Tag

, , , , , , , , ,

Yon Moeis
Wartawan Tempo

jeffrey5

Waktu begitu sangat berharga bagi Jeffrey J.P. dan tak sedetik pun dia lewati begitu saja. Awal November lalu, dia baru saja pulang dari markas Federation Internationale de I’Automobile (FIA) di 8 Place de la Concorde, Paris.

Tak lama di Jakarta, Jeffrey—J.P. di belakang namanya adalah Joko Prakoso, tapi teman-teman wartawan mempelesetkan dengan Jarang Pulang—sudah terbang ke Balikpapan untuk kemudian berada di Penajam Paser Utara, kota kabupaten di Kalimantan Timur, yang berdekatan dengan Selat Makassar.

“Gue dah di Balikpapan, Jack,” kata Jeffrey.

Jeffrey bukanlah orang penting. Tapi lelaki kelahiran Surabaya, 2 Juli 1957, itu begitu penting jika dikaitkan dengan penyelenggaraan Kejuaraan Dunia Reli mobil (WRC) di Indonesia. Keberadaan Jeffrey di markas organisasi olahraga otomotif dunia itu—dia terbang ke Paris bersama Sadikin Aksa—setidaknya membuat kejuaraan reli dunia itu, yang dijadwalkan pada 2011 di Perkebunan Tebu Takalar, Makassar, terasa semakin dekat.

Ini bisa jadi obsesi Jeffrey. Sebagai Direktur Bloedus Management Indonesia, mitra usaha promotor kejuaraan reli di Indonesia yang berdiri sejak 2003, Jeffrey sangat berkepentingan karena memang itu adalah tugasnya. Dan, tugas itu harus diselesaikan dengan tepat waktu. Tugas-tugas yang sudah dia selesaikan adalah menggelar seri nasional sejak 2002 hingga seri penutup musim lomba 2008, yang hari ini berlangsung di Penajam, 45 menit naik feri dan sekitar dua jam melalui jalan darat.

Saya, juga kita, sangat merindukan reli dunia kembali ke Indonesia, seperti yang saya saksikan di daerah perkebunan di Sumatera Utara pada 1996 dan 1997. Waktu itu pereli-pereli dunia, sebut saja Carlos Sainz, Colin McRay, Tommi Makinen, Juha Kankkunen, dan Richard Burns, beraksi di atas kendaraan dengan kecepatan rata-rata hampir mencapai 200 kilometer per jam. Juga tak ketinggalan Hutomo Mandala Putra (HMP), Ricardo Gelael, Okky Herwanto, Arief Indiarto, Tony Hardianto, dan Irvan Gading.

Saya tak hanya ingat bagaimana Jeffrey—dia navigator HMP—memakai pakaian adat Sumatera Utara di panggung kehormatan bersama Pangeran Cendana itu. Di daerah perkebunan Huta Tonga dan Aek Nauli di Parapat, sekitar 173 kilometer dari Kota Medan, saya menyaksikan sebuah perhelatan yang begitu indah, dirancang jauh-jauh hari, membanggakan, dan membuat kita haru.

Dua kali kejuaraan dunia itu digelar tidak semudah membalik telapak tangan. Dulu, di sana, ada Ikatan Motor Indonesia yang begitu berwibawa sebagai organisasi tertinggi olahraga otomotif Tanah Air, yang dikomandani Bob R.E. Nasution. Om Bob, begitu saya memanggilnya, bersama Tommy juga mendirikan Yayasan Otomotif Indonesia, di samping Yayasan Reli Indonesia yang didirikan pada 1993 dan berada di tangan tokoh-tokoh otomotif Sumatera Utara. Belum lagi dukungan pemerintah pusat dan pemerintah daerah.

Apa yang sudah dan akan dilakukan Jeffrey sangat mirip dengan apa yang dilakukan Indrajit Sardjono dulu, yang tak henti-hentinya melobi para petinggi FIA. IMI menugasi Ajit, Ketua Bidang Luar Negeri PP IMI, “menekan” organisasi pemberi izin dan menentukan di mana kejuaraan dunia itu digelar. Ketika Indonesia ditetapkan sebagai tuan rumah salah satu rangkaian reli dunia, ketika itu pula mata dunia menoleh ke berbagai sudut perkebunan karet dan sawit di sana.

Saya merasakan suasana kebersamaan serta kecintaan terhadap olahraga otomotif, reli khususnya, yang telah membuka pintu lebar-lebar bagi FIA mengizinkan reli dunia digelar untuk pertama kalinya di tanah Sumatera, 12 tahun lalu (Sumatera Utara sudah menggelar seri kejuaraan nasional sejak 1989). Sebuah kerja besar yang membuahkan prospek besar di kemudian hari.

Kini obsesi itu dimunculkan kembali oleh Jeffrey. Namun, saya melihat kawan yang satu ini seolah bekerja sendiri. Saya juga melihat dia seperti tak mendapat dukungan dari orang-orang atau organisasi yang seharusnya menyokong. Saya tak hendak menaruh prasangka ada yang mengganjal proyek besar itu dan tak rela kejuaraan dunia digelar di tanah Makassar. Tapi, mengapa Jeffrey dibiarkan sendiri?

(Koran Tempo, Minggu, 16 November 2008, Ilustrasi Gaus Surahman)