Tag

, , , , , , , ,

Yon Moeis
Wartawan Tempo

Eddy Syahputra agaknya ingin mengunci perasaannya sejenak. Dia berada di rumah ketika Persija Jakarta menghentikan perlawanan PSIS Semarang 5-0 di Stadion Gelora Bung Karno, Minggu malam, 7 September lalu. Partai yang disaksikan sekitar 40 ribu pasang mata itu tentu saja–setidak-tidaknya bagi Eddy–sangat tidak menyenangkan. Malam yang dia harap menjadi malam yang indah seketika berubah menjadi malam pembantaian.

Bisa jadi Eddy Syah–begitu lelaki berdarah Aceh yang pesolek itu biasa dipanggil–tak ingin ikut menumpahkan perasaannya pada partai penting itu. Dia tak ingin terlibat lebih dalam dan memilih menonton dari rumah karena pemain-pemainnya bertanding di sana.

Sebagai agen pemain yang sudah berlisensi FIFA, Eddy tak bisa “menjamah” pemain ketika pemainnya sudah menjadi milik klub. Yang hanya bisa dia lakukan adalah mengoreksi dari jauh dua pemain Persija, yakni Roberto Pugliara, yang tak mampu berperan sebagai jangkar, dan Greg Nwokolo, yang selalu tergesa-gesa masuk ke jantung pertahanan lawan. Atau kepada Christian Gaston Castano (pemain berdarah Argentina itu bergaji Rp 40 juta di PSIS), yang belum juga mencetak gol.

Pemilik agen pemain Ligina Sportindo itu tak bisa melakukan apa-apa ketika wasit sudah meniup peluit tanda pertandingan dimulai. Jika dia harus membisikkan sesuatu, bisikan itu adalah bahwa pemainnya harus bermain baik dan berkelakuan baik sepanjang 90 menit, saat menjelang pertandingan.

Rabu siang lalu, saya bertemu dengan Eddy ketika pemain asing kembali digugat. Sambil menikmati sop kaki dan tempe penyet di lantai bawah pusat belanja FX, kami ngobrol seputar kelakuan pemain-pemain asing yang bermain di Liga Super. Saya ingin bertemu dengan kawan yang satu ini setelah Max Boboy, Direktur Status dan Alih Status PSSI, mengingatkan saya akan pemain-pemain asing yang masuk daftar hitam.

Om Max–begitu saya memanggil Max Boboy–terlihat begitu cemas melihat Liga Super masih diwarnai aksi-aksi konyol pemain asing. Dia terlihat sangat emosi mendengar aksi tidak terpuji yang dilakukan Emile Bertrand Mbamba, pemain Arema Malang, ketika terjadi kerusuhan dalam partai Arema versus PKT pada 13 September lalu. Pemain berdarah Kamerun yang pernah memperkuat Vitoria Setubal, Liga Super Portugal, itu akhirnya kena sanksi Komisi Disiplin lima tahun dan denda Rp 50 juta. Hukuman ini tentu saja menamatkan kariernya di Indonesia.

Mbamba adalah pemain hitam yang masuk bersama 45 pemain lain yang not recommended, yang tentu saja membetot perhatian Max. Max begitu benci dengan mereka–para pemain asing itu–yang mengumbar emosi.

Saya tak hendak memancing emosi Max Boboy ketika dia menyebut pertalian pemain asing dengan pemilik klub dan juga agen pemain ketika peristiwa yang menjijikkan itu terjadi di lapangan. Saya hanya terdiam saat dia kembali menegaskan bahwa klub, juga agen pemain, tidak boleh begitu saja melepas pemain (asing). Mereka, kata Max, harus ikut bertanggung jawab dan ikut membina.

Eddy Syah seketika bereaksi ketika saya meneruskan masalah ini kepadanya. Ketika obrolan seputar pemain asing berlangsung, dia tidak dalam posisi dilematis. Dia sangat apresiatif ketika Pierre Njanka Beaka–lahir di Kamerun, 15 Maret 1975, dan pernah bermain di Al-Wahda FC–mengancam manajemen Persija agar membayar kontraknya. Dia juga sependapat jika Mbamba mendapat hukuman berat sesuai dengan yang dia lakukan. Keputusan menghukum pemain Arema itu selama lima tahun adalah keputusan yang tepat jika tidak dikatakan sebagai shock therapy.

Wahai pemain asing, masih inginkah kalian mencari makan di Indonesia?

(Koran Tempo, Minggu, 12 Oktober 2008, Ilustrasi Imam Yunni)