Tag

, , , , , , ,

Drg Endang Witarsa telah pergi. Mantan pelatih tim nasional itu kemarin pukul 04.30 WIB meninggal dalam usia 92 tahun setelah menjalani perawatan selama tiga pekan di Rumah Sakit Pluit, Jakarta Utara, karena mengalami gangguan di perut dan usus sehingga sulit mencerna makanan.

Dokter Endang, pelatih yang sudah melegenda, meninggalkan dua putra, dua putri, 12 cucu, dan tujuh cicit. Saat ini jenazah almarhum disemayamkan di rumah duka RS Dharmais, Jakarta Barat, dan selanjutnya akan dimakamkan di San Diego Hill, Karawang, Minggu nanti.

Tesa Abadi, salah satu cucu almarhum, bersama Fam Tek Fong, salah satu anak didik drg Endang, ikut menyaksikan kepergian almarhum kemarin dinihari. “Sebelum mengembuskan napas terakhir, Opa masih sempat nonton bola,” kata Tesa. Pertandingan sepak bola yang disaksikan bersama itu adalah partai perempat final Liga Champions Manchester United melawan AS Roma. “Opa malah sempat tanya pertandingan apa.”

Di rumah duka kemarin, hadir sebagian besar anak-anak didik drg Endang, di antaranya Ronny Pasla, Risdianto, Iswadi Idris, Sarman Panggabean, Oyong Liza, Andjas Asmara, M. Basri, Rully Nere, dan Sekjen PSSI Nugraha Besoes.

Lahir di Kebumen, Jawa Tengah, pada 4 Oktober 1916, dengan nama Liem Soen Joe, dokter Endang sudah akrab dengan sepak bola sejak kecil. Bila dipaksa mengingat masa kecilnya, dokter Endang hanya tersenyum. “Saya sejak kelas nol sudah main bola,” katanya.

Dokter Endang adalah pelatih bertangan dingin. Sejak tim nasional ia pegang, berbagai prestasi diraih. Ia pernah membawa Indonesia menjadi kekuatan yang ditakuti di Asia pada akhir 1960-an hingga awal 1970-an. Tim nasional yang antara lain diperkuat Yakob Sihasale, Abdul Kadir Risdianto, dan Iswadi Idris menjuarai Merdeka Games di Malaysia (1970), Anniversary Cup III di Jakarta (1972), Pesta Sukan di Singapura (1972), dan President Cup di Korea (1973). Sebelumnya, pada 1964, ia membawa Persija Jakarta menjadi juara dan tim nasional juara Aga Khan Cup di Pakistan (1967). “Persija nggak pernah kalah,” kata dokter Endang.

Menjelang akhir hidupnya, drg Endang, yang masih saja menyambangi lapangan sepak bola Petak Sinkian di kawasan Kota, pernah mengakui tak memiliki apa-apa. Nama besarnya sebagai pelatih tim nasional di awal 1970-an sedikit demi sedikit terkikis. Tapi tak satu pun boleh membantahnya bahwa ia telah menggeluti sepak bola sebagai pilihan hidup.

“Saya dulu kaya raya. Pulang dari Amerika untuk sekolah dokter gigi, saya buka praktek, banyak duit, tapi saya pasti sudah mati,” kata dokter Endang. “Mending sekarang, saya kere, melarat, tapi hidup saya bahagia.”

Ia memang bahagia di lapangan yang juga dikenal dengan sebutan lapangan UMS, lapangan yang sudah banyak mencetak pemain nasional dari tangannya. Ia memang tak lagi mampu mengingat semua nama anak-anak asuhnya. “Dulu ada Yakob (Sihasale), Ronny (Pattinasarany), (Abdul) Kadir, Waskito, Iswadi Idris. Saya sayang mereka. Saya sayang pemain,” katanya. “Karena saya sayang pemain, saya disayang Tuhan.”

Dokter Endang, selamat jalan.

Fam Tek Fong
“Saya sangat kehilangan. Dia adalah guru saya. Dia keras dalam melatih, tapi sangat mendidik. Dia keras bukan berarti dia jahat. Jika ada pemain yang malas, pasti ia habisi. Dia maki habis. Tapi maksudnya baik. Dia sayang sama pemain.”

Dede Sulaiman
“Dokter Endang adalah salah satu pelatih terbaik yang kita miliki. Cara dia melatih sangat keras, tapi untuk kebaikan pemain. Dia sangat familiar dengan pemain. Saya sangat merindukan kata-kata goblok yang ia keluarkan ketika sedang marah. Saya sangat kehilangan. Dia berhasil menjadi pelatih.”

Ronny Pasla
“Dia pelatih yang memiliki karakter kuat. Luar biasa dan sangat keras. Kami pernah menyebutnya dengan kata “komunis”. Dia tak pernah melihat waktu dalam menurunkan ilmunya. Pada siang bolong, dia bisa saja menarik pemain ke lapangan untuk berlatih. Hujan-hujan, kami tetap berlatih. Saya tak bisa melupakan dia.”

Sarman Panggabean
“Dokter Endang adalah pelatih terbaik. Dia sangat fenomenal. Ketika mengikuti Pra-Piala Dunia di Sydney pada 1973, saya pernah marah dan ngamuk karena tidak dipasang dalam tim inti. Saya minta dipulangkan ke Indonesia. Tapi pada akhirnya saya sadar ini merupakan pelajaran dari dia dan akhirnya saya dipasang juga.”

Rully Nere
“Dia pelatih yang paling banyak melahirkan pemain-pemain ke tim nasional, mulai generasi M. Basri, Iswadi Idris, hingga Widodo C. Putra. Saya datang dari Papua, langsung dia tangani di klub Warna Agung. Juga di tim nasional. Dia penuh disiplin. Sangat kebapakan. Saya bangga karena dia telah memilih sepak bola sebagai jalan hidupnya.”

Iswadi Idris
“Sangat kehilangan. Dia adalah guru, orang tua, dan teman yang terbaik. Di luar lapangan, kami bisa bicara seenaknya. Kami sangat akrab. Dia tidak membuat batasan-batasan terhadap pemain. Dia bisa marah, memaki-maki. Tapi dia sangat baik. Saya telah kehilangan. Dia sudah pergi.”

(Koran Tempo, Kamis, 3 April 2008)