Tag

, , , , , ,

Yon Moeis
Wartawan Tempo

Nugraha Besoes seperti tak ingin cepat menyelesaikan makan siangnya. Dia terus saja menguliti bebek panggang yang saya duga sebagai menu utama Long Beach, restoran yang terletak di lantai bawah pusat perbelanjaan mewah di kawasan Senayan. Kang Nug–begitu saya biasa memanggil Sekretaris Jenderal Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia itu–terlihat lahap. Dia begitu merdeka dan saat itu tak ada yang boleh mengganggunya.

Saya yang mengenal Pak Sekjen itu begitu lama–dia sudah menduduki kursi panas tersebut sejak 1983 (dulu Sekretaris Umum)–tak ingin mengganggunya. Yang bisa saya lakukan pada Jumat siang pekan lalu itu hanya mereka-reka suasana hatinya.

Kemerdekaan di meja makan itu pernah pula kami rasakan ketika bersama beberapa rekan membicarakan orang yang paling tepat memimpin PSSI, jauh sebelum Nurdin Halid terpilih pada akhir 2003. Di restoran La Brasserie, Hotel Le Meridien, sambil menyantap bekicot rebus, kami bicara sebebas-bebasnya, berangan-angan, dan berharap sepak bola Indonesia merdeka dengan arti yang sebenar-benarnya: sepak bola yang tidak bermasalah.

Kini, setelah sekian tahun berlalu, ternyata sepak bola kita (PSSI) masih saja bermasalah jika tak mau dikatakan belum merdeka. Organisasi olahraga terbesar di Tanah Air itu masih saja direpotkan soal penyempurnaan Pedoman Dasar, yang tentu saja membuat PSSI tidak bebas bergerak. Ini jelas mengganggu. Jika saja FIFA tidak menerima penyempurnaan Pedoman Dasar itu (Federasi Sepak Bola Dunia itu akan menerima delegasi PSSI di Zurich, Swiss, 29 Agustus 2008), saya tidak tahu lagi apa yang terjadi.

Kerepotan menyempurnakan Pedoman Dasar (Nugraha harus bolak-balik ke markas Konfederasi Sepak Bola Asia di Kuala Lumpur) jelas merupakan masalah dan ini tidak pernah terjadi pada kepengurusan sebelum-sebelumnya.

Gambaran sepak bola bermasalah terlihat dalam pelaksanaan Liga Super 2008. Pada kompetisi tertinggi di Tanah Air itu, ada klub yang tidak mampu menyelesaikan masalah pemakaian stadion, sehingga Persitara Jakarta Utara, Persita Tangerang, dan PSMS Medan harus terusir dari “rumahnya” sendiri. Persoalan lain, Persib Bandung dan Persija Jakarta tidak bisa bertanding di kandang masing-masing karena kepolisian setempat tidak memberi izin untuk tim tuan rumah.

Selain persoalan stadion–dan ini sangat menyedihkan–masih ada klub yang berharap “durian runtuh”. Padahal pemakaian dana anggaran pendapatan dan belanja daerah sudah diharamkan dan tidak bisa dipakai untuk mengelola tim sepak bola profesional.

Sepak bola kita belum merdeka terlihat pula ketika Piala Kemerdekaan kembali digelar setelah delapan tahun terhenti (Piala Kemerdekaan terakhir digelar pada 2000). Belum merdeka, karena kita sepertinya tak mampu lagi mengundang tim-tim besar ke Jakarta. Jika Brunei Darussalam dan Kamboja dikatakan tidak termasuk tim kelas bawah, mengapa Stadion Gelora Bung Karno sepi penonton?

Saya tak hendak mengganggu Pak Sekjen yang bertipe slugger jika beliau diibaratkan sebagai petinju. Tapi saya harus sering-sering mencuri pandang karena kondisi sepak bola kita, setidak-tidaknya untuk saat ini, bisa terlihat pada wajahnya. Sebenarnya, saya ingin mengatakan, “Sepak bola kita belum merdeka, Pak Nug.” Sayang makan siangnya belum juga selesai.

(Koran Tempo, Minggu, 24 Agustus 2008, Ilustrasi Imam Yunni)