Tag

, , , , , , , , , ,

Yon Moeis
Surat dari Solo (2)

Air mata tak akan pernah tumpah dan membasahi Kadipolo, bekas mes Arseto Solo. Pembubaran Arseto pada 1998 memang menyakitkan. Semua pemain tak kuasa menahan kepedihan. Tapi mereka tak boleh menangis. “Menyedihkan memang dan kami tak bisa berbuat apa-apa selain menerima,” kata Edward Tjong, salah satu pilar Arseto.

Edward, Ricky Yakobi, Eddy Harto, Inyong Lolombulan, Nasrul Koto, Rocky Putiray, dan semua pemain Arseto hanya tertunduk lesu ketika Brodjo Sudjono, Manajer Arseto, mengumumkan pembubaran Arseto di mes pemain di Kadipolo. Mereka tak mungkin mengajukan protes, apalagi setelah mengetahui bahwa Brodjo Sudjono, Rektor Universitas Surakarta dan ASMI, hanya menjalankan perintah Sigit Harjojudanto, pemilik Arseto.

Arseto bubar setelah menjalani pertandingan yang kemudian menjadi pertandingan terakhir anak-anak Kadipolo di Stadion Sriwedari, Solo, 6 Mei 1998. Pertandingan melawan Pelita Jaya itu kemudian dikenang sebagai penyulut kekacauan di Solo.

Malam itu, pada awal babak kedua, pertandingan tak dilanjutkan karena penonton yang membeludak seketika merangsek ke tepi lapangan. Situasi kemudian menjadi tak terkendali tidak hanya di dalam, tapi ke luar stadion dan juga sepanjang Jalan Slamet Riyadi. Bangunan-bangunan yang ada di sana hancur. Solo yang pendiam seketika berubah menjadi Solo yang beringas.

Dua tahun setelah malam yang mencekam itu berlalu, Pelita Jaya kembali ke Solo. Klub milik Nirwan Dermawan Bakrie itu tidak hanya datang, tapi juga bermalam di kota yang penuh magnet itu. Pada musim kompetisi 2000/2001, Pelita resmi ber-home base di Solo. Malam-malam indah pemain Pelita kemudian bersemi di Stadion Sriwedari. Apalagi Pelita diperkuat Seno Koesumoharjo, manajer yang berdarah Solo. “Tapi saya tidak sendiri, teman-teman ikut bantu,” kata Seno suatu ketika.

Seno tidak hanya membawa Pelita ke Solo. Ia juga mampu mengajak masyarakat Solo untuk kembali bersatu di Stadion Sriwedari, menikmati gol-gol indah di sana. Bersama kelompok suporter Pasoepati, Pelita menjadikan Solo sebagai kota yang dicintai, sekalipun hanya lewat sepak bola.

Pelita hanya bertahan satu musim dan kemudian pindah ke Cilegon dengan nama Pelita Krakatau Steel. Solo kembali ditinggal klub sepak bola yang telanjur mereka cintai.

Namun, Solo terlalu manis untuk dilupakan. Satu tahun kemudian, manajemen Persijatim memutuskan untuk bermarkas di Solo. Lewat berbagai pertimbangan, yang melibatkan PSSI sebagai pemegang otoritas sepak bola di Tanah Air, Pengurus Daerah PSSI Jawa Tengah, Persis Solo, dan juga Pasoepati, akhirnya Persijatim diterima dengan nama Persijatim Solo FC.

Tapi, ketika Persijatim Solo hanya bertahan dua musim kompetisi (2002/2003 dan 2003/2004), tidak ada yang bisa disalahkan. G.H. Sutedjo, pengelola Persijatim, tidak mungkin menyalahkan Solo ketika ia harus cabut meninggalkan kota kelahirannya. Persijatim kemudian dijual ke Palembang dan berganti nama menjadi Sriwijaya FC.

“Terlalu banyak kenangan yang sulit dilupakan ketika kami berada di Solo,” kata Sutedjo. “Penonton Solo sangat potensial, mereka tidak bisa dipisahkan dengan sepak bola,” kata Sutedjo lagi.

Solo tidak hanya bisa dinikmati lewat nasi liwet di Keprabon, gudeg ceker di Margoyudan, atau berlesehan ria di Kota Barat. Solo juga bisa dinikmati lewat sepak bola. Jadi tidak salah jika Badan Liga Indonesia
memilih Solo untuk menggelar delapan besar, semifinal, dan final Liga Djarum Indonesia 2006.

Tapi, setelah final besok melahirkan sang juara, PSIS Semarang atau Persik Kediri, adakah yang masih bisa dinikmati di Solo? Bukankah malam-malam yang indah itu telah berlalu di Solo?

(Koran Tempo, Sabtu, 29 Juli 2006)