Tag

, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Yon Moeis
Wartawan Tempo

Persib Bandung tak akan pernah berhenti mengaduk-aduk perasaan para penggemarnya. Begitu pula ketika tim kesayangan masyarakat Bandung itu terhenti di tengah jalan Copa Dji Sam Soe Indonesia 2007 dan tak mampu meloloskan diri ke babak delapan besar Liga Djarum Indonesia 2007. Kini Maung Bandung, julukan Persib, cukup berbangga diri lolos ke Liga Super, yang sudah diberlakukan pada musim kompetisi 2008.

Saya adalah salah seorang yang ikut merisaukan perjalanan Persib. Kerisauan pula yang saya lihat di wajah Irfan Suryadireja, rekan wartawan Pikiran Rakyat, yang sejak empat tahun lalu terus mengikuti perjalanan sang Maung. Ia yang sedang mendapat tugas meliput SEA Games di Nakhon Ratchasima, Thailand, Desember lalu, sempat-sempatnya mengintip peluang Persib, yang akhirnya gagal menembus delapan besar liga. “Persib sudah habis,” katanya.

Tak ingin terseret-seret perasaan rekan yang satu itu, saya membuat catatan-catatan kecil tentang Persib. Dengan jujur saya harus katakan Persib belum habis. Jika saja tim yang dulu merajai sepak bola Perserikatan itu kini tenggelam, bukan berarti sudah habis. Dalam sepak bola, kalah dan menang tak lagi menjadi penting. Jauh lebih penting bagaimana para pengelola mampu menghidupi klub dan bisa memberikan kesejukan kepada penonton, termasuk di dalamnya menyuguhkan gol-gol indah ke gawang lawan.

Terus terang saya sudah sangat terhibur dengan kehadiran Persib. Saya telah ikut menikmati gol-gol indah yang diciptakan Sutiono, Adjat Sudradjat, Jajang Nurjaman, Yusuf Bachtiar, atau Sukowiyono ketika mereka bertarung untuk Persib di arena Perserikatan. Tanpa melupakan nama-nama lainnya, di belakang ada Robby Darwis, Adeng Hudaya, juga Sobur dan Boyke Adam di bawah gawang. Persib dulu adalah Persib yang enak ditonton. Persib yang benar-benar Persib.

Persib yang lahir pada 14 Maret 1933, gabungan Bandoeng Inlandsche Voetbal Bond (berdiri 1923) dan Persatuan Sepak Bola Indonesia Bandung (PSIB), memiliki sejarah panjang nan manis untuk dikenang. Di arena Perserikatan, Persib meraih gelar juara pada 1961, 1986, 1990, dan pada kompetisi terakhir 1994 sebelum Perserikatan dilebur menjadi satu dengan Galatama menjadi Liga Indonesia. Persib juga meraih runner-up pada 1950, 1959, 1966, 1983, dan 1985.

Perjalanan Persib di Liga Indonesia memang tidak menyenangkan. Setelah meraih gelar juara di liga pertama pada 1995, prestasi Persib seperti jatuh-bangun–jika tak ingin dikatakan terus menukik tajam. Bermaterikan pemain juara Perserikatan 1990, Persib yang ditukangi Indra M. Thohir pada partai final di Stadion Utama Senayan, 30 Juli 1995, melibas klub Galatama, Petrokimia Gresik, yang saat itu sudah diperkuat tiga pemain asing, yaitu Jacksen F. Tiago, Carlos de Mello, dan kiper Darryl Sinerine.

Mengikuti perkembangan sepak bola (semi) profesional, Persib juga melakukan apa yang dilakukan klub-klub lain. Persib pernah mendatangkan pelatih asing, sebut saja Marek Jonata, Juan Paez, dan Arcan Iurie Anatolievici. Juga sederet pemain asing. Tapi entah mengapa prestasi Persib tak juga terangkat dan nyaris terperosok ke jurang degradasi pada musim kompetisi 2003. Persib tak bersinar terang seperti ketika masih diperkuat Robby Darwis dan kawan-kawan di arena Perserikatan.

Dari catatan-catatan yang tak menyenangkan ini, saya berkesempatan melihat Persib bertanding di Piala Yusuf pada Januari 2007 lalu. Kepada rekan-rekan yang meliput turnamen tahunan yang dihidupkan kembali di Stadion Mattoangin Makassar itu, saya katakan Persib telah lahir kembali dan bakal menjadi juara musim 2007. Saya sangat terhibur melihat Redouane Barkaoui, juga Christian Bekamenga, anggota tim nasional U-23 Kamerun yang menjadi pemain asing termahal di Indonesia dengan nilai kontrak Rp 1,2 miliar. Belakangan saya semakin suka melihat Persib yang diperkuat Eka Ramdhani, Bayu Sutha, dan juga Nova Arianto.

Namun, sudah habiskah Persib ketika gagal di ajang Copa dan Liga Indonesia? Saya katakan tidak jika memang masih ada sedikit kecintaan untuk Persib tanpa harus membuka lembaran-lembaran indah masa lalu.

(Koran Tempo, Minggu, 6 Januari 2008)