Tag

, , , , , , , ,

Yon Moeis
Wartawan Tempo

Dodi Reza Alex berusaha terbang jauh ketika banyak pengelola masih berkutat dengan kelangsungan hidup klub. Dia terbang dan membuat langkah-langkah awal yang cerdas ketika Sriwijaya FC, seperti juga kebanyakan klub di Indonesia, sedang “sekarat” dan kehabisan dana. Dodi–dia anak sulung Gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin–datang dan membuat upaya penyelamatan agar Sriwijaya tidak mati.

Dodi datang pada saat yang tepat ketika Sriwijaya tak hanya membutuhkan dana segar, tapi juga sistem pengelolaan yang benar. Dia mengambil alih pengelolaan Sriwijaya, yang sebelumnya dipegang Yayasan Sriwijaya FC. Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Sumatera Selatan itu mendirikan PT Sriwijaya Optimis Mandiri (SOM), yang menjadi perusahaan yang menentukan hidup-matinya Sriwijaya. Selasa lalu, kami saling kontak dan pertanyaan pertama yang saya ajukan adalah mengapa dia mau-maunya mengurus sepak bola. Pertanyaan ini tentu saja tidak begitu penting. Tapi dia harus tahu bahwa sepak bola Indonesia adalah hutan belantara. Siapa pun orang yang masuk ke dalamnya, jika tidak siap, pasti tersesat. Mas Dodi, begitu saya menyapanya, memberikan jawaban yang sangat standar dan ringan saja. “Sriwijaya memang harus diurusi,” katanya. “Saya suka sepak bola dan sudah banyak cabang yang saya urusi, hanya ski air yang belum.” Selanjutnya saya berondong dia dengan pertanyaan seputar Sriwijaya dan apa yang dia lakukan untuk klub yang dahulu bernama Persijatim, yang dibeli dari uang rakyat senilai Rp 6 miliar, itu. Jawaban-jawaban pengusaha muda yang lahir di Palembang, 1 November 1970, itu sangat menjanjikan dan pasti. Dia membeberkan rencana-rencananya dengan runtut. Saya senang dibuatnya. Ini baru langkah awal Dodi. Dia belum teruji berada di hutan belantara, yang hanya ada dua pilihan yang bakal dia peroleh di sana: membuatnya semakin senang atau membuatnya pusing. Ini bisa terjadi karena dia harus melihat sepak bola secara utuh. Sepak bola yang bukan hanya soal menang-kalah, sepak bola yang tak hanya memperlihatkan gol-gol indah, atau sepak bola yang tak hanya membuat hati seseorang berbunga-bunga. Tapi sepak bola Indonesia adalah sepak bola yang pasti dia lihat dan rasakan bisa menjungkirbalikkan yang ada. Saya tak mencoba menakut-nakuti suami Hajah Thia Yufada, presenter Metro TV, yang dikaruniai anak kembar, Aletta Khayarra Alex dan Atalie Mazzaya Alex, itu. Dodi pasti sudah menghitung waktu yang harus dia sisihkan untuk mengurus sepak bola. Juga pikiran yang harus dia buang untuk sepak bola. Mengatakan suka sepak bola, buat saya, belum cukup menjamin Dodi akan betah berada di hutan yang bisa menyesatkan itu. Alex Noerdin, ketika masih menjadi Bupati Musi Banyuasin (sebelum terpilih menjadi Gubernur Sumatera Selatan), juga pernah saya tanya soal suka-tidaknya ia kepada sepak bola. Pertanyaan berikut adalah bagaimana sikap Pak Bupati tentang penggunaan dana APBD yang sudah “dinikmati” Sriwijaya FC selama tiga musim kompetisi. “Uang rakyat tidak boleh dipakai membeli pemain asing,” kata Alex Noerdin ketika saya berkesempatan singgah ke Sekayu, awal Mei lalu. Jawaban ini senada ketika saya tanyakan kepada Dodi. “Saya setuju dengan Bapak Gubernur,” katanya (seharusnya Bapak Bupati). Dodi menjamin PT SOM yang dia pimpin akan segera melepaskan diri dari ketergantungan pemakaian dana APBD yang disebut Alex Noerdin sebagai uang rakyat itu. Sriwijaya FC sudah membeli pemain asing dari uang rakyat. Kini, ketika klub yang sudah meraih dua gelar juara Liga dan Copa dalam satu musim itu berada di tangan Dodi, ketika itu pula Sriwijaya harus menjadi klub profesional. Gelar juara memang harus diraih, tapi yang terpenting adalah bagaimana mengelola keuangan klub dan perputarannya terlihat jelas. Mulai hasil jual-beli pemain, penghasilan dari pintu, sampai penjualan cendera mata. Saya percaya Dodi mampu melakukan ini semua dengan baik meski dengan catatan dia harus memiliki pasukan yang tidak mencari makan dari sepak bola. Dia lulus magna cum laude dari Solvay Business School, Universite Libre de Bruxelles, Brussel, Belgia. Dia adalah pengusaha muda sukses di Jakarta. Bisnisnya sama sekali tidak bersinggungan dengan Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin, tempat ayahnya menjadi bupati, maupun setelah menjadi Gubernur Sumatera Selatan sekarang. Dodi bisa menjadi contoh bagaimana mengelola klub sepak bola yang baik dan benar. Ini juga dengan catatan Dodi bisa menikmati bagaimana mengurus sepak bola persis ketika dia menikmati terbang di atas Tsing Ma Bridge, jembatan kabel gantung terpanjang di dunia yang menghubungkan Kowlon dan Lautan Island, pertengahan April 2005. Jika dia menikmati ketika berkesempatan “menerbangkan” Boeing 747-400, tentu dia juga harus menikmati terbang di atas Jembatan Ampera yang melintas Sungai Musi ketika kini dia menjadi pengelola klub sepak bola bernama Sriwijaya FC.

(Koran Tempo, Minggu, 30 November 2008, Ilustrasi Gaus Surahman)