Tag

,

Yon Moeis
Wartawan Tempo

Mata Nurdin Halid sudah terpejam. Ia lelap dan terlihat letih. Tapi hatinya belum tidur. Bisa jadi saat-saat ini ia sedang merisaukan PSSI, organisasi sepak bola tertinggi di Tanah Air yang untuk kedua kalinya kembali ia tinggalkan. Atau bisa jadi pula ia tenang-tenang saja. PSSI tak akan lari dikejar. PSSI akan tetap menjadi miliknya.

Ketika Mahkamah Agung menyeret NH–begitu lelaki berdarah Makassar itu biasa disebut–ke Salemba, saat itu pula berbagai komentar yang bertalian dengan keberadaan PSSI muncul.

Ada yang mengatakan PSSI tidak akan terpengaruh sepeninggal Nurdin. Roda organisasi itu tak akan terhenti. Jalan terus. Sebab, katanya, kondisi organisasi PSSI saat ini jauh lebih kondusif dibanding tahun-tahun sebelumnya. Ini bisa jadi benar.

Juga ada yang mengatakan PSSI tak mungkin lagi dipimpin dari penjara. Pernyataan ini sangat beralasan. Sangat tidak elok jika kita terpaksa mendengar ada rapat PSSI di penjara. Kebijakan atau keputusan apakah yang kita harapkan dari rumah tahanan itu?

Ada pula yang mengatakan Nurdin harus mundur seperti ia mundur dari Dewan Perwakilan Rakyat. Masalahnya, apa bisa Nurdin bersikap ikhlas dari keputusan yang diambilnya? Padahal ia pasti tahu keikhlasan, dari mana pun datangnya, sekalipun dari balik jeruji besi, kelak akan memberikan kesejukan.

Jika pilihan-pilihan itu tidak memberikan jawaban, mungkinkah musyawarah nasional luar biasa (munaslub) terjadi lagi? Seperti munaslub yang ia bikin di Makassar, April lalu, yang membuatnya kembali memimpin PSSI hingga 2011.

Munaslub? Mungkin saja. Apalagi Mafirion, juru bicara Komite Eksekutif PSSI, telah menyalakan lampu hijau akan kemungkinan itu. Mantan wartawan itu tegas-tegas mempersilakan siapa pun untuk mengajukan keberatan akan posisi terpidana Nurdin Halid sebagai Ketua Umum PSSI.

Hanya, Ketua Bidang Media PSSI itu mensyaratkan pengajuan tersebut harus berdasarkan permintaan dari cabang atau perwakilan organisasi PSSI di daerah, bukan atas perseorangan. Surat pengajuan tersebut, menurut Mafirion, baru akan dibawa ke rapat Komite Eksekutif.

Jadi pintu arah menuju munaslub sudah dibuka lebar-lebar oleh orang dalam PSSI sendiri. Sekalipun pernyataan ini bersifat normatif, tentu saja tidak pantas jika ditelisik dari sudut etika organisasi.

Saya tidak berani mengatakan tak setuju dengan munaslub yang mempunyai agenda mencari Ketua Umum PSSI baru, menggantikan Nurdin Halid. Saya pasti mendukung sekalipun tidak ada yang membenarkan tindakan ini. Yang pasti, yang ada dalam otak saya adalah PSSI tidak akan lagi dipimpin Nurdin Halid.

Tapi, jika munaslub benar-benar terjadi, selesaikah semua cerita ini?

Tentu saja tidak. Saya melihat munaslub yang ditiupkan ini tidak datang dari ketukan hati nurani. Munaslub diarahkan nantinya untuk menghasilkan kepentingan-kepentingan. Jujur saja, dulu sebagian besar anggota Komite Eksekutif PSSI adalah orang-orang yang tidak menghendaki Nurdin Halid.

Saya tidak bisa membayangkan jika ini benar terjadi. Menurut hemat saya, yang bisa menyelamatkan PSSI adalah Nurdin Halid sendiri. Jika ia tidak berani menyerahkan kursinya kepada wakilnya, Nirwan D. Bakrie, saya tidak tahu lagi apa yang bakal terjadi.

PSSI, oh, PSSI….

(Koran Tempo, Minggu, 23 September 2007)