Tag

, , , , , ,

Yon Moeis
Wartawan Tempo

Tragis nian nasib Rahman Kili Kili. Petinju kelahiran Bitung, Sulawesi Utara, 15 Oktober 1974, itu tewas tergantung di rumah pamannya di Lorong Haji Anam Talangbetutu Palembang, Kamis pagi lalu.

Cara kepergian yang dipilih Rahman, tentu saja, sangat menyesakkan dada. Komunitas tinju, siapa pun di dalamnya, pasti menyesali akhir hidup Rahman. Padahal, sebelum Chris John atau Muhammad Rahman mengharumkan nama bangsa, dialah yang digadang-gadang bakal menjadi juara dunia sesungguhnya.

Mantan pelatih Ellyas Pical, Johny Riberu, dan pemerhati tinju nasional, Finon Manullang, mengakui hal itu. “Rahman Kili Kili memiliki peluang besar untuk dipromosikan sebagai juara dunia,” kata Johny. “Dia petinju yang lengkap. Penampilannya tenang, akurasi pukulannya terjaga, dan nyalinya besar,” kata Johny lagi.

“Dia, Rahman Kili Kili, yang kelak menjadi juara dunia milik kita,” kata Finon. “Jika dia sudah berada di atas ring, penonton tak hanya terhibur, tapi juga dibuat kagum. Pukulannya sempurna,” kata Finon.

Namun, apa yang dikatakan Johny dan Finon tak cukup mengantar Rahman ke pentas tinju dunia. Perjalanan karier Rahman di ring tinju profesional terasa penuh duri. Ia biarkan dirinya berada di kegelapan. Ia biarkan dirinya digerogoti obat-obat terlarang. Ia juga membiarkan dirinya ke arah tindakan-tindakan kriminal.

Rahman adalah juara Indonesia kelas bantam versi Komisi Tinju Indonesia pada 1999. Juga juara Indonesia kelas bulu junior versi Asosiasi Tinju Indonesia (ATI) pada 2003. Tapi gelar-gelar ini tak lantas membuat hidup Rahman menjadi semakin bergelora. Tiga tahun sebelum meraih gelar juara ATI, pada 2000, hidup Rahman sudah terlihat berwarna hitam. Ia selalu dihantam masalah, sekalipun tetap berada di dunia tinju.

Pada 2002, Rahman sempat menggemparkan dunia tinju Indonesia. Rahman yang sudah mencatat 12 kali kemenangan KO dipukul roboh oleh petinju Filipina, Dias Dadogabi, pada menit pertama ronde pertama dalam kejuaraan nongelar 10 ronde di studio stasiun televisi Indosiar. Berita robohnya Rahman simpang-siur. Apalagi dikaitkan dengan bayaran yang tak sebanding dengan keringatnya yang keluar.

Hingga 2006, Rahman masih terlibat di ring tinju profesional. Sesekali ia membawa petinju Sumatera Selatan bertanding di kejuaraan lokal. Rahman terakhir kali naik ring pada 5 Maret 2005 ketika menang angka atas Edy Kamaro di Gedung Gelora Patra, Balikpapan. Waktu itu Rahman bernaung di Sasana Bina Taruna.

Sejak penampilan terakhir itu, Rahman lebih sering terlihat sendiri. Ia tak lagi gagah. Tubuhnya kotor dan penuh luka ketika keluar dari Lembaga Pemasyarakatan Merdeka di Palembang. Setelah lama berada di Jakarta, tiga bulan lalu Rahman pulang ke Palembang, kota yang telah membesarkannya, hingga diketahui tewas tergantung pada Kamis lalu.

(Koran Tempo, Sabtu, 24 Fabruari 2007)