Tag

,

Yon Moeis
Wartawan Tempo

Eka Ramdhani adalah manusia yang beruntung. Pemain Persib Bandung itu kini sedang menikmati kemegahan Argentina. Sebagai negara yang tak henti mencetak pesepak bola dunia, Argentina selama ini hanya bisa dilihat Eka dari gerakan-gerakan kaki Lionel Messi, Gabriel Heinze, atau Hernan Crespo. Tapi kini ia sedang terkagum-kagum berada di negara yang melahirkan Diego Maradona itu.

Eka berada di Argentina bersama tim nasional U-23 yang sedang menjalani pemusatan latihan. Di sana, ia pasti mengagumi Buenos Aires, kota metropolitan terpadat di dunia. Eka, jika sudah kembali pulang ke Bandung dan singgah ke Purwakarta, pasti akan bercerita bahwa ia pernah berada di negara yang dijepit Pegunungan Andes di barat dan Samudra Atlantik di selatan tersebut. Tidak hanya itu, Eka juga akan merasakan getaran-getaran tarian tango yang amat terkenal.

Ya, Eka termasuk manusia beruntung. Jika Eka menolak pelatnas tim nasional ke Argentina, tentu saja, ia tidak akan mendapat tambahan pengalaman sebagai profesional di lapangan bola. Padahal nama Eka Ramdhani pada Piala Asia 2007 sangat mengkilap bersama tim nasional.

Saya sempat geregetan ketika ia bermaksud tidak ikut rombongan tim Ivan Venkov Kolev yang akan diterjunkan ke SEA Games Thailand, Desember mendatang, itu. Eka menolak pemusatan latihan lantaran ingin menunggui istrinya melahirkan. Puspita Kencana, gadis Purwakarta yang ia nikahi Januari lalu, diperkirakan melahirkan bersamaan dengan berlangsungnya latihan di Argentina itu.

Jika ia menolak pemusatan latihan tim nasional, berarti ia mencederai profesi sebagai pemain sepak bola, apa pun alasan yang ia kemukakan. Komisi Disiplin PSSI pasti memanggilnya dan siap menjatuhkan hukuman. Jika ini terjadi, tentu saja, tidak hanya dirinya yang rugi, Persib Bandung juga akan menjadi lumpuh. Kekuatan Persib bakal berkurang lantaran tidak diperkuat Eka, yang harus menjalani sanksi. Ia adalah “jantung” di tubuh Maung Bandung, julukan Persib.

Eka adalah pilar, tidak hanya di Persib, tapi juga tim nasional. Akurasi umpannya sangat terjaga dengan baik. Ia adalah pengatur serangan. Ia sangat jeli membuka peluang bagi rekannya untuk mencetak gol. Karena itu, Ivan Kolev, yang kini menangani tim U-23, sudah mengincar Eka jauh sebelum pelatih asal Bulgaria itu menangani tim senior di Piala Asia lalu.

Sangat disayangkan jika Eka tidak ikut pelatnas tim U-23 ke Argentina hanya karena alasan menunggu istri melahirkan. Ia pasti tahu bahwa perkembangan teknologi telah membuat dunia semakin dekat. Ia bisa setiap saat menelepon ke Purwakarta. Atau bisa bertatap muka sekalipun hanya melalui layar kecil pada telepon selulernya. Ia tidak bakal kehilangan momen untuk melihat senyum istrinya yang lagi cantik-cantiknya itu.

Eka adalah manusia yang beruntung. Ia tidak seperti Zaenal Arif, rekannya di Persib yang sempat meninggalkan markas tim nasional Piala Asia 2007, yang katanya hanya ingin menepati janji dengan presenter cantik sebuah stasiun televisi swasta. Eka juga tidak seperti Cristian Warobay, pemain asal Sriwijaya FC yang mangkir dari pelatnas tim U-23 lantaran terlambat bangun.

Jika Zaenal dan Cristian menjadi orang-orang yang rugi, tapi tidak bagi Eka. Siapa tahu sepulang dari pemusatan latihan di negeri orang itu, ia sudah mengantongi nama-nama yang berbau Argentina, misalnya Nanang Crespo, Cecep Heinze, atau Maman Messi.

(Koran Tempo, Minggu, 7 Oktober 2007)