saya santap sambil jalan. Sebelumnya, di sini saya menikmati jagung rebus.

Dari wisata kuliner kecil-kecilan ini, Phopo Thriang, yang juga bisa sebagai penunjuk jalan, menggambarkan bahwa orang Thai tak hanya doyan makan, tapi juga suka makanan kecil, yang di Indonesia disebut camilan. Seperti yang saya alami di beberapa jalan di kota kecil yang sejuk ini.

(Koran Tempo, Kamis, 13 Desember 2007)