Tag

, , , , , , , , , , , ,

Yon Moeis
Wartawan Tempo

Raja Isa bin Raja Akramsyah mungkin lupa saya pernah menyapanya di Musro Solo menjelang tengah malam pertengahan Januari lalu. Dia tersenyum dan kakinya mengentak-entak lantai. Dari kejauhan dia terlihat seperti bersenandung ketika biduan pub di lantai bawah Hotel Sunan (dulu Hotel Quality) itu menyanyikan lagu Peterpan, Menghapus Jejakmu.

engkau bukanlah segalaku
bukan tempat tuk hentikan langkahku

Raja Isa bukan segalanya bagi siapa pun. Juga bagi sepak bola Indonesia. Lelaki kelahiran Ampang Selangor, Malaysia, 11 Februari 1966, itu belum cukup berarti untuk sepak bola kita. Dia adalah mantan pelatih Persipura Jayapura dan kini berlabuh di PSM Makassar.

Nama Raja Isa tiba-tiba menjadi sangat penting ketika dia harus terusir dari tanah Papua. Padahal peristiwa pemecatan atau pengusiran pelatih adalah peristiwa biasa dalam sepak bola, sekalipun caranya berbeda-beda.

Pengusiran Raja Isa sama halnya dengan pemecatan yang dilakukan Sihar Sitorus, pemilik sementara PSMS Medan, terhadap Iwan Setiawan. Juga Yoyok Sukawi, Manajer PSIS Semarang, yang mengusir Edy Paryono.

Sekalipun Sihar melakukan itu dengan uangnya, Yoyok menjalaninya dengan penuh perasaan, dan manajemen Persipura memakai pendekatan emosional ketika mendepak Raja Isa, semuanya sama saja. Pelatih–apalagi dalam kondisi keuangan kebanyakan klub saat ini–adalah orang yang siap disanjung sekaligus digusur.

Kasus-kasus ditendangnya pelatih bisa menjadi dilema. Persoalannya kini, bagaimana sikap yang harus diambil itu tidak melukai perasaan banyak orang. Jacksen F. Tiago terpaksa meninggalkan Harry Ruswanto, Manajer Persitara, karena Jacksen memang sudah tidak nyaman lagi berada di klub wilayah utara Jakarta itu. Pelatih berdarah Brasil tersebut tidak pernah terikat kontrak dan bicara bayaran. Kondisi ini tentu saja memaksa kita menjadi bodoh. Bagaimana mungkin dalam Liga Super, klub tertinggi di Tanah Air, itu di dalamnya ada persoalan yang terabaikan.

Melihat kondisi ini, saya cemas ketika Bambang Nurdiansyah, pelatih tim U-21, bakal kembali menukangi PSIS Semarang. Bambang dan Yoyok memang sudah berteman dan Yoyok bisa setiap saat menghubungi Bambang. Tapi urusan kontrak-mengontrak, tidak bisa dilakukan berdasarkan pertemanan.

Dari sini, saya semakin cemas saja, jangan-jangan nanti nasib Bambang seperti Bonggo Pribadi, yang dipecat Yoyok dari kursi panas Mahesa Jenar pada Agustus tahun lalu. Padahal, siapa pun tahu, Yoyok dan Bonggo adalah teman satu meja.

Raja Isa, yang kini menukangi PSM (setelah manajemen Juku Eja memulangkan Radoy Hristov Minkovski ke Bulgaria), buat saya tidak begitu penting. Perjalanan sepak bola lelaki bertubuh gembul itu tidaklah luar biasa. Dia hanya mantan pemain junior Malaysia, tujuh tahun menjadi pelatih tim junior Selangor FC, dan setahun menukangi Malacca Telecom (salah satu pemainnya adalah Ponaryo Astaman).

Raja Isa, setidak-tidaknya buat saya, menarik hanya karena “ungkapan-ungkapan” yang dia lontarkan. Kepada pers, dia tidak pernah menjelaskan strategi Persipura setiap kali menjelang pertandingan yang bisa bikin pusing kepala. Dia cukup mengatakan, “Semua bergantung kepada Yang Maha Kuasa,” atau, kata Raja, “kemenangan ini tentu saja untuk rakyat Papua.”

Apa yang diucapkan Raja itu mengingatkan saya kepada almarhum Abdul Kadir (wafat pada 4 April 2003) ketika menjadi pelatih Krama Yudha Tiga Berlian pada zaman Galatama, akhir 1980-an. Mas Kadir, begitu saya memanggilnya, tidak ingin ribet menjelaskan strategi pasukannya. Apa yang pernah dilakukan Abdul Kadir kini dilakukan Raja.

Hanya itu kelebihan Raja. Dia tak boleh membawa arogansi Malaysia ke dalam sepak bola kita. Dia harus pandai-pandai menempatkan diri. Dia harus selalu berada pada tempat dan saat yang tepat, sekalipun suatu saat saya bertemu dengan dia di Pantai Losari atau di Color–salah satu pub di Makassar–seperti ketika saya bertemu dengan dia di Solo, menjelang malam.

(Koran Tempo, Minggu, 31 Agustus 2008, Ilustrasi Gaus Surahman)