Tag

, , ,

Yon Moeis
Wartawan Tempo

Wajah lelaki bertubuh gempal itu terlihat kusut. Tatapannya kosong. Kemudian dia bergegas menuju mobil dan pergi entah ke mana. Dari kejauhan saya melihat seperti ada batu besar mengimpit di kepalanya.

Lelaki itu adalah Harry Ruswanto, Manajer Persitara Jakarta Utara. Hari-hari Harry–setidaknya ketika Liga Super 2008 digulirkan–penuh beban. Dia harus pergi ke sana-ke sini mencari pinjaman atau mencari orang yang bisa membiayai klub masyarakat Jakarta Utara itu. Kesulitan keuangan yang sedang melilit Persitara sudah menyita waktu dan membuat kantongnya jebol. “Jika pada saatnya saya harus menyerah, saya akan katakan,” katanya.

Saya tidak mengenal dekat Harry Ruswanto. Saya bertemu dia di lapangan tim nasional Senayan dua pekan lalu dan waktu itu terlihat seperti ada batu besar mengimpit di kepalanya. Bisa jadi Gendhar–begitu dia biasa dipanggil–pusing tujuh keliling lantaran Persitara belum “disiram” anggaran pendapatan dan belanja daerah, kucuran dana yang sudah diharamkan dipakai untuk mengelola klub profesional. Padahal tanpa APBD, kata Harry, “Persitara bisa tidak selamat.”

Harry Ruswanto adalah bagian kecil dari potret sepak bola kita. Potret kebanyakan klub yang masih bergantung pada APBD. Atau klub yang berpesta pora ketika APBD masih menjadi sumber utama dan kalang kabut ketika sumber itu harus ditutup. Ketika tampil di Divisi Utama, Persitara sudah tiga kali mendapat “siraman”: Rp 450 juta pada musim kompetisi 2005, Rp 3 miliar untuk musim 2006, dan Rp 14 miliar untuk musim 2007. Musim ini, manajemen Laskar Si Pitung–julukan Persitara–akan cukup senang jika menerima Rp 12 miliar untuk tampil di Liga Super. Hingga Persitara harus berangkat ke Wamena pada Jumat lalu, “siraman” itu belum juga ada tanda-tandanya.

Saya tidak akan pernah menyangka Persitara bisa separah ini. Krisis keuangan yang melilit pasukan Jacksen F. Tiago itu, menurut hemat saya, akibat dari toleransi yang diumbar Badan Liga Indonesia–jika tidak mau dikatakan terlalu lembek–ketika menggelar verifikasi klub-klub calon peserta Liga Super 2008.

Jika saja Badan Liga yang bermarkas di Kuningan itu lebih jeli melihat jeroan Persitara, semestinya klub yang berada di bawah komando Harry Ruswanto itu tidak masuk dan tidak membuat lelaki asal Surabaya itu harus menjual empat mobilnya. “Saya juga mempertaruhkan jabatan manajer,” kata Harry.
Kondisi Persitara kini parah. Keparahan itu pula yang terlihat di Sekretariat Persitara yang berada di sebuah ruangan berukuran 3 x 10 meter di kolong Gedung Gelanggang Olahraga Jakarta Utara di Jalan Yos Sudarso. Kondisinya sangat menyedihkan–terlihat kipas angin dan sebuah mesin ketik–dan tidak sepadan dengan angka yang mencapai ratusan miliar rupiah untuk memutar roda kompetisi bernama Liga Super.

Beruntung Persitara punya Harry Ruswanto. Kebanyakan teman-teman menyebutnya sebagai lelaki bermental baja. Keras, baik, egonya tinggi, tapi tidak pendendam. Visi sepak bola Presiden Direktur 3M ini jelas dan bertanggung jawab. Komitmennya terpelihara baik dan tidak berpolitik dalam sepak bola. Gendhar adalah singkatan Gendut Harry, tapi ada pula yang bilang Gendhar, bagi orang Surabaya, berarti kerupuk. “Tapi mentalnya tak seperti kerupuk,” kata seorang rekan.

Saya tidak tahu lagi apa yang akan dilakukan Harry, si kerupuk itu, jika benar-benar APBD tak turun. Sekali pun hatinya terbuat dari besi, tentu saja Harry tidak bisa melawan jika Persitara harus bubar di tengah jalan. Padahal saya tahu dia masih sangat ingin Persitara tetap berkompetisi sebelum dia benar-benar menyerah dan menyeka tetes keringatnya yang terakhir.

( Koran Tempo, Minggu, 27 Juli 2008, Ilustrasi Gaus Surahman )