Tag

, , , , ,

Yon Moeis
Wartawan Tempo

Jombang ternyata tidak hanya Emha Ainun Najib. Di kota yang berjarak 79 kilometer dari barat daya Surabaya itu juga ada nama lain selain Cak Nun (panggilan Emha Ainun Najib), yang tidak kalah santrinya oleh pentolan Kiai Kanjeng tersebut.

Ia adalah Djoko Malis Mustafa. Mas Djoko, begitu saya biasa menyapanya, kini sedang berada di Jombang. Djoko berada di tengah orang-orang yang ia cintai, yang lama ia tinggalkan hanya untuk urusan sepak bola. “Saya ingin dekat dengan keluarga.”

Nada suara Mas Djoko terdengar pelan. Sejuk. Dan, terus terang, saya tidak yakin jika ada perkataan, apalagi tindakannya, yang mampu melukai hati orang lain. Saya sangat tidak percaya.

Djoko sedang menunggu nasib yang semakin tidak menentu sebagai pelatih Persmin Minahasa. Ia diberhentikan dari jabatan pelatih dengan tidak pernah ada kejelasan. Djoko diberhentikan karena dicurigai “menjual” partai Persmin versus Persebaya dalam babak lanjutan Liga Djarum Indonesia, Agustus lalu.

Menendang pelatih dari kursinya sudah mewarnai kompetisi di Indonesia jika tidak dikatakan sebuah fenomena baru. Persis Solo memecat Suharno. PSIS Semarang menendang Bonggo Pribadi. Persiraja Banda Aceh membuang M. Khaidir. Juga Persmin menggantung nasib Djoko Malis.

Menyingkirkan sang arsitek, tentu saja, sudah menjadi bagian dari sepak bola. Ini tidak bisa terelakkan jika ternyata Suharno, Bonggo, Khaidir, dan Djoko tak mampu lagi mengangkat tim dari keterpurukan. Manajemen klub sah-sah saja membuat keputusan. PSIS, misalnya, dengan mudah memecat Bonggo padahal Yoyo Sukawi, manajer tim, adalah teman dekat Bonggo.

Tapi adakah aturan-aturan yang sudah dipenuhi kedua belah pihak?

Sekadar mengingatkan, Roman Abramovich–pemilik Chelsea–masih membayar uang sisa kontrak Jose Mourinho ketika sang arsitek harus meninggalkan London. Juragan asal Rusia itu masih mengeluarkan hak Mourinho sebesar 17,4 juta pound sterling (sekitar Rp 322 miliar) sekalipun masih disertai perjanjian-perjanjian yang tak boleh dilanggar.

Kasus yang dialami Djoko sungguh tidak mengenakkan. Ia masih menunggu bukan karena ingin tetap menjadi pelatih di Minahasa. Djoko tidak akan pernah kehilangan pekerjaan sebagai pelatih jika memang harus meninggalkan klub yang mampu menembus papan atas liga pada musim 2005 itu. Loyalitas dan rasa cinta Djoko kepada sepak bola tidak lantas meleleh jika harus pergi dari Minahasa.

Saya tahu Mas Djoko pasti ingin tetap dihargai sebagai profesional. Ia tak ingin digantung. Perlakuan manajemen Persmin terhadap Djoko mengingatkan saya kepada tindakan-tindakan sejumlah pemilik klub di masa Galatama, sebut saja T.D. Pardede, pemilik klub Pardedetex.

Suara Pak Katua, sebutan T.D. Pardede, jauh lebih kencang daripada riuh-rendah suara penonton yang memenuhi Stadion Teladan, Medan. Tapi hati posisi Frans van Balkom atau Kaelani (almarhum) sebagai pelatih tak pernah tersakiti. Juga ketika Syarnubi Said, pemilik Kramayudha Tiga Berlian, selalu membuat hati Abdul Kadir (almarhum), sang arsitek, terus berbunga-bunga.

Mas Djoko, saya ingin sekali pergi ke Jombang kapan-kapan. Kita ngobrol tentang sepak bola, pasti….

(Koran Tempo, Minggu, 30 September 2007)