Tag

, , , , , , , , , , ,

Yon Moeis
Wartawan Tempo

ritaRita Subowo tak memperlihatkan kegelisahan apa-apa ketika berada di Bandar Udara Changi, Singapura, sepulang dari Hanoi setelah mengikuti dari dekat SEA Games Vietnam 2003. Dia hanya menitipkan beberapa bungkus cokelat, setelah itu menghilang di kemegahan bandar udara di Negeri Singa itu.

Saya tidak satu tahun sekali bertemu dengan Ibu Rita—lahir di Yogyakarta, 27 Juli 1948 dengan nama Rita Sri Wahyusih Wibowo. Juga ketika menjadi Ketua KONI/KOI yang dia pegang sejak 2004. Saya terakhir bertemu di Nakhon Ratchasima, ketika SEA Games Thailand 2007 dipusatkan di sana. Selebihnya saya hanya mendengar dari jauh komentar-komentarnya yang sejuk dan terkesan sangat berhati-hati ketika menyikapi masalah-masalah yang muncul di dunia olahraga kita.

Rita Subowo adalah wanita pertama yang memimpin induk organisasi olahraga nasional itu sejak dipimpin Sri Sultan Hamengku Buwono IX pada 31 Desember 1966. Setelah KONI dipimpin Surono, Wismoyo Arismunandar, dan Agum Gumelar, seharusnya Rita bisa “tidur nyenyak” ketika kita masih membicarakan pembinaan olahraga yang berjenjang. Namun, saya merasakan kegelisahan wanita berparas cantik itu ketika satu proyek lagi dimunculkan: Program Atlet Andalan (PAL) bentukan Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga.

Saya tak hendak mempersoalkan kegelisahan Rita, yang seharusnya titik pembinaan ada di dalam organisasi yang dia pimpin. PAL, apa pun namanya, setelah banyak nama proyek yang telah muncul, sangat menarik untuk diikuti. Dulu kita pernah punya Garuda Emas. Setelah itu Indonesia Bangkit dengan target perolehan 10 medali emas di Asian Games Doha 2006 dengan sasaran antara SEA Games Filipina 2005.

Saya tak berani mereka-reka, apalagi mencurigai, ketika PAL dimunculkan. Saya juga tak berani mengatakan bahwa ini sekadar simbol dan mimpi dari target yang tak mungkin kita capai. Jika ini dikatakan sebuah terobosan, boleh-boleh saja, atau mencari sesuatu yang baru. Tapi semua harus jelas dan berbeda dari sesuatu yang pernah kita lakukan.

Bertahun-tahun kita melaksanakan sistem pemusatan latihan nasional yang terpadu dan tepat guna, tapi bertahun-tahun itu pula kita dihadapkan pada hasil pahit, jika tidak dikatakan terus mengalami penurunan. Ini memang tak mudah dijalani tanpa terlebih dulu mencari kelemahan-kelemahan dari proyek yang pernah ada. Pembinaan untuk meraih prestasi tak cukup hanya dengan memiliki atlet andal atau atlet pilihan. Pembinaan untuk meraih prestasi tak cukup hanya dengan menerjunkan atlet dalam satu kompetisi dan berlatih di luar negeri. Tapi lebih dari itu semua.

Gintong Alay, misalnya, adalah proyek yang dijalani Filipina, meniru proyek yang pernah kita buat. Gintong Alay (Mempersembahkan Emas) sasarannya adalah SEA Games Manila 1981. Proyek bikinan Michael Keon, keponakan Ferdinand Marcos, yang kemudian melahirkan ratu atletik Lydia de Vega, itu kemudian dinilai gagal total. Tidak seperti yang pernah dilakukan Thailand. Untuk menatap Olimpiade Beijing 2008, Thailand sudah memasukkan atletnya ke “pelatnas” sejak SEA Games 2001 di Kuala Lumpur. Di Stadion Bukit Jalil, Kuala Lumpur, Malaysia, saya menyaksikan atlet-atlet Negeri Gajah Putih itu pergi ke tempat latihan atau bertanding dengan tas dan jaket bertulisan “menatap pesta olahraga dunia” itu.

Kegagalan dan keberhasilan, milik siapa pun, tentu baik buat kita untuk dipelajari. Penerapan di lapangan, tentu dengan dukungan riset dan teknologi, jauh lebih penting ketimbang memunculkan kecurigaan, yang hanya menghabiskan waktu saja. PAL tak boleh membingungkan. Dia harus jelas. Siapa yang mengendalikan dan siapa yang bertanggung jawab. Jika proyek ini harus berada di satu titik, letakkan titik itu pada tempatnya. Sehingga kita, juga Ibu Rita yang kita cintai itu, bisa tidur nyenyak.

(Koran Tempo, Minggu, 23 November 2008, Ilustrasi Gaus Surahman)