Tag

, , , , , ,

Yon Moeis
Wartawan Tempo

Tawa dan canda Iwan Budianto sudah lama tak terdengar. Dia tak lagi terlihat di ruang kerja Mafirion, Ketua Komite Media Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia. Dulu, bersama Ferry Paulus dan Mafirion, Iwan biasa meledakkan tawa dan canda, yang terdengar bercita rasa tinggi. Tapi kini ruangan itu terasa sepi. Tiga anggota Komite Eksekutif PSSI yang dikenal “vokal” itu sudah lama tak terlihat berada dalam satu ruangan.

Iwan Budianto memang sudah lama tak terlihat di Senayan. Dia “ditarik” mertuanya, H A. Maschut, untuk kembali memegang Persik setelah sekian lama berada di Jakarta. Maschut, yang bakal meninggalkan kursi Wali Kota Kediri, memastikan Iwan sebagai Manajer Persik dalam sebuah acara penghijauan di kawasan Gunung Klotok pada 17 Februari lalu.

“Selamat datang, Mas Iwan, yang sekarang sudah kembali lagi menjadi Manajer Persik,” kata Maschut waktu itu. Sebelumnya, Iwan menyerahkan kursi manajer tim yang bermarkas di tepi Sungai Brantas itu kepada Maschut pada pertengahan musim kompetisi 2007.

Perjalanan hidup Iwan tak bisa dipisahkan dengan perjalanan Persik Kediri. Bersama Persik, dia membuat berbagai keputusan yang membetot perhatian banyak orang. Dia bisa menjadi kontroversial dan mengundang polemik ketika “diam-diam” mencalonkan diri sebagai Wali Kota Kediri.

Saya tak hendak menebak-nebak langkah politik anak muda itu ketika Persik dalam kondisi sekarat. Dana anggaran pendapatan dan belanja daerah sebesar Rp 7,5 miliar untuk musim kompetisi 2008 sudah dia habiskan untuk mempertahankan pemain lama–Christian Gonzales–dan membeli pemain kelas satu, di antaranya Mahyadi Panggabean dan Markus Horison (“Iwan Budianto di Tepi Sungai Brantas”, yonmoeis.wordpress.com).

Iwan memang tak bisa dipisahkan dari Persik. Dia sudah berada di Kediri sejak klub berjulukan Macan Putih itu pindah kasta ke Divisi Utama untuk musim kompetisi 2003. Iwan “ditarik” dari Arema Malang oleh mertuanya, yang bersama Sinyo Aliandoe berhasil membawa Persik menjuarai Divisi I pada 2002. Maschut sudah menjadi Ketua Umum Persik sejak 1999.

Sinyo Aliandoe kemudian meninggalkan Kediri dan posisinya diisi Jaya Hartono, yang sebelumnya merupakan asisten Sinyo. Kemudian, bersama Iwan, Jaya Hartono mempersembahkan gelar juara Divisi Utama Indonesia pada musim 2003. Gelar serupa dicetak Daniel Roekito pada musim kompetisi 2006 setelah menggantikan Jaya.

Iwan jatuh-bangun dan “berdarah” bersama Persik sebelum dia terpilih menjadi anggota Komite Eksekutif PSSI pada pertengahan 2007. Iwan meninggalkan Kediri dan di Jakarta dia berteman dengan Mafirion, Ferry Paulus, juga Muhammad Zein. Sejak itu, empat tokoh muda ini “mendominasi” tubuh organisasi terbesar di Tanah Air itu. Tawa dan canda mereka bisa meledak dan bisa membuat perih orang yang dimaksud.

Saya tidak tahu apa rencana dia selanjutnya setelah gagal menjadi Wali Kota Kediri. Saya yakin dia masih berada di Kediri dan mungkin sedang merenung di tepi Sungai Brantas, sungai yang membelah Kota Kediri. Yang pasti, dia tak boleh patah semangat dan tak boleh meninggalkan Kediri. Dia tak boleh meninggalkan Persik yang sudah dia bangun dengan susah payah, dengan darah, juga air mata.

Mas Iwan, Persik sedang “sekarat”, dan jangan tinggalkan Kediri.

(Koran Tempo, Minggu, 26 Oktober 2008, Ilustrasi Gaus Surahman)