Tag

, ,

Yon Moeis
Wartawan Tempo

Waktu terasa cepat berputar ketika mengikuti perjalanan Nurdin Halid akhir-akhir ini. Selasa lalu, Ketua Umum PSSI itu berada di AFC House Kuala Lumpur untuk memenuhi undangan Mohamed bin Hammam, Presiden Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC). Pada Rabu pagi lalu, ia berada di gedung Dewan Perwakilan Rakyat untuk dilantik menjadi anggota DPR. Sore harinya, lelaki yang pernah mendekam di Salemba ini berada di Lapangan PTIK memperkuat tim sepak bola Muhammadiyah melawan Nahdlatul Ulama.

Namun, waktu terasa berhenti ketika kita mendengar Nurdin harus kembali ke Salemba pada Jumat lalu. Nurdin harus kembali ke guest house–begitu ia menyebut rumah tahanan Salemba–setelah Mahkamah Agung menjatuhkan hukuman dua tahun penjara kepada mantan Ketua Umum Koperasi Distribusi Indonesia itu terkait dengan korupsi minyak goreng.

Tapi, terus terang, ketika Nurdin harus kembali ke Salemba, saya tidak lantas merasa senang atau bersorak gembira. Saya harus jujur mengatakan turut prihatin. Dan dalam kesempatan ini, saya hanya ingin mengajak insan-insan sepak bola sejenak memikirkan bagaimana nasib PSSI, organisasi tertinggi sepak bola nasional, setelah kembali ditinggal Nurdin. Haruskah PSSI kembali dipimpin Nurdin dari balik teruji besi?

Tentu saja tidak. Betapa bodohnya kita jika ini terjadi lagi. Siapa pun boleh saja ngomong bahwa kasus Nurdin adalah masalah pribadi dan tidak bisa dicampur dengan posisinya sebagai Ketua Umum PSSI. Tapi rasanya kita ikut berdosa jika tidak berani mengatakan Nurdin harus meninggalkan PSSI.

Ini merupakan pilihan sulit bagi Nurdin. Tapi, jika ia berani meninggalkan jabatannya dan segera menyerahkan kursi PSSI-1 kepada siapa pun, saya yakin Nurdin bakal kebanjiran simpati. Saya pun akan mengatakan Nurdin sebagai seorang gentlemen.

Tidak seperti ketika ia berada di Salemba (Juli 2004-Agustus 2007) dengan menunjuk Agusman Effendi sebagai Pelaksana Ketua Umum PSSI. Pengangkatan Agusman hanya merupakan akal-akalan untuk mengulur waktu Nurdin keluar dari penjara buat langsung memegang jabatan Ketua Umum PSSI. Dan ini benar-benar terjadi.

Agusman, sebagai tangan Nurdin, ketika memegang jabatan itu tidak banyak berbuat jika terpaksa ada yang mengatakan Ketua Komisi Energi DPR RI itu bukan orang sepak bola. Ini terbukti ketika saya mengkonfirmasi kelanjutan penjualan Persijatim Jakarta Timur ke pemerintah daerah Sumatera Selatan (kini menjadi Sriwijaya FC). Seketika Bang Agusman menjawab, “Kalau tanya minyak sama gas, gue bisa jawab.”

Dari kasus ini, saya hanya ingin mengetuk hati nurani Nurdin. Jika benar ia harus kembali ke Salemba, akan jauh lebih baik bila jabatan Ketua Umum PSSI diserahkan kepada orang yang tepat dan tidak setengah-setengah. Saya yakin Nurdin akan melakukan ini dengan ikhlas karena saya tahu ia begitu mencintai PSSI.

Jika Nurdin menyerahkan jabatannya kepada orang yang tepat, saya ikut menjamin mimpi-mimpinya membawa Indonesia ke Piala Dunia 2018 lewat Visi 2020 akan terus terjaga. Juga keinginannya membela olahraga, khususnya sepak bola, di Komisi X DPR (yang membidangi masalah pendidikan dan olahraga) akan ada yang meneruskannya.

Bang Nurdin, coto Makassar yang terhidang di Rutan Salemba itu masih terasa hangat. Saya ingin mencicipinya lagi.

(Koran Tempo, 16 September 2007)