Yon Moeis
Surat dari Solo (1)

Ricky Yakobi tak kuasa menahan emosi. Dadanya terasa sesak setiap kali melihat bangunan tua yang tak terawat itu. Matanya menerawang ke berbagai sudut bangunan. Juga ke lapangan bola yang rumputnya tak lagi hijau.


Di sana, 14 tahun lalu, selama hampir 11 tahun, Ricky bergabung bersama Arseto Solo. Di mes Kadipolo, bangunan tua yang terletak di Kampung Panularan itu, Ricky bersama teman-temannya –Eddy Harto, Nasrul Koto, Inyong Lolombulan, dan Yunus Muchtar–menikmati hari-hari indah di Kadipolo.

“Kami terus menikmati malam di Kadipolo setelah Arseto menang di Stadion Sriwedari Solo,” kata Ricky. “Di sana pula kami bersedih ketika Arseto kalah,” kata Ricky lagi.

Mes Arseto atau lebih dikenal dengan mes Kadipolo adalah bekas Rumah Sakit Kadipolo. Rumah sakit ini letaknya di jalan Dr Radjiman atau kawasan Panularan. Bangunan ini berada di atas tanah seluas 2,5 hektare dan didirikan pada masa pemerintahan Paku Buwono X. Awalnya, bangunan ini dibangun khusus untuk poliklinik para abdi dalem kraton.

Pada 1976, terjadi pemindahan pasien Rumah Sakit Kadipolo ke Rumah Sakit Mangkubumen dan di sana berdiri Sekolah Pendidikan Keperawatan. Tapi kampus ini hanya bertahan lima tahun dan terjadi pengosongan Rumah Sakit Kadipolo. Sejak 1985, bangunan-bangunan tua itu menjadi milik Arseto sebagai mes pemain.

Arseto berdiri di Jakarta pada 1978. Klub milik Sigit Harjojudanto itu tidak didaftarkan sebagai anggota klub Persija, home base-nya pun dipindah ke Solo pada 1983. Arseto diambil dari potongan nama dua anak Sigit, yaitu Ario dan Seto.

“Kami langsung diterima masyarakat Solo,” kata Danurwindo, pelatih Arseto (1983-1989). “Tidak hanya diterima, kami begitu dicintai.”

Arseto tumbuh besar dan dicintai. Apalagi setelah anak-anak Kadipolo itu menjuarai Piala Liga 1987 dan Galatama 1992. Cinta masyarakat Solo begitu membekas di hati Ricky. Apalagi ketika Ricky merasa Arseto dan Solo telah membesarkan namanya. Dari gedung Kadipolo pula, pada 1989, Ricky berangkat ke Jepang memperkuat Matsushita sebagai pemain pinjaman. “Kenangan Kadipolo terlalu indah untuk dilupakan,” kata Ricky. “Kami bercengkerama di sana,” kata Ricky lagi.

Arseto tidak hanya melambungkan Ricky, pemain yang mengawali karier sepak bola di Kebun Bunga Medan. Arseto juga dikenal sebagai salah satu pionir berdirinya Liga Sepak Bola Utama atau Galatama pada 8 November 1978. Satu tahun kemudian, 17 Maret 1979, partai perdana Galatama digulirkan. Nama Sigit berdiri bersama para pemilik klub, sebut saja F.H. Hutasoit (Jayakarta), Benny Mulyono (Warna Agung), Benniardi (Tunas Inti), dan A. Wenas (Niac Mitra).
Seperti pengakuan Ricky dan Danurwindo, Solo seketika semakin hidup ketika di sana hadir Arseto, klub yang kemudian dibubarkan Sigit, pendirinya.

Klub Arseto boleh saja bubar. Tapi nama Arseto dan Kadipolo tak akan pernah terkubur. Di sana, di bangunan tua itu, cinta masih bersemi. Kemarin, Edward Tjong, anak lelaki Harry Tjong, mantan kiper tim nasional, dan Yunus Muchtar, dua pilar Arseto, masih terlihat bersenda gurau di sana.

Menurut Edu, begitu Edward Tjong dipanggil, Kadipolo tak akan pernah terlupakan. “Masih ada sore-sore yang kami lewatkan di sini bersama Nasrul Koto, Rochi Putiray, dan Benny van Brekln,” kata Edu.

Kadipolo, cinta anak-anak Arseto.

(Koran Tempo, Jumat, 28 Juli 2006)