Tag

, , , , ,

Yon Moeis
Wartawan Tempo

Azis Fandila berada di Jakarta ketika Tgk. Hasan Muhammad Di Tiro belum menginjakkan kaki di tanah Aceh. Dia terlihat gelisah. Dia terus saja bicara lewat telepon seluler, yang tak lepas dari tangannya.

Saya tidak hendak mengganggu lelaki separuh baya itu–di Bireuen dia dikenal sebagai Azis Bengkel–sekalipun hanya dengan satu kata. Juga tak menanyakan lebih jauh tentang kepulangan tokoh Gerakan Aceh Merdeka itu. Yang pasti, Bang Azis, begitu saya memanggilnya, sedang memikirkan kelanjutan hidup PSSB Bireuen, klub yang bermarkas di Stadion Cot Gapu, Bireuen.

Terus terang saya tidak mampu mencarikan solusi baginya ketika kami berpisah pada Jumat pekan lalu. Dia harus kembali ke kampung halamannya. Dia meninggalkan Jakarta ketika persoalan keuangan sudah melilit PSSB. Semua pemain belum mendapat gaji selama lima bulan. Sebagai manajer klub, dia harus menutup lubang untuk kemudian membuka lubang baru. Dia sudah menggadaikan surat rumahnya.

Sebelum berpisah, saya masih melihat Bang Azis tersenyum. “Lon seunang-seunang mantong,” katanya.

Azis menjadi manajer ketika PSSB masih menyisakan delapan pertandingan pada musim kompetisi 2007. Dia menggantikan Bustami Hamid, waktu itu sebagai Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Bireuen. Untuk musim 2008/2009 ini, PSSB memperoleh Rp 7 miliar dari anggaran pendapatan dan belanja daerah. Tapi uang itu hanya sekejap berada di tangan Azis. Dia harus membayar utang manajemen lama sebesar Rp 6 miliar. Sisanya dia pakai untuk membeli pemain, yang tentu saja hanya untuk 25 persen dari nilai kontrak keseluruhan pemain.

Sebenarnya, saya ingin membisikkan dia agar berhenti saja mengurus sepak bola. Bisikan yang pernah saya lakukan terhadap Harry Ruswanto, Manajer Persitara Jakarta Utara. Gendhar, begitu Harry biasa disapa, sudah habis-habisan. Empat mobilnya sudah dia lego. Tapi semangatnya tetap menyala-nyala seperti yang saya lihat pada wajah Azis.

Setelah menempatkan Harry, Iwan Budianto, Manajer Persik Kediri, dan Yoyok Sukawi, Manajer PSIS, sebagai “orang gila” di sepak bola, saya harus menambah daftar: Azis Fandila atau Azis Bengkel.

“Orang-orang gila” itu pasti sudah tahu betapa sulitnya membawa klub dalam situasi tanpa APBD yang sudah benar-benar diharamkan untuk mengelola sepak bola profesional. Tapi Azis masih sanggup tersenyum dan merasa senang-senang saja. Dia masih memperlihatkan keyakinannya bahwa uang Rp 9 miliar masih bisa didapat. Azis seperti ingin meyakinkan bahwa PSSB harus tetap ikut kompetisi.

Persoalan yang dialami “orang-orang gila” yang siap menjadi “gila” itu tentu saja tidak dialami manajemen Arema Malang, PKT Bontang, dan Pelita Jaya Jawa Barat. Juga klub-klub yang pengelolanya punya power, sebut saja PSM Makassar, Sriwijaya FC, dan Persija Jakarta. Tapi cuma mengandalkan power pun tak cukup. Pengelola sepak bola (klub) harus benar-benar profesional, baik sikap maupun dalam bekerja. Manajemen tidak hanya membuat klub menjadi juara tapi setelah itu ambruk pada musim berikutnya. Klub harus dikelola dengan benar dan para pengelolanya merasa senang.

Jumat malam lalu, saya menghubungi Bang Azis. Setelah menanyakan seputar PSSB, saya sempat bertanya apakah dia sudah bertemu dengan Wali Nanggroe, yang saat ini sedang berkeliling Aceh. Dari jawabannya saya tahu dia sedang senang-senang saja dan mencoba bertahan di Bireuen dan api tak boleh padam di sana.

(Koran Tempo, Minggu, 19 Oktober 2008, Ilustrasi Imam Yunni)