Tag

, , , , , , ,

Yon Moeis
Wartawan Tempo

Pamitan itu nyaris tidak menumpahkan air mata. Bonggo pergi dan tak lantas membuat mes pemain yang terletak di Jalan Semeru, Semarang, itu menjadi sepi. Sang pelatih boleh pergi, tapi denyut nadi klub tak boleh berhenti.

Bonggo Pribadi, arsitek Mahesa Jenar, Senin lalu pulang kampung ke Surabaya. Ia berpamitan kepada semua pemain PSIS setelah dipecat Yoyok Sukawi, manajer klub. Bonggo dinilai tak mampu mengangkat keberadaan klub kebanggaan masyarakat Jawa Tengah itu, yang sejak putaran kedua hanya “bermain” di antara papan bawah dan tengah klasemen liga. Sedangkan di arena Copa, PSIS sudah terlempar di babak 32 besar.

Yoyok bisa jadi takut “mainan”-nya ini terus terperosok ke zona degradasi, yang sangat memungkinkan melemparkan PSIS dari persaingan klub di divisi utama. Ini berarti semakin menjauhkan pasukan biru-biru itu ke liga super, yang sudah diberlakukan pada musim kompetisi 2008.

Atas nama manajemen, Yoyok kemudian memanggil Sartono Anwar, mantan pelatih PSIS, yang belakangan terlihat segar setelah sempat terbaring di rumah sakit. Sartono, yang pernah membawa PSIS menjadi juara Perserikatan 1987, terakhir menukangi Persikab Kabupaten Bandung. Sartono diharapkan mampu mengangkat tim dari keterpurukan. Atau paling tidak Sartono dapat memberikan suasana baru di mes pemain PSIS.

Banyak yang tahu bahwa Yoyok dan Bonggo sudah lama berteman. Mimpi keduanya pun sama. Yoyok ingin Panser Biru, julukan lain PSIS, tetap dicintai. Ini berarti tempat PSIS bukan di papan bawah. Begitu pula Bonggo. Mantan stopper Pelita Jaya yang dulu dikenal tanpa kompromi ini tentu saja ingin kualitas PSIS terus terjaga. Apalagi, pada musim lalu, Bonggo mampu menempatkan PSIS sebagai finalis.

Sungguh menarik ketika Yoyok harus mengorbankan pertemanannya dengan Bonggo ketika PSIS tidak lagi menjanjikan. Yoyok dan Bonggo boleh saja berteman, tapi keduanya harus bersikap profesional. Budaya memecat pelatih sudah dibuka Yoyok ketika anak lelaki Sukawi Sutarip, Wali Kota Semarang, itu memecat Sutan Harhara. Sutan, yang pada musim kompetisi 2006 memiliki banyak pemain berkualitas (sebut saja Emmanuel de Porras dan Gustavo Hernan Ortiz), diberhentikan di tengah jalan. Saat itu pula Bonggo, yang semula asisten Sutan, menjadi pelatih kepala. Bonggo pun mulai berteman dengan Yoyok.

Nasib yang menimpa Bonggo telah membetot perhatian Benny Dolo. Tapi pelatih Persita Tangerang itu tidak ingin terpancing polemik. Ia tak ingin mengatakan siapa yang benar dan siapa yang salah. Sebagai pelatih, Benny hanya ingin mengungkapkan kualitas yang bersangkutan. Benny prihatin. Ketika ada peristiwa pemecatan pelatih, ketika itu pula ia sangat berharap pelatih-pelatih muda semakin bersinar di pelataran sepak bola nasional.

Bagi saya, Bonggo penting. Ia tercatat sebagai pelatih termuda di liga–kini ia berusia 37 tahun–yang perjalanannya masih panjang untuk menjadi pelatih berkualitas. Ia sangat penting dan jauh lebih penting ketika kita dipaksa “tertawa” ketika Gogon, pelawak Srimulat, tertangkap polisi dua pekan lalu.

(Koran Tempo, Minggu, 2 September 2007)