Tag

, , , , , , , , ,

Yon Moeis
Wartawan Tempo

Tawa Iwan Budianto, Mafirion, dan Ferry Paulus seketika meledak ketika mendengar sepenggal kisah tentang lelaki tua yang tak berdaya di penjara. Tawa tiga anggota Komite Eksekutif Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia itu lepas dan keluar sejadi-jadinya. Saya, yang berada di ruangan tempat ketiganya biasa mangkal, tidak tahu apakah yang dimaksud dari sepotong cerita itu adalah Nurdin Halid.

Lepas dari kisah yang sama sekali tidak menarik itu, saya merasakan kehangatan tiga sekawan ini (bisa menjadi empat jika ada Muhammad Zein dan ada yang menyebut mereka sebagai tiruan kelompok musik The Beatles). Kompak, berani, dan canda mereka sangat cerdas serta bercita rasa tinggi.

Sayang, saya tidak mengenal terlalu jauh satu per satu dari mereka. Iwan Budianto, misalnya, menurut seorang rekan wartawan, masih bercelana pendek ketika dia sudah menjadi wartawan sepak bola. Iwan yang saya tahu adalah Iwan yang berhasil membawa Persik Kediri meraih gelar juara Liga musim 2003 dan 2006. Selebihnya, Iwan yang saya lihat adalah Iwan sebagai lelaki pesolek.

Tapi akhir-akhir ini Iwan mampu membetot perhatian ketika dia memutuskan kembali ke Kediri. Iwan bakal menduduki kursi manajer klub yang bermarkas di tepi Sungai Brantas, yang dia tinggalkan selama satu tahun. Iwan pergi ke Jakarta untuk mengisi kursi anggota Komite Eksekutif PSSI, yang kemudian mempertemukan dia dengan Mafirion, Ferry Paulus, juga Muhammad Zein.

Kembalinya Iwan ke Kediri menggantikan H A. Maschut, yang dinilai gagal membawa Macan Putih, julukan Persik, mendekati prestasi yang pernah diraih menantunya itu, bukan peristiwa istimewa. Tapi bisa jadi istimewa karena keberaniannya membeli pemain-pemain berkelas dalam waktu yang berdekatan dengan harga yang cukup tinggi. Keberanian yang mengemuka ketika beberapa klub menjerit soal dana atau ketika persoalan asal dana klub masih diperdebatkan.

Seperti tak peduli dengan masalah yang melilit klub lain, Iwan mendatangkan dua pilar Persija Jakarta, Hamka Hamzah dan M. Robby, serta empat jawara PSMS Medan: Gustavo Chena, Saktiawan Sinaga, Mahyadi Panggabean, dan Markus Horison.

Jika rata-rata pemain ini nilai kontraknya Rp 800 juta, berarti dalam sekejap Iwan menggelontorkan hampir Rp 5 miliar. Sebelumnya, manajemen Persik memastikan mempertahankan tiga legiun asingnya: Cristian Gonzales, Danillo Fernando, dan Ronald Fagundez. Harga kaki ketiga pemain berkulit putih ini lebih dari Rp 1 miliar.

Iwan pasti tidak menemui kesulitan mengatur keluar-masuknya pemain (asing) ke Persik. Selain menjadi anggota Komite Eksekutif PSSI, dia Ketua Status dan Alih Status Pemain. Wakilnya adalah Ferry Paulus. Menurut cerita seorang teman, Iwan punya agen pemain yang dikelola orang kepercayaannya.

Lepas dari berbagai kemudahan yang dia peroleh, saya merasakan keseriusan Iwan mendandani Persik menuju Liga Super 2008, yang bakal bergulir Juli mendatang. Tidak hanya itu, saya juga merasakan keberanian dia berkomentar tentang musyawarah nasional luar biasa PSSI dan pergantian Nurdin Halid, yang selama satu tahun ini tak terdengar “berbunyi”. Ini jelas sebuah keberanian yang, menurut saya, hanya Iwan Budianto yang berani melakukannya.

Saya tidak tahu apakah Iwan bakal meninggalkan kursi anggota Komite Eksekutif PSSI, yang berarti juga meninggalkan teman-temannya? Tapi, menurut saya, Iwan harus mengambil langkah-langkah berani yang lain di luar perhitungan banyak orang ketika sudah berada di tepi Sungai Brantas.

(Koran Tempo, Minggu, 9 Maret 2008)