Tag

, , ,

Yon Moeis
Wartawan Tempo

Jika benar hanya ada satu matahari yang boleh terbit di tanah Makassar—setidak-tidaknya untuk urusan sepak bola—matahari itu adalah Ilham Arief Sirajuddin. Ditetapkannya lelaki Bugis itu sebagai Wali Kota Makassar, Rabu malam lalu, menjadi saat yang tepat untuk menyelamatkan PSM Makassar yang sedang sekarat karena terus digerus kesulitan keuangan.

Aco—panggilan akrab Ilham—sangat diharapkan mampu menyinari klub kesayangan masyarakat Makassar yang mulai redup itu. Sayang, Kamis lalu, dia memperlihatkan tanda-tanda menyerah. Ketua Umum PSM yang bakal menjadi Wali Kota Makassar untuk kedua kalinya (2004-2009 dan 2009-2014) itu masih percaya bahwa anggaran pendapatan dan belanja daerah adalah satu-satunya penyelamat klub. Ilham baru akan dilantik menjadi Wali Kota Makassar pada Mei 2009 mendatang.

Saya sebenarnya tidak percaya dengan sikap melemah Pak Wali itu. Ilham yang saya kenal adalah Ilham yang percaya diri, berenergi, figur yang tak mengenal batas, cerdas, dan lebih jauh melangkah ketika orang lain baru berpikir.

Dia juga sangat menghargai pertemanan, hangat, dan kehangatan itu pula yang saya rasakan ketika kami menikmati sop kepiting di Restoran Surya di Jalan Nusakambangan Makassar, Januari 2007. Di sela-sela jamuan makan malam perhelatan Piala Yusuf itu, Aco menyanyikan lagu grup band Padi, Kasih Tak Sampai.

Tetaplah menjadi bintang di langit
agar cinta kita akan abadi
biarlah sinarmu tetap menyinari alam ini
agar menjadi saksi cinta kita berdua, berdua….

Dia menyanyikan lagu itu begitu sempurna. Yang hadir ikut bernyanyi bersama-sama. Mungkin lagu ciptaan Piyu itu tak lagi enak didengar ketika Pak Wali itu tengah dihadang masa-masa sulit dan tidak punya pilihan selain membubarkan PSM (dia menjabat Ketua Umum PSM sejak 2003).

Situasi sulit itu adalah ketika keuangan klub sudah tidak tersisa. Untuk musim ini, PSM membutuhkan dana sedikitnya Rp 21 miliar. Dari jumlah yang dibutuhkan, baru terkumpul Rp 11 miliar, masing-masing dari APBD Kota Makassar sebesar Rp 10 miliar dan Rp 1 miliar dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan. Berarti pengurus masih harus mencari dana sekitar Rp 10 miliar.

Hingga pertengahan April lalu, manajemen sudah menghabiskan Rp 12 miliar untuk belanja pemain. Rp 5 miliar dipakai untuk membeli lima pemain asing, yakni Aldo Bareto, Ouadja Lantame Sakibou, Ali Khaddafi, Claudio Pronetto, dan Julio Lopez. Lopez, pemain berdarah Argentina, harganya Rp 1 miliar.

Itu merupakan angka-angka yang tidak bisa dihindari untuk menjalani klub sekelas PSM. Sebelumnya, tim Juku Eja sudah mendapat siraman APBD sebesar Rp 21 miliar untuk musim 2007 dan Rp 15,5 miliar untuk musim 2006.

Ilham memang belum dilantik menjadi wali kota dan tentu saja ini menyulitkan dia, tapi dia tak boleh menyerah. Dia harus membangun kembali PSM. Dia yang sudah menggunakan sepak bola sebagai kepentingan politiknya tidak boleh lempar handuk. Ilham harus berada di depan untuk menyelamatkan PSM. Dia harus merombak manajemen yang tidak kreatif itu dan mencari orang-orang yang benar-benar punya komitmen sepak bola yang bisa diandalkan.

Tiga belas tahun menjadi pengelola PSM adalah waktu yang cukup panjang untuk dia mengakhiri ini semua. Dia tak boleh berhenti, harus tetap menjadi matahari, dan terus bernyanyi, sekalipun bait terakhir lagu Kasih Tak Sampai yang dia nyanyikan itu terasa begitu pahit.

Sudah, terlambat sudah
ini semua harus berakhir
mungkin inilah jalan yang terbaik
dan kita mesti relakan kenyataan ini….

(Koran Tempo, Minggu, 09 November 2008, Ilustrasi Imam Yunni)