Tag

, , , ,

Yon Moeis
Wartawan Tempo

Rumah makan masakan Padang Kasihan Ombak itu sudah terlihat sepi. Rendang yang menjadi menu andalan tinggal beberapa potong dan banyak menyisakan bubuknya saja. Sambal hijau pun terlihat hampir ludes. Ricky Yakobi belum beranjak dari kursinya. Ia masih asyik ngobrol.

Ricky adalah langganan rumah makan yang sudah ada sejak 1983 di Jalan Asia-Afrika di kawasan Senayan itu. Setiap kali saya ke sana untuk makan siang, pasti ketemu Ricky. Dan setiap kali itu pula kami ngobrol, apa lagi kalau bukan seputar sepak bola. Ricky, mantan pilar Arseto Solo yang pernah bermain untuk klub Matsushita, Jepang, pada 1988, tak pernah henti bergunjing tentang bola, terutama jika sudah menyangkut kepengurusan PSSI.

Darah Ricky Yacobi seketika mendidih jika pembicaraan sudah mengarah ke Nurdin Halid, sang ketua yang masih saja keukeuh menduduki kursinya sebagai orang nomor satu di PSSI. Padahal tubuhnya sudah ada yang membatasinya: tembok penjara.

Saya mencoba memahami isi hati Ricky ketika ia mulai membicarakan PSSI. Saya juga tak hendak membendung curahan-curahan kekecewaannya. Ricky pernah menjadi pembantu Nurdin Halid di awal kepengurusan 2003-2007. Tapi kursi Direktur Pembinaan Usia Muda PSSI ia tinggalkan lantaran tidak lagi ada kecocokan dengan orang-orang di sekitar Nurdin. Ricky pernah merasa tidak nyaman berada di lingkungan Nurdin Halid, yang penuh bara api. Kini ia lebih memilih bermain bola bersama mantan pemain-pemain nasional lain sekaligus untuk sekadar bernostalgia.

Manisnya puncak karier Ricky adalah ketika ia bersama tim nasional meraih empat besar Asia di Asian Games Korea Selatan pada 1986. Tim nasional yang ditukangi Bertje Matulapelwa itu meraih empat besar Asia setelah menahan imbang Qatar 1-1, menyikat Malaysia 1-0, dan membungkam Uni Emirat Arab 4-3. Satu-satunya kekalahan tim nasional di pesta olahraga Asia itu dari Arab Saudi, 0-2. Ricky mempersembahkan satu gol ke gawang Uni Emirat Arab lewat tendangan voli dari jarak jauh.

Sudah lama saya tak mampir ke Kasihan Ombak. Sudah lama pula saya tak ngobrol tentang bola, tentang pengurus PSSI satu per satu, tentang Nurdin Halid dengan Ricky Yacobi. Jika kebetulan ketemu Ricky lagi, saya kira tidak akan pernah lagi mendengar ocehan-ocehannya yang tanpa batas itu. Saya tahu, dia pasti sudah muak. Apalagi mendengar dan melihat kondisi PSSI saat ini.

Meski tanpa Ricky Yacobi, saat ini, siapa pun bebas membicarakan PSSI. Keputusan FIFA agar PSSI membuat pemilihan ketua umum baru memang tidak bisa dibendung lagi. Kini kita semua, orang-orang yang mencintai sepak bola nasional, hanya ingin PSSI mematuhi ketentuan itu. Atau jangan-jangan kita dipaksa menerima jika organisasi tertinggi sepak bola dunia itu menjatuhkan sanksi. Padahal masalah ini cepat terselesaikan jika Nurdin Halid, lelaki perkasa dari tanah Makassar, sejak awal mau meletakkan jabatannya dan memerintahkan orang-orangnya menggelar musyawarah nasional luar biasa untuk mencari penggantinya.

Saya tak hendak berusaha mencari Ricky Yacobi di rumah makan yang rasa teh telurnya nonjok itu. Saya tak ingin membangkitkan emosinya lagi, sekalipun hanya untuk sekadar mengetuk hati nurani Nurdin Halid yang kini berada di penjara.

(Koran Tempo, Minggu, 4 Nopember 2007)