Tag

, , , ,

Yon Moeis Wartawan Tempo

Johny Riberu bisa meledak-ledak jika bicara tinju. Padahal lelaki kelahiran Kupang, 21 Juni 1956, itu bukan orang yang cepat naik darah. Sabtu malam pekan lalu, dari Palembang– Johny sudah menetap di sana selama 15 tahun–dia menghubungi saya. Nada suaranya terdengar tinggi. “Apa benar gelar Chris John dicopot?” katanya.

Johny adalah petinju yang gantung sarung tinju setelah meraih juara nasional 1983 di Surabaya. Dari ring tinju amatir, di kelas terbang, dia meraih gelar juara Golden Gloves di Ambon (1976), medali emas PON Jakarta (1977), perak Asia di Jakarta (1977), emas SEA Games Kuala Lumpur (1977), dan perak Asian Games Bangkok (1978). Dia pernah tampil di kejuaraan tinju dunia 1978 di Yugoslavia.

Dia pun tercatat sebagai pelatih tim nasional ke SEA Games dan kejuaraan dunia. Johny pernah menjadi pelatih Ellyas Pical menjelang pertarungan mempertahankan gelar juara petinju Saparua itu melawan Ki Chang-kim, petinju Korea Selatan, 4 September 1988, di Surabaya.

Johny bisa meledak-ledak. Apalagi ketika kami masih saja mengobrol seputar Chris John dan petinju Purbalingga itu memang tak lepas dari perhatiannya. Pertengahan Juni lalu, misalnya, dia mengungkapkan kekagumannya kepada Chris John yang akan mempertaruhkan gelar juara dunia kelas bulu WBA melawan Michael Lazada, petinju Meksiko.

Bukan Lazada yang menjadi perhatian Johny, tapi dia sangat bangga dengan Chris John yang telah memberanikan diri bertarung di kandang macan. “Pertarungan di Stadion Huracan, Pachuca, Meksiko, itu sekaligus menghilangkan image Chris John bukan jago kandang,” katanya.

Partai ke-10 Chris John mempertahankan gelar juara pada 5 Juli lalu itu kemudian batal tanpa alasan yang jelas. Padahal, kata Johny, “Meksiko sudah begitu dekat menuju MGM Grand Las Vegas.”

Jelas Johny kecewa dan saya merasakan getar kekecewaan itu. Dia sangat merindukan Chris John seperti Manny Pacquiao, petinju Filipina, yang pernah diperebutkan Bob Arum dan Oscar de la Hoya, dua promotor tinju dunia. Pacquiao–juara kelas bulu super WBC–sudah berada di hati setiap orang Amerika dan mampu menenggelamkan nama petinju Meksiko: Marco Antonio Barrera dan Erik Morales.

Jika akhirnya Chris John harus menutup perjalanan tinjunya, penutupnya tentu saja pertarungan terindah. Penutup yang pernah saya inginkan–juga Johny–ketika Ellyas Pical berada di ujung kariernya pada pengujung 1989. Tarung ulang Ellyas dan Khaosai Galaxy adalah pilihan yang pas bagi petinju Indonesia pertama yang menjadi juara dunia kelas bantam junior IBF itu.

Galaxy–lahir dengan nama Sura Saenkam di Petchabun, provinsi di bagian utara Thailand, 15 Mei 1959–waktu itu pemegang gelar juara dunia kelas bantam junior versi WBA, yang mengalahkan Ellyas dengan TKO pada ronde ke-14 di Jakarta, 28 Februari 1987. Elly memilih mandatory fight-nya melawan Juan Polo Perez, petinju Kolombia yang menempati urutan pertama penantang. Pertarungan 12 ronde di Roanoke, Virginia, Amerika, 14 Oktober 1989, itu telah menutup karier Ellyas dengan kekalahan.

Chris John–satu dari empat petinju juara dunia yang kita miliki–ternyata adalah Chris John yang tak laku dijual. Dia jago kandang, tidak memiliki pukulan mematikan (killing punch)–ini jadi penyebab harga kepalan tangannya tak mampu menembus angka US$ 500 ribu, yang seharusnya sudah dia raih di Las Vegas sana–dan tak akan pernah dilirik promotor dunia (Finon Manullang, mohon maaf, ini harus saya katakan).

Lantas, ke mana Chris John harus di jual–setelah sembilan kali mempertahankan gelar juara–jika tidak di arena pasar malam? Johny, meski bisa meledak-ledak, pasti sedih bila mendengar pilihan pahit ini.

( Koran Tempo, Minggu, 3 Agustus 2008, Ilustrasi Gaus Surahman )