Tag

, , , , , , , ,

Iswadi Idris, mantan pemain nasional, tadi malam di Rumah Sakit MMC Kuningan, mengembuskan napas terakhir. Bang Is, begitu Iswadi biasa dipanggil, meninggal setelah dirawat dan tidak sadarkan diri sejak Selasa malam lalu. “Bang Is dilarikan ke rumah sakit sehabis menonton bola bersama Risdianto di Lebak Bulus,” kata Andjas Asmara, mantan pemain nasional.

Jenazah almarhum tadi malam dibawa ke rumah duka, di Perum Buncit Indah, Jalan Mimosa Raya F-15 Warung Buncit, Jakarta Selatan. Jenazah dimakamkan di TPU Karet, Jakarta Pusat, hari ini seusai salat zuhur.

Iswadi Idris–lahir di Banda Aceh, 18 Maret 1948–adalah pemain nasional yang terkenal cerdik. Namanya berkibar sebagai gelandang serang tim Merah-Putih sejak bergabung dengan tim nasional junior pada 1967 hingga 1980-an. Ia dikenal memiliki akselerasi yang tinggi dan kerap membahayakan gawang lawan. “Bareng sama Abdul Kadir, Jacob Sihasale dan Soetjipto Soentoro, kami dikenal sebagai tim penyerang tercepat di Asia,” katanya dalam logat Betawi yang kental, beberapa waktu lalu.

Di bawah asuhan pelatih Belanda, Wiel Coerver, Indonesia ketika itu merajai turnamen-turnamen di Asia pada 1960-an. Pada 1964, misalnya, Iswadi dan kawan-kawan membawa Indonesia menjuarai Merdeka Games di hadapan publik tuan rumah Malaysia. Pada 1968, tim nasional membawa pulang trofi Piala Raja dari kandangnya, Thailand. Setahun sesudah itu, Indonesia nyaris menembus putaran final Piala Dunia sebelum kalah lewat adu penalti oleh Korea Utara, tim terkuat di Asia saat itu. “Iswadi adalah kapten yang pantas diteladani karena jiwa kepemimpinannya di lapangan dan di luar lapangan. Iswadi adalah pribadi yang menyenangkan,” kata Dede Sulaeman, mantan pemain nasional.

Darah olahraga mengalir deras dalam tubuhnya. Ayahnya, Idris, adalah mantan pemain klub Persis Solo. Ibunya, Siti Hawa, yang berdarah Aceh, adalah mantan atlet atletik. Orang tuanya sangat mendukung aktivitasnya bermain sepak bola. Mereka secara bergantian menunggui Iswadi latihan sepak bola mulai pagi sampai petang. Iswadi kecil yang berusia 9 tahun ketika itu dimasukkan ke klub Merdeka Boys Football Association (MBFA).

Kariernya sebagai pemain mencapai puncak ketika ia direkrut klub Western Suburb, Australia, pada 1974. Hanya setahun ia bertahan di sana. Seperti kebanyakan pemain Indonesia, adaptasi terhadap kondisi di luar negeri menjadi hambatan utamanya. Bekalnya itu ia manfaatkan untuk menjadi pelatih-pemain pertama di Indonesia ketika membela Jayakarta sampai 1982. Pemain bertinggi badan 163 sentimeter itu lantas dipercaya PSSI pelatih PSSI Garuda II, yang mendapat hasil mengecewakan ketika berhadapan dengan Jepang, Hong Kong, dan Taiwan. “Saya cuma mendapat waktu persiapan tiga minggu,” katanya. Ia nekat menerima tugas itu karena, “Kalau bukan saya, siapa lagi?”

Bersama Andjas dan Dede, Iswadi adalah penulis tamu Koran Tempo sepanjang Euro 2008. Tulisan terakhir Iswadi adalah menjelang pertandingan final antara Jerman dan Spanyol. Selamat jalan, Bang Is….

(Koran Tempo, Sabtu, 12 Juli 2008)