Tag

, , , , ,

Yon Moeis
Surat dari Kuala Lumpur (2)

Bersih, nyaman, dingin dan tidak berisik. Juga, jangan harap Anda menemukan sampah, sekali pun hanya sepotong kertas atau puntung rokok. Lima jalur kereta api yang melintas Kuala Lumpur, telah memberi kenyamanan sejak penumpang membeli tiket.

Di setiap stasiun yang rata-rata berada di bawah tanah, terdapat seorang petugas tiket. Setelah tiket dibeli, penumpang menuju pintu masuk yang hanya bisa terbuka dengan tiket yang dibeli. “Sejuk dan nyamanlah naik kereta di ke el (KL),” kata Diana seorang palajar yang naik dari Stasiun Hang Tuah dan turun di Stasiun Bukit Jalil.

Sejuk dan nyaman adalah kondisi yang ditawarkan pengelola kereta. Keretapi, demikian orang Malaysia menyebutnya, berhenti dan berangkat sesuai kebutuhan. Artinya, tren (sesuai sebutan lidah orang Malaysia) akan berangkat jika tak ada lagi penumpang. Di setiap stasiun, tak terlihat banyak orang berjejal. Mereka, pamakai jasa ini, sudah tahu setiap enam atau sepuluh menit kereta tiba.

Di dalam kereta, suasananya hening sekalipun penumpangnya agak penuh. Jarang terdengar ada yang ngobrol. Meskipun ada, itu dilakukan dengan berbisik. Ngobrol lewat handphone pun nyaris tak terlihat. Jika ada pun, penerima telepon selular itu pasti segera memutus pembicaraan.

Sesuai sebuah iklan telepon yang terpampang di setiap gerbong ‘Tiada Lagi Persoalan’, begitulah yang ditawarkan. Setiap penumpang, sendiri atau pun dalam rombongan kecil, tidak akan menemukan persoalan di dalam train. Ini sungguh beda jauh bila berada di dalam kereta Depok – Kota.

Penumpangnya, terutama orang Malaysia, tidak akan minta penumpang lain bergeser dari tempat duduk sekalipun ada ruang. Mereka, agaknya, memilih berdiri ketimbang mengganggu kenyamanan penumpang yang terlebih dahulu duduk.

Ada lima jalur train yang rata-rata melintas kota Kuala Lumpur. Di lima jalur ini, train satu dengan yang lain tak bertemu dalam satu titik. Jika ada pertemuan, pertemuan itu dibatasi dengan jarak yang berdekatan atau atas dan bawah. Pertemuan tidak dalam satu titik ini dimaksudkan untuk mempermudah penumpang mengganti kereta untuk melanjutkan perjalanan.

Kereta Tanah Melayu (KTM) adalah satu sistem train terlama yang pertama kali diterapkan pada 1885 dari Taiping ke Port Weld. Sejak 1997, KTM yang semula milik pemerintah kini milik konsorsium yang sudah diswastakan. Marak Unggul, Renong Berhad yang konon milik Mahathir Mohammad, Diversifield Resources Berhad, Bolton Berhad dan Jasa Meta, telah bekerja sama dalam KTM Berhad. Rute KTM adalah Sentul – Port Kelang, Rawang – Seremban.

Tiga jalur lain dilayani Projek Usahasama Transit Ringan Automatik (PUTRA) dengan jalur Kelana Jaya – Terminal Putra, dan Sistem Transit Aliran Ringan Sdn Bhd (STAR) dengan jalur Ampang – Sentul, Sri Petaling – Sentul Timur.

Sistem STAR pembangunannya dikebut ketika Malaysia menjadi tuan rumah Commonwealth Games pada 1998. Hampir 70 persen peserta pesta olahraga persemakmuran itu menggunakan STAR menuju Stadion Bukit Jalil dimana pesta itu dipusatkan. Tiket keretapi rata-rata yang termurah 70 sen dan tertinggi RM2.90. Jam-jam padat tren berkisar pukul 7.30 – 9.00 dan 4.30 – 19.30. Jam keberangkatan pertama pukul 6 pagi dan terakhir pukul 23.30.

(Koran Tempo, 13 September 2001)