Tag

, , , , ,

Yon Moeis
Surat dari Kuala Lumpur (1)

Penjara Pudu masih berdiri, tapi tidak lagi berpenghuni. Tempat menginap para penjahat yang dibangun pada 1895 itu, sejak tiga tahun lalu ditutup. Seluruh penghuninya dipindahkan ke rumah tahanan Sungai Buloh, sebelah utara luar Kuala Lumpur.

Sebelum benar-benar tak berfungsi lagi, Penjara Pudu pernah dijadikan objek parawisata bagi para pelancong. Di sana, siapa pun, boleh tengok-tengok bilik penjara, bilik tiang gantungan dan, boleh pula berlama-lama di dalam. “Tapi kini sudah benar-benar tutup,” kata Nurul Aswa, mahasiswi semester IV Jurusan Alam Sekitar Universitas Putra Malaysia, Selangor.

Pudu kini sudah benar-benar tutup. Di dalam penjara, di halaman dan di dalam semua bilik, sudah ditumbuhi rumput-rumput liar. Sebagaimana rumah tak berpenghuni, cat temboknya sudah mulai luntur, kayu-kayunya sudah mulai keropos, jeruji besi dan gembok-gembok berukuran besar sudah berkarat.

Selain nama, masih ada yang tersisa dari Penjara Pudu. Jika bangunan ini masih dipertahankan-menurut rencana akan direnovasi khusus untuk penjahat dadah (narkoba)-yang tertinggal adalah gambar-gambar hutan yang mengelilingi tembok luar. Warna hijau sangat mendominasi. Sehingga memberikan kesan sejuk, damai, padahal di dalamnya pernah bermalam berbagai penjahat, mulai kelas teri hingga kelas kakap.

Penjara Pudu terletak di ujung Jalan Pudu yang jaraknya tak lebih dari dua kilometer. Di ujung sana, telah dikenal Pudu yang lain yang letaknya mengambil satu ruas Jalan Pudu yang berjarak sekitar seratus meter. Di sana, ada kehidupan yang tak pernah mati selama 24 jam. Di ruas ini berdiri Hotel Pudu. Hotel yang telah berusia hampir 30 tahun itu seolah menghidupkan nama Pudu yang yang tak pernah tidur.

Di bawah hotel berlantai 18 ini, terdapat terminal bus dan di lantai tiga terminal taksi. Bus-bus yang mangkal di terminal ini, melayani penumpang ke berbagai tujuan, diantaranya, Ipoh, Johor Bahru, Penang. Sedangkan taksi yang mangkal di lantai tiga bangunan Hotel Pudu, melayani penumpang ke luar kota, di antaranya Genthing Island.

Bila Anda berkesempatan menginap di Hotel Pudu yang bertarif 99 ringgit Malaysia atau sekitar Rp 240 ribu, haruslah Anda yang memiliki nyali besar. Soal makan, di sini, tak masalah. Di atas terminal, terdapat banyak kedai makan yang menjajakan berbagai pilihan. Begitu pula malam hari. Di depan Hotel Pudu terdapat beberapa tempat makan.

Bernyali besar, berada di kawasan ini, belum tentu juga menjadi jaminan. Bila sedang apes, sesuatu yang tak diinginkan bisa saja terjadi. Menurut beberapa orang Indonesia yang sempat berada di sini, kondisi dan situasi kawasan ini mirip dengan Terminal Pulo Gadung.

Hasan, sopir taksi yang sudah delapan tahun berada di Malaysia, mengingatkan agar selalu berhati-hati di kawasan ini. Apalagi, katanya, tingkat kejahatan kriminal di Kuala Lumpur sedang tinggi-tingginya. “Banyak preman, ati-atilah di sane,” kata Hasan yang mengaku berasal dari Riau.

Kawasan ini memang sudah tak asing bagi orang-orang Indonesia yang telah dan akan memilih hidup dan mencari makan di Kuala Lumpur. Pendatang haram atau sekedar melancong, pasti akan singgah di sini; menginap di Hotel Pudu dan makan di depan atau di bawah bangunan hotel. “Di sini macam apapun adelah. Termasuk preman,” kata Hasan lagi.

(Koran Tempo, 10 September 2001)