Tag

, , , , ,

Yon Moeis
Wartawan Tempo

Tidak satu pun boleh menghapus nama Boy Bolang dalam sejarah tinju profesional Indonesia. Boy adalah orang pertama yang melahirkan juara dunia, setelah Ellyas Pical merebut gelar IBF kelas bantam junior dengan memukul roboh Judo Chun pada ronde delapan, 3 Mei 1985.

Boy, yang telah meninggalkan kita pada 16 April 2004, adalah promotor yang sebenar-benarnya promotor. Ia bukan datang dari langit begitu saja. Boy lahir dan dilahirkan untuk tinju profesional Indonesia. Boy, yang kelak menjadi sangat terkenal, memulai kariernya dari bawah. Untuk mengenal ring tinju bayaran, ia pergi ke New York. Buat mengenal Don King – promotor paling berpengaruh di dunia – Boy mulai dengan menjadi pencuci piring di sebuah restoran di Los Angeles.

Boy yang telah pergi itu kini terasa hadir kembali. Boy memang tak merasakan aroma keringat yang mengalir dari tubuh Chris John atau M. Rachman, dua juara dunia yang kita miliki. Tapi Boy pasti akan mendengar jerit tangis para petinju yang kebanyakan nasibnya tak menentu. Boy, yang sangat apresiatif terhadap petinju, tentu saja tak ingin mendengar ada petinju yang terluka hatinya.

Setelah Boy pergi, hadir Albert Reinhard Papilaya, promotor partai dunia Chris John. Albert telah menjadi promotor termahal dalam sejarah tinju Indonesia. Seketika ia membawa sekarung uang setelah pertarungan Chris John versus Jose Cheo Rojas, Februari lalu. Ia juga menjanjikan Rp 1 miliar lebih untuk mandatory fight M. Rachman. Albert pula yang memberikan bayaran Rp 50 juta pada partai-partai tambahan Chris versus Rojas, yang tak pernah dilakukan promotor tinju di Indonesia.

Soal bayaran petinju, Boy tidak ada apa-apanya dibanding Albert. Paling tinggi Boy hanya sanggup membayar petinju US$ 125 ribu ketika memanggungkan Ellyas Pical. Tapi, untuk perkara hati nurani dan kejujuran serta strategi, Boy tidak tertandingi. Boy, yang datang dari keluarga petinju, tak ingin mendengar ada petinju yang menjerit. Boy bukan preman tinju. Boy juga adalah petinju.

Cerita mangkirnya promotor memang bukan hanya ada di sekitar kita. Don King pernah berurusan dengan pengadilan karena bayaran petinju yang tak terselesaikan. Promotor dengan rambut landak ini pernah menyeleweng dan Mike Tyson serta Larry Homes pernah merasakan itu.

Hengky Gun, petinju Sasana Sawunggaling, pernah merasakan nakalnya promotor. Ia ditipu promotor Guam berdarah Spanyol ketika bertarung dengan Lulu Villaverde, petinju Filipina, di Guam pada 1988. Ring tinju OPBF itu ternoda karena Querera, sang promotor, kabur. Hengky hanya menerima US$ 100 dari US$ 5.000 yang dijanjikan. Kasus ini membuat Setyadi Laksono, manajer Hengky Gun, menyurati George Bush Senior, Presiden Amerika waktu itu. Tapi kasus ini menguap begitu saja.

Kasus mangkirnya Albert Papilaya (pernah jadi petinju amatir yang hanya menjadikan pohon pisang sebagai sansaknya) terhadap pertarungan wajib M. Rachman harus menjadi pelajaran buat kita semua. Rachman bisa jadi kecewa karena tidak dapat berduel melawan Florante Condes, petinju Filipina, pada 16 Juni 2007.

Jika ini menjadi bagian dari strategi Albert Papilaya untuk mengharumkan namanya, tentu saja itu tidak bisa kita terima. Ia boleh berstrategi, tapi tidak boleh menyakiti hati petinju. Apalagi sampai merugikan, yang mungkin saja gelar petinju dicabut karena ulah sang promotor.

Jika gelar M. Rachman dicabut, tentu saja kita yang rugi. Bayangkan kita, yang harus menunggu 14 tahun untuk kembali memiliki juara dunia (setelah Ellyas Pical menjadi juara dunia pada 1985), mesti kehilangan satu gelar dari petinju kita. Boy Bolang pasti mendengar ini.

(Koran Tempo, Minggu, 17 Juni 2007)