Tag

, , , , , , , , ,

Yon Moeis
Wartawan Tempo

Yoyok Sukawi mungkin sudah melupakan Bonggo Pribadi. Sejak Bonggo dipecat Yoyok sebagai pelatih PSIS Semarang, Agustus tahun lalu, kedua lelaki yang lama berteman ini tak lagi bertemu dan mungkin saja sudah saling melupakan. “Sejak saya meninggalkan Semarang, kami tak lagi saling kontak,” kata Bonggo.

Ya, bisa jadi Yoyok melupakan Bonggo. Yoyok, Manajer Mahesa Jenar, kini sedang “berbulan madu” dengan teman lamanya yang lain: Bambang Nurdiansyah. Bambang–mantan pelatih Arema Malang–kembali ditarik Yoyok setelah anak lelaki Wali Kota Semarang Sukawi Sutarip ini memecat Edy Paryono di tengah jalan. Jauh sebelumnya, Yoyok juga pernah memecat Sutan Harhara pada Maret 2006 ketika kompetisi masih berjalan.

Bonggo (Juli lalu membawa PS Sumbawa Barat masuk ke Divisi III Wilayah Timur), Edy, dan Sutan boleh saja tidak mampu memahami jalan pikiran Yoyok yang menjadi petinggi PSIS sejak berusia 22 tahun itu. Tapi Yoyok–lahir di Semarang, 1 Maret 1978, dengan nama Alamsyah Satyanegara Sukawijaya–yang sudah memimpin PSIS selama lima musim kompetisi (termasuk Liga Super 2008) tak hanya menentukan nasib pelatih, tapi juga berkuasa menentukan pelatih berikutnya.

Saya tak mengenal dekat Yoyok dan hanya sedikit tahu tentang dirinya. Menurut seorang teman, Yoyok adalah teman yang menyenangkan. Hanya itu yang saya tahu dari anak muda berusia 30 tahun itu. Selebihnya, yang bisa saya lakukan adalah menakar-nakar keberaniannya, termasuk keberanian dia kembali menarik Bambang sebagai pelatih PSIS (Bambang pernah menukangi PSIS pada 2005).

Yoyok tak hanya berani membawa Bambang kembali ke Semarang dan menukar nilai kontrak temannya itu dengan sebuah mobil Kijang Innova dan sebidang tanah di Ungaran–daerah berudara sejuk yang letaknya 15 kilometer dari Kota Semarang–tapi juga berani mengendalikan PSIS dalam kondisi tanpa kucuran dana anggaran pendapatan dan belanja daerah. Sungguh keberanian yang tak tertandingi dan hanya Yoyok yang mampu menjalaninya.

Di tangan Yoyok, Mahesa Jenar pernah bermandikan dana APBD: Rp 3,1 miliar untuk musim 2004, Rp 7,2 miliar (2005), Rp 14 miliar (2006), dan Rp 12,2 miliar untuk musim 2007. Untuk musim Liga Super 2008, Yoyok hanya mengantongi Rp 3 miliar (bukan dari APBD) dan setengahnya dipakai untuk membayar gaji pemain. Untuk Bambang, Yoyok membayarnya dengan mobil dan tanah yang nilainya diperkirakan sekitar Rp 500 juta berikut gaji bulanan di atas Rp 10 juta.

Yoyok–dengan segala keberaniannya–bisa menjadi contoh bagaimana mengelola sebuah klub dengan dana pas-pasan. Dengan materi pemain-pemain muda, manajemen tak perlu “membuang” uang banyak. Untuk gaji pemain, berkisar Rp 1 juta hingga Rp 6 juta. Gaji tertinggi diterima Gaston Castano–pemain berdarah Argentina–senilai Rp 40 juta. Dan jangan kaget, ada pemain PSIS yang bergaji Rp 750 ribu.

Yoyok tidak memberlakukan sistem kontrak kepada pemain. Gaji yang diterima para pemainnya hanya per bulan dan istilah kontrak, katanya, “Adalah akumulasi gaji yang diterima pemain setiap bulan.”

Hanya mengantongi Rp 3 miliar, cukupkah Yoyok membawa PSIS menjalani kompetisi Liga Super musim ini? Terus terang, saya tak berani bertanya kepadanya. Dia pasti sudah tahu apa yang harus dia lakukan. Dia pasti menggenjot perolehan dana sponsor dan pemasukan dari tiket stadion. Mengenai kondisi ini, kata Yoyok, “Kecerdasan, kejelian, dan kreativitas manajemen yang akan menentukan.”

Saya tidak akan menyangsikan kecerdasan yang dia umbar itu. Tapi dia harus tahu, dengan materi seadanya, menurut saya, PSIS sulit menembus persaingan klub-klub papan atas di Liga Super. Jangan-jangan–seperti yang saya cemaskan sejak awal–Yoyok terpaksa memecat Bambang di tengah jalan dan melupakannya, seperti dia melupakan Bonggo.


(Koran Tempo, Minggu, 7 September 2008, Ilustrasi Gaus Surahman)