Tag

, , , , , , , , , ,

Yon Moeis
Wartawan Tempo

Stadion Manahan, Solo, terasa bergetar ketika Muhammad Zein turun dari tribun utama. Anggota Komite Eksekutif PSSI itu langsung menemui sejumlah wartawan yang ingin meminta konfirmasi seputar hukuman aneh Komisi Disiplin PSSI terhadap Evgheny Khmaruk, kiper Persija, dan Christian Gerard Gonzales, striker Persik.

Kedua pemain asing itu terkena hukuman lantaran terlibat keributan saat Persik Kediri melawan Persija Jakarta pada babak delapan besar Liga Djarum Indonesia 2007, Kamis dua pekan lalu. Tapi, dua hari kemudian, pada pertandingan berikutnya, kedua pemain tersebut kembali memperkuat klub masing-masing.

Turunnya Khmaruk dan Gonzales tentu saja mengundang pertanyaan. Bagaimana mungkin pemain yang sudah dijatuhi hukuman dapat bermain kembali. Ketika Khmaruk, juga Gonzales, bermain, beredar isu bahwa Komite Eksekutif PSSI telah melakukan intervensi yang tentu saja sangat tidak populer. Keduanya dapat kembali bermain karena campur tangan para eksekutif itu. Jika ini ditanyakan kepada Bang Zein, begitu Muhammad Zein biasa dipanggil, jawabannya sudah bisa ditebak.

Pertanyaannya sekarang bukan lagi mengapa kedua pemain yang sudah dihukum itu dapat bermain kembali. Tapi siapakah orang-orang yang memakai baju Komite Eksekutif itu? Mengapa mereka bisa sangat berkuasa? Seberapa besar pengaruh mereka yang masih saja menjadikan sepak bola terus bermasalah?

Terlalu bodoh saya tak mengenal satu per satu orang-orang yang duduk di kursi Komite Eksekutif PSSI. Terlalu bodoh pula sehingga saya tak berani mengatakan apakah benar mereka orang-orang bola yang punya rasa cinta? Seberapa tajamkah kuku-kuku yang mereka tancapkan sehingga mampu mengubah sebuah keputusan?

Kasus Khmaruk dan Gonzales bisa jadi ditunggangi lantaran ada kepentingan di sana. Saya tak bisa membayangkan bagaimana mungkin anggota Komite Eksekutif PSSI, yang seharusnya berdasi dan berada dalam sidang-sidang yang urusannya jauh lebih penting ketimbang urusan hukuman pemain asing, berkeliaran di Solo? Saya juga tak bisa membayangkan jika mereka dikatakan punya kemampuan mempengaruhi Nurdin Halid, yang saat ini sedang berada di penjara. Mereka dikabarkan memaksa Nurdin berkomentar agar Khmaruk, Gonzales, dan Serghei Dubrovin–pelatih Persija–dideportasi keluar dari Indonesia. Padahal kita tahu PSSI tak punya wewenang mengusir orang asing dari negeri ini.

Seusai Nurdin bereaksi keras, dari sinilah mereka bermain. Bermain untuk membalik cerita agar Khmaruk bisa kembali turun ke lapangan, yang dilanjutkan Gonzales dapat pula memperkuat Persik. Persik, setelah bermain imbang dengan Persija, diyakini masih punya peluang ke semifinal ketika menghadapi Persipura. Nyatanya, klub yang bermarkas di tepi Kali Brantas itu digebuk Mutiara Hitam 4-1.

Indikasi para eksekutif itu bermain adalah tak secuil komentar dari Komisi Disiplin PSSI. Orang-orang komisi pimpinan Hinca Panjaitan itu memilih tutup mulut sehingga memunculkan pernyataan-pernyataan no comment, yang di dalam urusan sepak bola kata-kata ini tak boleh terdengar.

Saya terpaksa meninggalkan Solo dengan perasaan yang tidak nyaman. Sebelum pesawat yang saya tumpangi tinggal landas, saya sempat menoleh ke belakang, apakah ada anggota Komite Eksekutif PSSI berada dalam pesawat, yang siapa tahu bisa memaksa saya kembali ke Solo?

(Koran Tempo, Minggu, 27 Januari 2008)