Tag

, ,

Yon Moeis
Wartawan Tempo

Ternyata Harianto Badjuri tak mudah dipatahkan. Harianto punya kemampuan menghadapi kemelut yang mengarah kepada dirinya. Senyum tipis Mas Har, begitu Harianto Badjuri biasa dipanggil, menjawab spekulasi keberadaannya di Persija Jakarta, ketika Kepala Ketenteraman dan Ketertiban dan Perlindungan Masyarakat DKI Jakarta Raya itu telah menduduki kursi manajer. Kursi yang diyakini sebagai kursi panas yang setiap saat bisa patah dan menjatuhkan orang yang mendudukinya.

Saya tak mampu mereka-reka kenapa Harianto mau berlanjut menduduki kursi itu. Dugaan saya, dia hanya meneruskan kerja H Susanto (manajer lama yang meninggal pada 25 Juni 2007) untuk sementara sesuai dengan keinginan Sutiyoso sebagai pembina Persija. “Dia saya minta merangkap jabatan sebelum kami menemukan pengganti yang tepat,” kata Bang Yos waktu itu. Harianto, yang diminta merangkap jabatan, adalah Ketua Pengelola Persija Jakarta.

Saya tak hendak mencoba mempengaruhi Mas Har, apalagi menggoyangnya hingga kursinya patah. Saya senang-senang saja jika Ketua FKPPI DKI Jakarta itu menjadi orang nomor satu di sana karena memang Macan Kemayoran saat ini sangat membutuhkan manajer berhati baja. Mas Har menduduki kursi yang tepat pada saat yang tepat pula.

Saya pernah mengingatkan Helmy Sungkar ketika tokoh otomotif itu menerima jabatan Manajer Persatuan Sepak Bola Jakarta Selatan (PSJS) ke babak delapan besar Divisi I PSSI yang digelar di Stadion Ngurah Rai Denpasar, Bali, Juli 2002. Saya hanya mengingatkan bahwa dunia bola jauh berbeda dengan dunia otomotif.

Mas Helmy, begitu saya memanggil Helmy Sungkar, semula tidak percaya. Obrolan kami di lobi Ratna Beach Hotel Sanur seketika memanas ketika saya katakan bahwa dunia yang dia masuki ini adalah dunia kang ouw, yang disesaki para pendekar, dan dunia akal-akalan yang dipenuhi tipu muslihat.

Helmy akhirnya memutuskan tidak hanya meninggalkan kursi manajer, tapi juga meninggalkan dunia yang hanya sejenak dia singgahi itu. Helmy datang, pergi, dan tak pernah kembali lagi. Seperti memiliki indra keenam, Helmy melihat banyak hantu bergentayangan di sekitar pertandingan. Dia merasa tidak berada di tempat yang seharusnya nyaman. Helmy merasa berada di hutan belantara. Dia masuk dan tersesat di dalamnya.

Harianto Badjuri kini sudah berada di hutan belantara yang pernah dimasuki Helmy dan banyak orang yang menginginkan perubahan. Saya tak yakin Mas Har masuk ke dunia ini tanpa cinta, yang bakal dia apresiasikan di sana. Hanya, dia tidak boleh dibiarkan berdiri sendiri.

Saya percaya Mas Har tidak bakal tersesat. Dia adalah orang lapangan dan pekerja keras. Lelaki kelahiran Blitar ini sudah terlihat pagi-pagi sekali di kantornya dan baru pulang larut malam untuk kembali bekerja pada pagi hari berikutnya. Dan jangan pernah coba-coba mengganggu dia jika menyangkut urusan pekerjaan.

Saya juga tak akan pernah merasa cemas jika Mas Har tak mampu me-manage Persija. Mas Har, yang berpengalaman membuat Jakarta tenteram dan tertib serta siap memberi perlindungan kepada setiap warga, tidak perlu memasang closed circuit television untuk mengawasi para pemain. Yang justru saya cemaskan adalah orang-orang di sekitarnya. Harianto Badjuri tak boleh dikelilingi orang-orang yang punya kemampuan membuat 2 x 2 menjadi 8, di mana yang 4 lagi masuk kantong. Dia juga tak boleh dikelilingi orang-orang yang banyak cerita tapi sebenarnya kosong.

Mas Har, selamat datang. Dunia yang penuh tipu muslihat ini pasti juga bisa menyenangkan.

(Koran Tempo, Minggu, 30 Maret 2008)