Tag

, , , , , , , , ,

Yon Moeis
Wartawan Tempo

Setiap kali melintas jalan H O.S. Cokroaminoto di kawasan Menteng, setiap kali itu pula saya teringat Todung Barita Lumbanraja (almarhum). Di sana–jauh sebelum Taman Menteng ada–berdiri Stadion Menteng dan saya selalu ditawari nasi goreng petai oleh Bang Todung setiap kali mampir ke sana.

Kenangan 20 tahun lalu itu kembali terlintas ketika saya berdiri di depan Taman Menteng (diresmikan Gubernur Sutiyoso pada 28 April 2007) pada Kamis malam lalu. Di salah satu ruang di kolong stadion, kami–terkadang bersama Sakti Sawung Umbaran, rekan wartawan Pos Kota–menghabiskan malam sambil ngobrol seputar sepak bola.

Mengenang kembali Bang Todung, begitu saya memanggil Ketua Umum Persija Jakarta tersebut, saat ini adalah saat yang tepat ketika banyak klub sedang dihantam masalah keuangan, yang bisa membuat klub itu bubar di tengah jalan. Jauh sebelum dia pergi pada 1997 (posisi Ketua Bidang Peningkatan Sumber Daya Manusia PSSI pada era Azwar Anas yang dipegang Todung, yang kemudian diteruskan Agum Gumelar), dalam obrolan sepak bola itu, saya masih ingat obsesi-obsesinya yang tak pernah terwujud.

Waktu itu, dia begitu memimpikan bagaimana getaran sepak bola Jakarta bisa ke mana-mana. Atau denyut nadi Persija mengalir bersama aliran darah setiap orang yang mencari makan di Jakarta. Dia tak hanya menyebut Persija sebagai tim elite, tapi juga setiap daerah memiliki tim yang benar-benar berkualitas dan dipegang tangan-tangan profesional. Dia juga memimpikan kelak Bandung punya Bandung United, Surabaya United untuk klub yang bermarkas di Surabaya, atau Semarang dengan nama Semarang FC.

Dari sosok Todung Barita Lumbanraja yang saya kenal itu, ternyata sepak bola sangat baik dipegang orang-orang “gila” yang siap menjadi gila. Dari fakta yang ada, sebut saja, nama Harry “Gendhar” Ruswanto, Manajer Persitara Jakarta Utara; Yoyok Sukawi, Manajer PSIS Semarang, dan juga Iwan Budianto, Manajer Persik Kediri.

Harry, yang hanya mengandalkan keberanian, ternyata masih sanggup membawa pasukannya hingga pertengahan putaran kedua Liga Super musim ini. Padahal, saya tahu, kantongnya sudah bolong. Dia melangkah dengan terus menumpuk utang. Dia terus melangkah ketika anggaran pendapatan dan belanja daerah masih diperbincangkan boleh-tidaknya dipakai untuk mengelola sepak bola profesional.

Yoyok–anak lelaki Wali Kota Semarang Sukawi Sutarip–tak ingin menyerah lebih awal. Dia jalan dengan kondisi keuangan klub yang pas-pasan. Hanya, yang membedakan dari Harry, Yoyok sudah berani melakukan pengetatan. Dia sanggup menekan harga pemain serendah mungkin (jangan kaget ada pemain PSIS yang bergaji Rp 750 ribu).

Iwan Budianto? Saya tak hendak mereka-reka kekayaan yang dimiliki menantu Wali Kota Kediri H A. Maschut itu. Lelaki pesolek yang sudah “meninggalkan” kursi Komite Eksekutif PSSI itu, menurut saya, termasuk lelaki pemberani dan bernyali. Saya tidak tahu lagi apa yang harus dia lakukan ketika Persik sudah dinyatakan “koma” oleh mertuanya itu.

Harry, Yoyok, Iwan, terus terang saya suka melihat mereka masih berada di pinggir lapangan. Mereka adalah orang “gila” dari banyak orang “gila” lain yang tidak begitu beruntung jika melihat klub yang mereka pegang. Tidak seperti Persija Jakarta, PSM Makassar, atau Sriwijaya FC misalnya. Di balik tiga klub yang menjadi contoh ini, masih ada orang-orang yang punya uang atau setidak-tidaknya punya kekuatan “menekan” orang lain.

Di Makassar, misalnya, meski tidak boleh ada dua matahari terbit di sana, orang-orang Makassar bisa menjadi satu jika urusannya adalah sepak bola. Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo dan Wali Kota Makassar Ilham Arif Sirajudin bukan orang-orang yang tega jika PSM Makassar harus bubar hanya karena kehabisan dana. Mereka punya power seperti kekuatan yang juga dimiliki Alex Noerdin, Gubernur Sumatera Selatan, yang terpaksa mengambil sikap ketika melihat Sriwijaya FC sedang sekarat. Atau Foke, Gubernur DKI Jaya, pasti akan dimusuhi orang se-Jakarta jika Persija harus bubar.

Stadion Menteng, yang sudah lama roboh itu, yang di tempat tersebut pernah ada orang bernama Todung Barita Lumbanraja, adalah inspirasi ketika sepak bola harus dipegang orang-orang “gila”. Jika tidak, saya khawatir, bakal banyak klub tak bertuan dan hanya menjadi bangkai.

(Koran Tempo, Minggu, 28 September 2008)