Tag

, ,

Yon Moeis
Wartawan Tempo

Ternyata, tidak terlalu sulit mengorek isi hati Lucky Acub Zainal meski dia tak lagi bisa melihat orang yang mengajaknya bicara. Lucky, 48 tahun, mengalami kebutaan dan sejak akhir 2005–virus CMV (cytomegalovirus) menyerang retina matanya–hanya bisa berjalan dalam kegelapan. Tapi kini dia sudah terbiasa melihat dan bicara dengan hatinya.

Meski tak lagi bisa melihat, Lucky masih mampu berkomunikasi dengan baik. Setiap Minggu pagi, selama dua jam, pendiri Arema Malang pada 11 Agustus 1987 itu menyapa para Aremania lewat Radio MAS FM yang dipancarkan dari Kota Malang. “Bukan pandangan mata, tapi pandangan hati,” kata Lucky.

Saya sudah lama tak bertemu dengan Lucky. Lucky–kelahiran Malang, 9 Desember 1960, dengan nama Lucky Adrianda Zainal–yang saya kenal belasan tahun lalu adalah Lucky yang gagah, energetik, dan bertenaga. Wajahnya ganteng dan tak mungkin orang Malang tidak mengenal Sam Ikul, sapaannya. Lucky lelaki yang aktif. Ia penggerak tinju profesional di Malang, juga berada dalam komunitas olahraga otomotif nasional, sebelum benar-benar memberikan hati dan jiwanya untuk Arema, klub sepak bola yang dia dirikan 21 tahun silam.

Saya terakhir bertemu dengan Lucky di Lampung empat tahun lalu di tengah-tengah rehat lomba Krakatau Rally, salah satu seri reli nasional. Anak lelaki Acub Zainal, mantan Gubernur Irian Jaya dan Ketua Liga Sepak Bola Utama (Galatama), itu melempar senyum. Dia berdiri dan sejenak meninggalkan makan siangnya di Rumah Makan Padang Nusantara yang terletak di pinggir Kota Lampung itu. Tegur sapanya terasa hangat. “Yak opo kabare,” kata Lucky, ucapan yang kembali saya dengar ketika menghubungi dia Selasa malam lalu.

Semula, saya menduga tidak mudah mengorek isi hatinya. Masa lalunya begitu indah dan keindahan itu pula yang membuatnya kini berada dalam ketidakberdayaan. Sejak 1981, Lucky sudah mengenal sekaligus bergaul dengan narkotik dan minuman keras. Dia akan sangat sensitif bila diajak mengingat masa lalunya itu.

Kini Lucky seperti hidup kembali. Dia tak malu mengatakan kondisinya sekarang. Meski jarak kami begitu jauh, saya senang mendengar suara hatinya, suara hati yang saya dengar ketika bicara seputar problem Arema dan polemik Aremania.

Kasus terakhir dari kandang Singo Edan, julukan Arema, adalah hengkangnya pelatih Bambang Nurdiansyah ketika Arema baru menjalani empat pertandingan awal Liga Super 2008. Bambang, meski lahir di Banjarmasin, ia orang Malang. Ia meninggalkan Malang karena tak tahan oleh tekanan Aremania menyusul dua kekalahan beruntun Arema.

Lucky tak menemukan jawaban pasti kenapa Bambang, kawannya itu, meninggalkan Arema. Tapi dia mencoba memahami keputusan yang diambil Bambang, seperti
ia kian memahami hubungan yang begitu erat antara manajemen Arema dan Aremania, kelompok suporter Arema. “Tapi bukan untuk saling menekan,” kata Lucky.

Jika Lucky masih bicara Arema, bukan berarti ia ingin kembali, tapi memang dirinya tak bisa dipisahkan dengan sejarah berdirinya Arema. Meski secara fisik tak bisa mendekat, di hatinya masih ada Arema. Arema yang ia cintai adalah Arema yang tak sekadar urusan sepak bola, tapi Arema yang membuat orang Malang bangga, senang, bergembira bersama, dan bersatu dalam satu jiwa.

Lucky tidak akan pernah memahami jika kasus Arema yang bertalian dengan Aremania berkepanjangan menjadi polemik yang tidak sehat. Dia sangat tidak nyaman dan tidak senang. Yang ia inginkan adalah kedamaian dalam sepak bola, seperti kedamaian yang ia temui ketika menjadi petani tebu dan kelapa di Tulungagung, kota kecamatan yang jaraknya 154 kilometer dari Surabaya.

Di sana , Lucky menyuarakan hatinya untuk kedamaian Arema.

(Koran Tempo, Minggu, 10 Agustus 2008, Ilustrasi Gaus Surahman)