Tag

, , , , , , , ,

Yon Moeis
Wartawan Tempo

Bob Rusli Efendi Nasution tak bakal terlupakan ketika siapa pun bicara tentang olahraga otomotif. Om Bob, begitu kami menyapanya, adalah mantan Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Motor Indonesia (PP IMI). Lelaki kelahiran Padangsidempuan, Sumatera Utara, yang pada 9 Oktober lalu genap berusia 60 tahun itu menjadi orang nomor satu di IMI selama dua periode sejak 1995 hingga 2003.

Entah kenapa tiba-tiba saya teringat Om Bob. Kami pernah menghabiskan malam di Malioboro, Yogyakarta, sambil menikmati burung dara goreng dan ikut larut bersama para musisi jalanan di sana. Kami juga pernah menyantap ikan bakar tak jauh dari Pantai Losari, Makassar.

Tak hanya itu. Saya, juga kita, teringat apa yang sudah dilakukan Om Bob ketika memimpin IMI. Kita tak hanya mengingat dua kali Kejuaraan Dunia Reli di Sumatera Utara (1996 dan 1997), tapi juga ikut menikmati masa-masa indah olahraga otomotif di Tanah Air. Ibarat bunga, kegiatan olahraga otomotif pada zaman Om Bob mekar dan wangi. Pada 1989, Indonesia pernah mengirim Tinton Soeprapto, Dali Sofari, dan Richard Hendarmo mengikuti Reli Paris-Dakar, reli paling ganas di dunia.

Namun, Bob Nasution harus berhenti. Lelaki yang pandai berdendang itu harus meninggalkan IMI, yang kemudian muncul nama Juliari Peter Batubara, yang dikenal dengan panggilan Ari Batubara. Ia memimpin IMI periode 2003-2007.

Ari datang pada saat yang tepat. Anak muda, cerdas, dan semangatnya membara (waktu itu). Ari pun muncul di mana ada kegiatan olahraga otomotif. Ia selalu mendapat kesempatan berpidato sebelum sebuah acara dimulai. Isi pidatonya menandakan ia banyak tahu permasalahan yang ada di dalam tubuh IMI dan juga perkembangan olahraga otomotif yang beda penanganannya dengan cabang-cabang olahraga lain.

Ari ada di mana-mana dan di mana-mana ada Ari. Namun, sayang, kami tak pernah berada dalam satu meja sekalipun hanya menikmati secangkir kopi. Yang saya ingat, kami pernah sama-sama berada di rumah makan Padang Nusantara di Lampung, tapi duduk berjauhan. Hanya, lambaian tangannya, waktu itu, terasa hangat.

Tak terasa empat tahun Ari memimpin IMI. Rentang waktu yang sangat singkat bagi Ari dan pasukannya di IMI untuk berbuat sesuatu. Karena itu, meski harus terkejut, saya mencoba memahami Ari yang ingin memperpanjang jabatannya di Musyawarah Nasional IMI pada Desember mendatang.

Boleh-boleh saja jika Ari Batubara ingin kembali memimpin IMI. Saya dan siapa pun tak boleh menghalangi niat Ari memperpanjang napasnya di organisasi bergengsi ini. Tapi salahkah saya, juga kita, jika ingin tahu apa yang telah ia perbuat selama empat tahun ini?

Kembali saya teringat Om Bob. Ia tak lagi maju ketika memang ia tak boleh maju. Tapi siapa sangka jika Om Bob merelakan kursinya ditempati orang lain yang lebih muda yang ia sendiri tak tahu kualitasnya seperti apa.

Kini, ketika Ari harus turun, mungkinkah apa yang pernah dilakukan Bob Nasution juga dilakukan Ari Batubara, dengan merelakan kursinya diduduki orang yang lebih berkualitas? Jika sangat mungkin, saya yakin lambaian tangan Ari Peter Batubara akan terasa hangat.

(Koran Tempo, Minggu, 11 Nopember 2007)