Tag

, , , , ,

Ronny Pattinasarany tak mampu menahan air mata. Dia menangis ketika mendengar Iswadi Idris, sahabat dan “musuhnya” itu, pergi lebih cepat. Iswadi (wafat pada 11 Juli lalu), yang disebut Ronny musuhnya di lapangan, pergi ketika Ronny sedang berjuang melawan penyakit. Dia seperti tak menerima kepergian Iswadi. Dadanya terasa sesak. “Kami melihat dia menangis,” kata Donny Pattinasarany, adik Ronny.

Perasaan Ronny yang tumpah itu pula yang kita rasakan ketika legenda sepak bola itu pergi. Jumat lalu, Ronny pergi ketika dia tak lagi berdaya menghadapi kanker hati yang menyerang paru-paru dan tulang belakangnya.

Satu hari sebelum berangkat untuk yang kedua kalinya ke Cina, 22 Februari lalu, saya bertemu dengan lelaki kelahiran Makassar, 9 Februari 1949, itu di kantor Badan Tim Nasional PSSI untuk sebuah wawancara. “Saya sedang berjuang melawan penyakit ini. Saya harus sembuh,” kata Ronny. Waktu itu, Ronny sempat berfoto bersama Risdianto dan Januar Arifin, dua rekannya di klub Warna Agung dulu.

Tekad Ronny untuk sembuh sangat kuat. Dia tak peduli ketika dokter di Jakarta memvonis harapan hidupnya tinggal satu bulan. Menghadapi kenyataan itu, Ronny mengatakan dirinya sangat mengandalkan Tuhan. Dia sangat percaya Tuhan akan menyembuhkannya lewat tangan-tangan dokter.

Keinginan Ronny yang begitu kuat untuk sembuh itu juga terpicu oleh pengalamannya menyaksikan langsung saat-saat kesembuhan kedua putranya, Benny dan Yerry, dari belenggu ketergantungan narkotik. “Dulu mereka kuat karena saya. Sekarang saya kuat karena mereka.”

Sebelum berangkat untuk kedua kalinya ke Guangzhou itu, Ronny masih menegaskan bahwa dirinya adalah orang bola yang lahir dan dibesarkan di lapangan sepak bola. Karena itu pula dia ingin mengakhiri perjalanan hidupnya di dunia yang telah membesarkan namanya tersebut. Dia ingin mewujudkan obsesi mendirikan akademi sepak bola, yang kelak melahirkan pemain-pemain nasional. Meski obsesi itu tak pernah terwujud, saya yakin akan ada anak-anak Indonesia yang bakal menggantikannya.

Dia juga pernah mengatakan sepak bola masih bisa menjadi pilihan hidup. “Saya harus melawan orang-orang yang mengatakan pemain sepak bola tidak punya masa depan,” kata Ronny, yang pernah bekerja di Bank Negara Indonesia selama lima tahun, yang kemudian dia tinggalkan untuk kembali ke lapangan sepak bola.

Sepak bola adalah dunia Ronny. Dia tanamkan cinta dan hatinya di sana. Keteladanan Ronny ketika masih berada di lapangan dan ketulusan ketika tak lagi menjadi pemain bisa menjadi contoh. Itu dia buktikan ketika keluarga dan teman-temannya adalah kekayaan yang tak ternilai bagi dirinya.

Saya merasakan cinta dan kekayaan yang dimiliki Ronny ketika dia melepas kepergian Stevanus Sirey, yang meninggal pada 12 April lalu. Dia mengenang sahabatnya itu lewat pertandingan bersama mantan-mantan pemain nasional. “Dia sahabat saya. Dia sudah pergi.” Stevanus, yang dikenang Ronny, adalah mantan pemain nasional yang lama bermain di klub Warna Agung.

Keluarga adalah kekayaan Ronny yang lain. Dia merasakan doa yang dikirim Stella Maria, istrinya, serta tiga anaknya, Robbeno Pattrick Pattinasarany (Benny), Hendry Jacques Pattinasarany (Yerry), dan Tresita Diana Pattinasarany (Cita) ketika menjalani cobaan ini, juga ketika dia akhirnya pergi. Saya masih mengingat ketika Ronny berkata, “Mereka orang-orang yang saya cintai.”

Bang Ronny, kami juga cinta Abang. Pergilah…

(Koran Tempo, Minggu, 21 September 2008)